- Home »
- Cerita Sex dengan Chika Pacarku Manis
On Kamis, 27 Maret 2014
Aku
Ian lahir di Manado, umur 27 thn masih belum nikah. Melalui cerita ini
aku ingin berbagi pengalaman sex aku dengan Chika pacarku yang cantik.
Hubungan
kami dimulai saat Chika masih dibangku SMU.Kami jadian setelah Chika
putus dengan pacarnya sebelumnya sedangkan aku sebenarnya masih ada
hubungan dengan pacar aku waktu itu. Namun setelah beberapa waktu
pacaran dengan Chika akhirnya aku meninggalkan pacarku itu.
Lanjut saja,.. aku ingin menceritakan pengalaman sex pertama dengan dia. Waktu itu dia masih duduk di SMU,
dan masih kelihatan lugu. Pada waktu itu ada acara peringatan hari
Nasional di sekolahnya sehingga semua siswa di sekolahnya mengikuti
upacara bersama. Setelah upacara tersebut ada kegiatan-kegiatan
lanjutan, namun semalam kita sudah buat janjian untuk ketemu disamping
sekolahnya.
Pagi
itu setelah tidak lama menunggu akhirnya Chika muncul juga dengan
seragam sekolahnya untuk menemui aku di tempat janjian. Selanjutnya kami
meninggalkan sekolahnya, rencananya kami akan jalan-jalan di mall.
Namun karena dia masih menggunakan seragam sekolah akhirnya dia minta
ditemani ke rumahnya untuk mengganti seragamnya.
“Ke rumahku dulu ya…” katanya.
“Kenapa??” kataku
“Ganti baju dulu dong…”ujarnya manja.
Aku
menurut saja ke rumahnya dalam perjalanan aku sempat memperhatikan
Chika yang sepertinya masih malu-malu denganku mungkin karena belum lama
jadian dan baru kali ini ke rumahnya. Sesampai di rumahnya kami
mendapati rumah itu sedang kosong, kedua orang tuanya sedang di tempat
kerjanya begitu juga dengan kakak perempuannya juga sedang ke tempat
kuliahnya.
Sampai
dirumah dia mempersilahkan aku duduk, sambil mengeluarkan minuman.
Selanjutnya kami berbincang-bincang singkat di ruang tamunya maklum baru
jadian.
Saat
itu aku memperhatikan Chika yang sangat cantik, dengan kulit mulus
kuning langsat, rambut kuning agak pirang kemerah-merahan karena dicat.
Selanjutnya aku lebih memperhatikannya mendetail mata seksi yang
menantang, bibirnya mengundang nafsu untuk melumatnya.
Aku
mulai tidak tahan melihat keindahan di depanku ini, akhirnya aku
memberanikan diri untuk menciumnya. Ternyata Chika yang saat itu duduk
berdampingan denganku langsung merespon bibirku yang saat itu mulai
menciumi pipinya sambil memejamkan matanya. Melihat itu aku tidak
menyia-nyiakan kesempatan langsung ku ciumi bibirnya yang terbuka saat
aku menciumi pipinya. Aku melumatnya dengan lembut, menggigit dan
menghisap bibir dan lidahnya bergantian, Chika yang saat itu telah
terpancing birahinya juga menciumiku dengan penuh nafsu, nafasnya agak
tersengal-sengal mungkin karena menahan nafsunya. Selanjutnya tanganku
mulai turun ke dadanya, dia diam sampil terus menciumi aku. Satu persatu
kancing seragam putihnya kulepas, dia seperti mengiyakan dengan
membusungkan dadanya. Akhirnya lepas juga bajunya dan aku lanjutkan
dengan BH-nya, memeluknya menciumi lehernya sambil membuka BH hitam-nya.
Terlihat Chika semakin bernafsu, matanya meram merasakan sensasi ciuman
di leher dan turun ke dadanya. Roknya pun akhirnya kulepas, begitu juga
dengan kaos dan celana yang aku pakai akhirnya semua lepas. Chika
tinggal mengenakan celana dalam berwarna hitam seragam dengan BH-nya.
Aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, menjilatnya dengan lembut, dari
wajah turun ke payudara dan ke putingnya yang kelihatan memerah dan
kencang, berulang-ulang hingga membangkitkanbirahinya. Aku melanjutkan
menjilati perutnya yang langsing. Sementara itu Chika kelihatan semakin
terangsang, dia memegangi kontolku yang masih dalam sangkarnya dan
menegang seperti tiang bendera, mengelus-elusnya dengan halus dan
semakin kasar seirama nafsunya yang semakin meninggi. Akhirnya aku tiba
di daerah vaginanya aku jongkok sedang dia duduk
bersandar, sambil membuka celana dalamnya aku mulai mempermainkan lidah
aku pada daerah klentit vaginanya yang merekah. Chika semakin bernafsu
dia terengah-engah berusaha menahan luapan birahinya yang telah melewati
alam sadarnya.
“Aku.. tidak.. tahan… Ian…” Ujar Chika.
“Keluarkan saja” aku mempersilahkan dia menikmati sensasi yang luar biasa itu.
“Uuuh.. aahh.. eehhh..eehhh..” Chika mengerang.
