- Home »
- Kencan dengan Ayam dan Kambing ku TerSayang
On Kamis, 27 Maret 2014
Namaku Memed, awas jangan salah menyebut namaku
menjadi memek, ketika itu (tahun 1978) umurku baru 12 tahun, namun
anehnya hasrat seksualku telah begitu kuat, sehingga kadang sulit untuk
diredam. Imajinasiku kadang demikian melambung mengkhayalkan hal-hal
yang tidak layak dipikirkan dan dikhayalkan anak seusiaku. Hasrat
seksual itu sering muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Pernah,
suatu malam ketika keluargaku sedang menonton TV. Kebetulan ruang
nonton TV dalam keadaan gelap, karena lampunya dimatikan, hanya
diterangi oleh cahaya dari layar TV. Menjelang tengah malam semuanya
tertidur, kecuali aku. Aku melihat adikku Tuti, dua tahun di bawahku,
tepat berada di sampingku. Entah kenapa tiba-tiba hasrat seksualku
muncul tiba-tiba. Tanganku merayap, menyibakkan rok yang dipakai adikku,
tanganku perlahan-lahan meraba-raba belahan memek di balik celana
dalamnya, yang tentunya masih bersih belum tumbuh bulu sedikit pun.
Keberanianku semakin muncul, karena tidak ada reaksi dari adikku,
kulepaskan tangan sambil sedikit memiringkan tubuhku dan kucium
bibirnya, tak ada reaksi. Karena khawatir
ketahuan yang lain, apa lagi kalau adikku bangun, kuhentikan
aktivitasku. Namun, debaran dada semakin meledak-ledak, karena hasrat
yang sangat sulit dibendung, tapi rasa takut mengalahkan hasratku yang
meledak-ledak. Bayangan dan hasrat semalam
tenyata masih terbawa sampai esok harinya. Kepala terasa berat, menahan
hasrat yang demikian menekan. Sampai jam empat sore bayangan-bayangan
kejadian malam malah semakin menggila. Akhirnya aku mencari akal
bagaimana melampiaskan hasrat tersebut. Aku pergi ke belakang rumah
dengan maksud untuk bermain sekedar menepis bayangan semalam.
Sesampainya di belakang, aku melihat dua ekor kambing betina. Tiba-tiba
muncul pikiran yang sebelumnya belum pernah singgah, aku dekati kambing
itu dan menatapnya dengan seksama, khususnya bagian belakangnya, bagian
yang tertutup ekornya. Kupegang dan kuusap-usap bagian punggungnya dan
terus ke arah belakang, sementara itu kontolku telah sedemikian ngaceng
di balik celana pendek yang kupakai. Anehnya
kambing itu diam saja ketika memeknya kuusap-usap, seperti menikmatinya.
Selama tanganku meraba-raba memek kambing itu, pandanganku
melihat-lihat jangan-jangan ada orang di sekitar situ dan memergoki apa
yang kulakukan. Lima belas menit kemudian, setelah yakin tidak ada
orang, kubuka resleting celanaku perlahan-lahan dan mengeluarkan
kontolku yang telah sedemikian ngaceng. Kontolku langsung keluar, karena
memang aku tidak pernah memakai celana dalam. Aku mulai memakai celana
dalam setelah aku kelas tiga SMP, dua tahun kemudian. Perlahan-lahan
kudekatkan kontolku dan kugosok-gosok ke memek kambing itu. Perasaan
enak terasa di ujung kontolku, entah mengapa, mungkin karena imajinasiku
membayangkan bahwa memek yang sedang kugesek-gesek itu adalah memek
adikku. Setelah merasa puas menggosok-gosok kontolku, kumasukkan
pelan-pelan kontolku ke dalam memek kambing betina itu, hingga akhirnya
masuk semua. Ketika kontolku telah masuk
semua, kambing itu mengembik, namun suaranya terasa agak lain, lebih
menyerupai erangan. Kukocok pelan-pelan, takut mbek itu berontak dan
kabur, karena tidak diikat. Namun kambing itu tetap diam, malah terasa
kambing itu seperti menggoyang-goyangkan pantatnya dan menekan badannya
ke arah belakang, sehingga kontolku semakin dalam memasuki memek kambing
itu. Sambil mengocok kontol, mulutku menyebut-nyebut nama adikku,
kadang teman-teman perempuan sekelasku, dan siapa saja perempuan yang
melintas dalam ingatanku. "Oohh.. Tuti, memekmu enak sekali... oh Mirna.. Henceutmu gurih, oh Maryam sayangku.." Aku
semakin mempercepat kocokan kontolku. Mungkin karena baru pertama
melakukan itu dan imajinasiku yang semakin menggila, tidak lama terasa
ada sesuatu mendesak dari dalam perutku yang mengarak ke arah kontolku.
Seluruh badanku terasa merinding menahan nikmat yang sulit untuk
dikatakan. Dan akhirnya, crot-crot.. Entah berapa kali. Kutekan tubuhku
dengan menarik tubuh kambing bagian belakang karena takut jatuh, badanku
terasa lemas. Setelah agak lama aku membiarkan kontolku di dalam memek
kambing itu, kucabut perlahan, terasa linu namun sangat-sangat enak.
