- Home »
- Cerita Sex dengan Tante Rahayu
On Kamis, 27 Maret 2014
Aku adalah penulis cerita Gairah Sesama
Jenis. Sebenarnya percintaanku dengan Ira yang kutulis bukanlah yang
pertama kulakukan dengan sesama jenis. Bahkan aku adalah seorang
avonturir atau petualang cinta. Anyway, aku ingin menceritakan
pengalaman seks-ku yang pertama (bahkan sebelum aku melakukannya dengan
cowok), justru dari teman baik ibuku sendiri. Peristiwa yang tak kuduga
ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 1 SMA, ketika aku
masih tinggal di Yogya, di belakang Hotel M**** (edited), terusan
Malioboro.
Teman
Ibuku itu bernama, Ibu Rahayu, biasa dipanggil dengan Ibu Ayu dan aku
sendiri memanggilnya Tante Ayu. Karena hubungan yang sudah sangat dekat
dengan Tante Ayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku.
Tante
Ayu wajahnya sangat cantik, wajahnya tampak jauh lebih muda dari Ibuku
karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Tante Ayu ketika itu
sekitar 28 tahun. Selain cantik, Tante Ayu memiliki tubuh yang langsing,
namun padat dan seksi.
Kejadian
ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus
pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena aku dan
Tante Ayu cukup dekat maka aku minta kepada ibuku untuk menginap saja di
rumah Tante Ayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Dan
kebetulan suami Tante Ayu juga sedang di luar kota, karena memang
suaminya sering sekali ditugaskan ke luar kota, sehingga Tante Ayu
sering sendirian di rumah.
Hari-hari
pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria atau
shopping berdua dengan Tante Ayu, sering juga kami bermain bermacam
permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Tante Ayu orangnya
sangat pintar bergaul dengan siapa saja. Ketika suatu hari, sehabis
makan siang, tiba-tiba Tante Ayu berkata kepadaku, "Sar.. kita main
dokter-dokteran yuk.. sekalian Sari Tante periksa beneran, mumpung
gratis.." Memang kata Ibuku, dahulu Tante Ayu pernah kuliah di fakultas
kedokteran namun putus di tengah jalan karena menikah. "Ayoo.." sambutku
dengan senang hati.
Kemudian
Tante Ayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari
lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya
ketika kuliah dulu. "Nah Sar, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di
ranjang," bisik Tante Ayu. "Baik Tante," kataku, lalu aku membuka
kaosku, dan mulai hendak berbaring. Namun Tante Ayu bilang, "Lho..
BH-nya sekalian dibuka dong, biar Tante gampang meriksanya.." Aku yang
waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini
terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal. "Wah.. kamu memang
benar-benar cantik Sar.." kata Tante Ayu. Kulihat matanya tak berkedip
memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.
Setelah
terlentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Tante
Ayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di
dadaku, rasanya dingin.., lalu Tante Ayu menyuruhku bernafas sampai
beberapa kali, setelah itu Tante Ayu mencopot stetoskopnya.
Kemudian
Tante Ayu tersenyum kepadaku, sambil tangannya menyentuh lenganku, lalu
mengusap-usapnya dengan lembut, "Waah.. kulit kamu halus ya, Sar.. Kamu
pasti rajin merawatnya," katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan
sentuhan dan usapan lembut Tante Ayu. Kemudian usapan Tante Ayu bergerak
naik ke pundakku. Setelah itu tangan Tante Ayu merayap mengusap
perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan
Tante Ayu benar- benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku
mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu
tanganku merinding dibuatnya.
Lalu
Tante Ayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih
mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.. baru
kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut dan
geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Tante Ayu
menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini
perbuatannya. Tapi kemudian Tante Ayu bergerak ke arah kakiku. "Nah..
sekarang Tante periksa bagian bawah yah.." katanya. Setelah diusap-usap
seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa
mengangguk pelan saja.
Saat
itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Tante Ayu menarik
dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati, "
Ih.. Tante, kok celana dalam Sari dibuka..?" kataku dengan gugup. "Lho..
khan mau diperiksa.. pokoknya Sari tenang aja.." katanya dengan suara
lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Tante Ayu penuh
dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat
apa-apa.
Setelah
celana dalamku diloloskan oleh Tante Ayu, Tante Ayu duduk bersimpuh di
hadapan kakiku. Tante Ayu tak berkedip menatap liang kewanitaanku yang
masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis.
Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di
atas pahanya. Lalu Tante Ayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan
lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba
pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.. aku jadi merinding
rasanya. "Tante.." suaraku lirih. "Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu
merasa enak.." katanya sambil tersenyum.