Perlahan-lahan
vaginanya basah dengan cairan yang keluar dari dalamnya, pertanda dia
terangsang. Selanjutnya sementara dia mengerang menikmatinya aku,
menuntun tangannya ke kontol aku yang sudah aku keluarkan dari
sangkarnya. Dia meremasnya dan mengocoknya perlahan-lahan, aku merasakan
semakin meninggi, akhirnya kontol aku perlahan-lahan menyentuh bibirnya
yang seksi dan masuk ke mulutnya. Terasa sensasi yang nikmat saat
lidahnya yang imut itu mempermainkan penis aku yang mulai mengeluarkan
cairan pelumasnya. Dimasukan dan dikeluarkan perlahan dan semakin cepat,
selanjutnya dia mulai menjilati ujung penis aku yang telah berwarna
merah muda, geli, nikmat dan luar biasa saat lidahnya menjilati bagian
bawah ujung penis aku aku menutup mata menikmati sensasi itu.
“Uuuh.. eehhh.. terus chik.. nikkmaat…” ujarku.
“Kau suka??” katanya sambil terus menjilatinya dan menatap dengan menengadah keatas karena saat itu aku dlm posisi berdiri.
“He-eh” ujarku mengangkuk.
Dia
melanjutkan menjilatinya sementara tangan kirinya menahan batang penis
dan tangan kanannya meremas-remas biji penis aku yang menggantung.
“Aku sudah tak tahan Ian…” ujar Chika.
Akhirnya
dia duduk terlentang sambil mengangkang, dia terus memegang penisku dan
aku mengerti maksudnya. Aku mulai memainkan penis aku di mulut
vaginanya. Dia terlihat menikmati usapan-usapan penisku di bibir
vaginanya, terlihat kembali keluar cairan dari memeknya itu, yang
pertanda Chika semakin terangsang.
“Eeeeeehhhh…eehhhh…”kembali Chika mengerang.
Merasakan
semakin lembutnya bibir vagina itu aku balas menjilatinya, lidahku
kupermainkan diujungnya dan coba aku teroboskan ke bagian dalamnya yang
berwarna pink.
“Ian, udah gak tahan nihh…. uuuhh…” Chika memintaku untuk melanjutkan dengan tahapan selanjutnya.
Saat
itu juga penis ukuran >15 cm ku yang telah tegang dan basah dengan
cairan putih bening kumasukkan ke dalam liang vaginanya yang masih
terasa sesak. Dengan dibantu cairan dari penisku dan dari vaginanya,
batangku masuk perlahan-lahan ke dalam lubang rahasianya yang ternyata
masih perawan, darahnya keluar setelah permainan kami yang kedua.
“Auw… aduuuhh.. pelan-pelan ian.. sakit…..” ujar Chika.
“He..eh akung…”kataku.
Chika
mengerang dan kejang-kejang, badan dan kakinya menegang sementara
tangannya memelukku, saat batang penisku mulai bermain didalam liang
vaginanya.
Selanjutnya
kami merubah posisi, dia menelungkup di kursi dengan tangannya menahan
badannya sementara itu aku mulai kembali menerobos memeknya yang merekah
dengan senjata rahasiaku dari belakang, mirip doggy style. Sementara
tangan kiriku meremas payudaranya yang berukuran 34A, dan jari tengah
tangan kananku memainkan klentit vaginanya.
“A..duuuh.. geli.. ahh.. ahh.. uhh..ehhh.” erang Chika.
Setelah bermain sekian lama dengan berbagai gaya secara refleks, Chika mulai merasakan Orgasme, begitu juga dengan aku.
“Aku mau sampai ian…” katanya.
“Aku juga…” tambahku.
“Heeii jangan didalam…… takut hamil…” ujar Chika.
“He..eh’ jawabku sambil mempercepat genjotan penisku didalam vaginanya, terasa vaginanya mulai becek, karena Chika orgasme.
“Aaah
nikmat Ian… terus..terus uuhh…eeehh…eeehhh.” Ujar Chika sambil membantu
menggoyang-goyang pinggulnya, sepertinya dia telah mahir.
Saat
itu penisku siap untuk mengeluarkan pelurunya, secepatnya aku
menariknya keluar dari dalam memeknya dan mengarahkan ke perutnya. Aku
mengocok penisku dengan cepat sementara Chika dengan refleks
meremas-remas kedua bolanya yang menggantung.
“Aaaaaaaaaaahhhh….Eeeaaaaaaahhh..eeaaaaaaahh”
aku mengerang menahan teriakku menikmati sperma yang keluar dan muncrat
menembak-nembak dengan kencang ke perut hingga leher Chika.
Aku terjatuh lemas memeluk tubuhnya yang lemas duluan dengan cairan sperma yang baunya seperti pandan.
“Thanks Chik.. “ bisikku beberapa saat kemudian, terdengar romantis.
Dia mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum puas.
Kami
selanjutnya membersihkan diri di Kamar Mandi Kamarnya, setelah itu kami
melanjutkan permainan kedua, dan saat permainan itu keluar darah
perawan dari vagina Chika.
Begitulah selanjutnya kami sering melakukannya.
***
Hingga
saat ini kami masih pacaran, namun kami dipisahkan oleh tuntutan
aktivitas dan kerjaku yang saat ini di Jayapura sedang dia di Manado.
Selama pacaran dengan dia aku juga punya pengalaman lain dengan
teman-teman wanitaku yang akan saya ceritakan di kisahku yang lain.
Saat
ini aku telah berada disini hampir 3 bulan, dan selama ini aku belum
pernah melakukan hubungan seks, mungkin karena kurangnya kesempatan
serta belum ada yang pas. Rasanya menyiksa dan aku sangat ingin untuk
kembali merasakan sensasi dalam berhubungan seks, mungkin karena telah
terbiasa.