Setelah kejadian itu, bila hasratku kembali muncul aku mendatangi
kambing itu. Dan kulakukan itu hampir tiap hari. Tiga
bulan kemudian, sepulang sekolah ketika hasratku kembali muncul karena
di sekolah melihat temanku yang pingsan dan dengan tidak sengaja melihat
celana dalamnya, hasrat seksualku muncul sedemikian kuat. Aku pergi ke
belakang rumah tempat biasanya sang kambing merumput, aku tidak
menemukannya di sana. Kucari ke tempat lain di sekitar rumahku juga
tidak ada. Di antara rasa penasaran, heran dan hasrat seksual yang
demikian kuat, kutanyakan kepada ibuku. Ia mengatakan bahwa kambing itu
setelah aku pergi sekolah dibawa ayah untuk dijual ke Pak Lurah.
Walaupun penasaran aku tidak bisa bilang apa-apa, namun demikian
ternyata tidak juga menyurutkan hasrat seksualku. Aku kembali ke
belakang rumah, mencari akal untuk melampiaskan hasratku yang tidak
kunjung terpuaskan. Tak jauh di belakang
rumahku terdapat kebun yang ditumbuhi tanaman jagung, luasnya hampir
lima hektar. Di situlah biasanya aku bermain. Aku biasanya bermain
sendirian, entah mengapa aku tidak begitu suka main dengan teman sebaya.
Sesampainya di tengah-tengah kebun jagung, di antara pohon-pohon jagung
aku duduk sambil meluruskan kaki. Tanpa sadar tanganku mengusap-usap
kontolku dari luar celana. Karena asyiknya, tanpa kuketahui tiba-tiba di
depanku ada seekor ayam betina yang sedang mencari makan. Entah pikiran
dari mana, tiba-tiba aku punya pikiran untuk menyetubuhi ayam itu. Pelahan-lahan
sambil mengendap-endap kudekati ayam itu, dan kutangkap. Ternyata ayam
itu milik orang tuaku. Karena aku biasa memberinya makan sehingga ayam
itu dengan mudahnya kutangkap, walau pun tetap saja mau melepaskan diri,
mungkin karena merasa diganggu saat sedang enak-enaknya makan. Ayam
itu kuusap-usap kepala dan punggungnya supaya diam. Setelah tenang,
kubuka resleting celanaku dan kukeluarkan kontolku. Sambil kupegang ayam
itu dengan kedua tanganku, pelan-pelan kudekatkan pantat ayam itu ke
kepala kontolku, dan kutekan pelan-pelan. Karena kontolku sedemikian
ngacengnya dan keras, sedikit demi sedikit kontolku masuk ke dubur ayam
itu, terasa sulit dan pedih-pedih enak, namun kutekan terus. Ayam itu
berontak dan berkotek-kotek serta berusaha melepaskan diri. Kupegang
lebih kencang karena takut lepas, sambil ditekan lebih kuat. Akhirnya
seluruh kontolku masuk. Ayam itu tetap berkotek dan berusaha melepaskan
diri. Pelan-pelan ayam itu kuangkat sedikit
dan kutekan kembali perlahan-lahan dan akhirnya semakin kencang. Aku
ingin cepat-cepat menyelesaikan 'proyek' kecil yang mengasyikkan namun
menegangkan itu. Tak lama kemudian seluruh badanku terasa merinding
menahan nikmat yang sulit untuk dikatakan. Dan akhirnya, crot-crot..
Kutekan ayam itu ke belakang supaya kontolku masuk lebih dalam. Setelah
agak lama aku membiarkan kontolku di dalam dubur ayam itu, kucabut
perlahan, terasa linu namun sangat-sangat enak. Ternyata, betul kata
pepatah, tak ada perempuan, kambing dan ayam pun jadilah.. ***** Suatu
hari, entah iblis mana yang mengantarkanku ke pengalaman yang
benar-benar aneh. Aku bermaksud mengembalikan buku yang kupinjam dari
salah seorang teman sekolahku, seorang perempuan, Yuli namanya. Ia anak
tetanggaku yang paling dekat dengan rumahku, oleh karena itu aku agak
berani meminjam buku. Ketika sampai di rumahnya, yang kutemukan hanya
ibunya yang sedang menjemur pakaian. Kutanyakan padanya, ia bilang bahwa
Yuli sedang bermain di belakang rumah atau paling di saung di kebun
singkong, sedang main dengan anjingnya. Aku
pergi ke belakang rumah Yuli, kucari-cari tidak ada. Lalu aku masuk ke
kebun singkong tidak jauh dari situ. Kulihat tak jauh ada sebuah saung.