Tante
Ayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak
karuan rasanya. Kemudian, dengan jari telunjuknya yang lentik, Tante Ayu
menggesekkannya ke bibir kemaluanku dari bawah ke atas, "Aaahh..
Tantee.." jeritku lirih. "Ssstt.. hmm.. enak kan..?" katanya. Mana mampu
aku menjawab, malahan Tante Ayu mulai meneruskan lagi menggesekkan
jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin nggak karuan, aku
menggelinjang-gelinjang, mengeliat-ngeliat kesana-kemari. "Ssstthh..
aahh.. Tante.. aahh.." eranganku terdengar lirih, dunia serasa
berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Liang
kewanitaanku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar
terangsang sekali.
Setelah
Tante Ayu merasa puas dengan permainan jarinya, Tante Ayu menghentikan
sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku
yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah.
Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia
mengecupku dengan lembut, rasanya geli-geli, lembut dan basah. Namun
Tante Ayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil
memainkan lidahnya. Hii.. rasanya jadi makin geli apalagi ketika lidah
Tante Ayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara
naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Tante Ayu saling
bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.
Kemudian
Tante Ayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah apa lagi
pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh.. gila.. Tante Ayu menyeruakkan
kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku diletakkan di atas pundaknya,
sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Tante Ayu.
Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Tante Ayu mulai menjilati bibir
kemaluanku. "Aaa.. Tantee..!" aku menjerit, walaupun lidah Tante Ayu
terasa lembut, namun jilatan Tante Ayu itu terasa menyengat liang
kewanitaanku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Tante Ayu justru
menjilati habis-habisan bibir kemaluanku, lalu lidahnya masuk ke dalam
liang kewanitaanku dan menari-nari di dalam liang kewanitaanku. Lidah
Tante Ayu mengait-ngait kesana-kemari menjilat-jilat seluruh dinding
kemaluanku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, menjerit-jerit tidak
karuan, "Aaahh.. Tantee.. aa.. auu.. aahh..!" Aku
menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana-kemari
merasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan yang amat sangat. Namun
Tante Ayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga
walaupun aku menggeliat kesana-kemari, namun Tante Ayu tetap mendapatkan
yang diinginkannya.
Jilatan-jilatan
Tante Ayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, liang
kewanitaanku sudah benar-benar banjir dibuatnya, membuat Tante Ayu
menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap,
menyedot-nyedot liang kewanitaanku. Cairan lendir liang kewanitaanku
bahkan disedot Tante Ayu habis-habisan. Sedotan Tante Ayu di liang
kewanitaanku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.
Kemudian
Tante Ayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka
bibir kemaluanku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak
tahu apa maksud Tante Ayu, rupanya Tante Ayu mengincar klitorisku. Tante
Ayu menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya klitorisku, "Aaahh.." tentu
saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena
ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku
merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Tante Ayu malah menekan
pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus
menjilati klitorisku sambil dihisap-hisapnya, "Aaa.. aauuhh.. aahh..!"
jeritku semakin menggila.
Tiba-tiba
aku merasakan sesuatu yang amat sangat, yang ingin keluar dari dalam
liang kewanitaanku, seperti mau kencing, dan aku tak kuat menahannya,
namun Tante Ayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot klitorisku
dengan kuatnya sehingga, "Tantee.. aahh..!" tubuhku terasa tersengat
tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat
pipi Tante Ayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku
bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan liang kewanitaanku, banyak
sekali dan tampaknya Tante Ayu tidak menyia- nyiakannya, disedotnya
liang kewanitaanku, dihisapnya seluruh cairan yang keluar dari liang
kewanitaanku. Tulang-tulangku terasa lolos, lalu tubuhku terasa lemas
sekali.
Tante
Ayu kemudian memelukku, lalu mengecup bibirku. "Gimana Sar.. enak
khan..?" Namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal
satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku tidak
percaya bisa diperlakukan begini oleh Tante Ayu, dan tidak pernah
kusangka, karena sehari-hari Tante Ayu tampak begitu cantik dan anggun.
Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Tante Ayu.
Setelah
kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang,
perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu
itu, saat aku bangun dari tidurku Tante Ayu telah berupaya menenangkanku
dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok
rasanya aku jadi kepengin lagi, abisnya kalau diingat-ingat sebenarnya
enak sich hi.hi.hi.. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Tante
Ayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol
kesana-kemari, sampai akhirnya Tante Ayu menawarkan lagi untuk main-main
seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk
malu-malu.
Begitulah
kisah pengalamanku, ketika pertamakali aku merasakan yang namanya seks.
Setelah pengalamanku dengan Tante Ayu itu barulah aku mulai bertualang
dimana akhirnya aku mau mencoba bercinta dengan lain jenis.