Kudekati, tapi kudengar suara keluhan atau tepatnya erangan yang sangat
halus, namun kadang-kadang terdengar agak memburu. Aku heran dan
penasaran. Kuintip dari arah belakang saung melalui lubang yang agak
lebar. Kulihat Yuli sedang duduk, tapi rok bagian bawahnya terangkat ke
atas, dan tampak di bawahnya seekor anjing, kutahu nama anjing itu
Bleki, sedang menjilat-jilat kemaluan si Yuli. Mata si Yuli tampak
terpejam, dan mulutnya mengeluarkan suara seperti mengerang keenakan. Aku
heran akan tetapi entah bagaimana tiba-tiba nafsu birahiku muncul
dengan tiba-tiba dan kontolku terasa tegang. Pelan-pelan aku melangkah
ke depan saung dan perlahan masuk ke saung itu. Aku membungkuk dan
melihat apa yang dilakukan anjing itu. Tampak memek si Yuli telah
memerah dan basah oleh air liur anjing itu. Memeknya tampak masih bersih
tanpa sehelai pun rambut. Pelan-pelan anjing itu kuusap-usap dan
kusingkirkan, dan cepat-cepat kugantikan tugas yang sedang dilakukan
anjing itu. Aku meniru apa yang dilakukannya terhadap memek Yuli. "Ehm.. Ohh.." Terdengar
Yuli mengerang agak kencang. Pelan-pelan kuraba memek Yuli, dan kubuka
belahannya. Tampak warna merah muda yang sangat membangkitkan nafsu
birahi itu terpampang di depanku. Berbeda dengan memek kambing apalagi
dubur ayam. Yang ini benar-benar lain dan sungguh indah. Aku semakin
semangat menjilat-jilatnya. Semakin lama erangan Yuli semakin sering. Tiba-tiba rambutku terasa ada yang memegang dan kepalaku semakin ditekannya kuat-kuat. "Oohh.. Enak.. Shht..!!" Aku semakin bersemangat. Tiba-tiba kepalaku dicengkeram dan digoyang-goyang, terdengar Yuli berkata seperti terkejut.. "Siapa itu..?" Aku menghentikan aktivitasku dan menengadahkan kepalaku, tampak Yuli terkejut.. "Apa
yang kamu lakukan?" Tanya Yuli, tapi anehnya seperti tidak ada kesan
yang memperlihatkan rasa malu, hanya keheranan. Melihat itu, muncul
keberanianku.. "Menikmati memekmu.." "Oohh... kamu suka?" "Suka sekali.. Lalu?" jawabku. "Bagaimana kalau kita lanjutkan?" tanya Yuli. "Boleh?" aku bertanya tak percaya. "Heem.. Tanggung, tapi jangan bilang-bilang siapa ya?!" "Ya.." jawabku sepat. "Sini lihat kontolmu..!" kata Yuli enteng. Kubuka
resleting celanaku dan kubuka celanaku. Maka keluarlah kontolku yang
sejak tadi sudah tegang dan keras. Yuli memegangnya dan menariknya. Aku
meringis kesakitan. "Pelan-pelan dong..!" kataku. "Aku
sudah nggak tahan.. Ohh" ia berkata setengah mengerang.. Ditariknya
perlahan kontolku dan diletakkannya ke memeknya dan digosok-gosoknya. "Tekan-pelan-pelan Med..". Aku
menekannya pelan-pelan, tapi tiba-tiba tumitku yang terlipat menindih
batu yang agak runcing, aku kaget karena sakit. Gerakanku yang tiba-tiba
menekan kontolku, sehingga.. Bless... Ahh.. Aku dan Yuli melenguh
berbarengan. Anehnya kontolku bisa masuk dengan lancar. Dan akhirnya
seluruh batang kontolku masuk ke dalam memek Yuli. Terasa kenikmatan
yang sangat berbeda jauh dengan memek Kambing apalagi dubur ayam.
Hangat, basah dan terasa lebih lembut. Setelah dibiarkan beberapa lama,
aku menarik dan menekan secara perlahan, akan tetapi Yuli tampak liar
menggoyang ke kiri dan ke kanan secara bersamaan juga mendorong dan
menarik.. Luar biasa, gadis kecil ini belajar
dari mana? Karena gerakan Yuli begitu atraktif, aku tak tahan lagi, dan
tak lama kemudian.. Crot.. Crot.. Aku mengeluarkan spermaku di dalam
memek Yuli.. Dan tampak Yuli pun mengerang dengan kuat.. Orgasme.
Akhirnya kami berdua ambruk di saung itu. Setelah agak lama, aku
berkata... "Kamu hebat dan tampaknya sudah berpengalaman". "Ya, berkat kamu dan si Bleki" "Maksudmu?" tanyaku heran. "Aku
melihat kamu sering ngentot dombamu itu, aku sering mengintipmu. Karena
penasaran aku coba dengan anjingku, yakh karena aku tidak punya kambing
sepereti kamu" "Oohh.." aku bergumam.. Sejak
saat itu, aku sering bermain dengan Yuli, baik di saung maupun di kebun
jagung belakang rumahku. Pengalaman yang benar-benar aneh.. TAMAT
