Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU,
ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada
dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah). Di SMU aku termasuk
sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup
proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang
serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas
karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. Aku
pertama mengenal seks dari pacarku yang tak lama kemudian putus,
pengalaman pertama itu membuatku haus seks dan selalu ingin mencoba
pengalaman yang lebih heboh. Beberapa kali aku berpacaran singkat yang
selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan seksku,
aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak
berkutik kehabisan tenaga.
Ketika itu aku belum diijinkan untuk
membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku
mempekerjakaan Bang Tohir sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap
pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi
besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di
bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan).
Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku
sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di
kotaku. Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang
melihat ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku,
aku sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti
apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu
mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang,
aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.
Obsesiku
yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar
terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru
bubaran pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir
dimana Bang Tohir sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan
menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan
agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu
juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah
tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra
kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.
"Non gak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok" hiburnya
Waktu
itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti
biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil
dan mengunci pagar aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai
dua. Di kamar, dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar
aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan
berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang
putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu
kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap.
Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang
tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu
ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi
memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap
makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.
"Sshh.. Bang" desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.
"Tenang
Non.. saya sudah dari dulu kesengsem sama Non, apalagi kalau ngeliat
Non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat Abang ngeliatnya juga"
katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan
jarinya.
Tohir mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya
masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar
menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei dan kepala Tohir
yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu
menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan
hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang
vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis.
Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya
libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum
melakukannya lagi.
Sesaat kemudian, Tohir menarik kepalanya
keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik
lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang
sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap. Dia
dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan
lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin
bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik
bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.
"Non, teteknya
bagus amat.. sama bagusnya kaya memeknya, Non marah ga saya giniin?"
tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.
Aku
hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan
pada daerah sensitifku. Tohir yang merasa mendapat restu dariku menjadi
semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi
juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan
diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan
putingnya yang mungil.
Aku merasakan benda keras di balik
celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Tohir kelihatan sangat
bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan
terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai
meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi
leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku
merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku
hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit
pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor
kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku
meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit
yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat
eranganku, dia menciumiku dengan gemas.
Pada awalnya aku
menghindari dicium olehnya karena Tohir perokok jadi bau nafasnya tidak
sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku.
Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu
langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga
lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga
bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani
memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Tohir
melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka
celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah
menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar
dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding
milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Dengan tetap memakai
kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku
mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun
tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis
ukurannya.
"Ayo Non, emutin kontol saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non" katanya.
Kubimbing
penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah
sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari
penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu
lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke
mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku
turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.
"Uaahh..
uueennakk banget, Non udah pengalaman yah" ceracaunya menikmati
seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik
memelintir dan memencet putingku.
Setelah lewat 15 menitan dia
melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat
orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega
karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia
berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan penis terarah ke
vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga mengganga lebar siap
dimasuki dan tangan yang satunya membimbing penisnya menuju sasaran.
"Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan" katanya.
Penisnya
yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku
memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat
gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair.
Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya
dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu
ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.
Tohir memaksanya
perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku
sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih.
Ternyata si Tohir lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi
sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah
berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun
belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat.
Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin
dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk
semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya
berhenti sebentar, namun Tohir yang sudah kalap ini tidak
mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku
dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur
baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.
"Oohh.. Non Citra, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!" ceracaunya di tengah aktivitasnya.
Dengan
tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh
tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan,
otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti
kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan
dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya
yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan
pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher
dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan
bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat
vaginaku terasa diobok-obok.
"Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang" desahku dengan mempererat pelukanku.
Aku
mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku
melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang
dengan dahsyat, kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku
mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda
dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, "Non cantik banget waktu
keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya
bukain bajunya yah Non, udah basah gini".
Aku cuma bisa
mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku
sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi
AC-nya tidak kunyalakan. Tohir meloloskan pakaianku satu persatu, yang
terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga
kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin
yang melingkar di jariku.
Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang
sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang
terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang
bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan
tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku
memamerkan vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Tohir
mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku,
dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara
tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke
arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum
waktu lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya
kurasakan membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa
di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku
mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke
bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi
rasa nikmat.
Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan
kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang,
ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala
penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan
kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat
dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding
kemaluanku.
"Oouuhh.. Bang!" itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.
Dia
mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun
semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila,
suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan
ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada
payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan
kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang
diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
Aku
menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya
yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia
ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak,
kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya.
Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia
menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens
menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya
dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah
mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak
terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat
tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.
Mengetahui aku
sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan
berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan
dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan
nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri
masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya
woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang
bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam
posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku
kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras,
menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga
kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat
meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku
mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga
keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.
Tohir
sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku,
penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak,
dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku.
Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas
dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai
lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang
juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah
berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku
yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka
lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka
ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.
Sejak
saat itu, Tohir sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada
kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku
mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona
majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’
pun dia memaksaku. Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil
belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia
mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan ortuku
sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya
dia nekad memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar
ortuku letaknya agak berjauhan dariku. Meskipun begitu aku selalu
mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku
dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau
membuang di luar. Tiga bulan kemudian Tohir berhenti kerja karena ingin
mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku
sudah lulus SMU dan sudah diijinkan untuk membawa mobil sendiri.
TAMAT
- Home »
- Cerita Sex Bersama Sopirku
On Kamis, 27 Maret 2014
Ini
pengalamanku dengan anak kelas 6 SD. Aku tuh paling suka sama anak
sekitar kelas 6 SD sampai 2 SMP. Kalau aku sendiri adalah mahasiswa
tingkat satu di Bandung. Ceritanya pada waktu itu aku sedang jalan-jalan
ke toko buku. Aku sedang ingin cari buku komik. Pas sedang cari itu,
aku melihat anak yang manis, yah.. pokoknya cute banget deh! Putih, dan
karena baju yang dipakainya agak ketat, buah dadanya yang agak baru
tumbuh itu sedikit menjiplak di bajunya, jadi kelihatan runcing begitu.
Aku ajak kenalan saja dia, siapa tahu bisa dapat. Tidak usah aku kasih tahu proses kenalannya ya, soalnya.. ya gitu deh.. pokoknya akhirnya aku tahu itu anak kelas 6 SD dan aku tahu nomor teleponnya. Oh iya, namanya adalah Ima, aku jadi lumayan sering menelepon dia. Habis ternyata anaknya asyik juga. Kami sering ngobrol tentang Boys Band yang dia suka, (bukan berarti aku suka Boys Band, kebetulan adikku banyak tahu, jadi aku ikut-ikutan tahu).Aku sudah beberapa kali ajak dia jalan-jalan ke Mall, tapi jarang mau. Sepertinya tidak dibolehi sama ibunya. Tapi akhirnya bisa juga. Sepertinya aku memang sedang falling in love sama si Ima. Setiap pulang sekolah, dia sering aku jemput, lucu deh, jadi seperti jemput adik sendiri, nanti aku dikira pembantu pribadinya sama temennya. Biarin deh, yang penting aku sayang sama Ima.
Nah, pada suatu hari waktu dia pulang sekolah, aku ajak saja ke rumahku. Ternyata dianya mau. Asyik, pikirku. Habis dia tidak pernah mau aku ajak ke rumahku. Dan pas ketika kuajak ke kamarku, dianya mau saja dan untung tidak ada yang melihatku bawa-bawa anak SD, kan malu juga kalau ketahuan punya cewek anak SD. Setelah beberapa kali aku ajak ke rumah, baru kali ini dia mau dan mau lagi ke kamar. Kan kalau di kamar suasananya jadi lebih romance dan tenang karena berdua saja. Di kamar kustel kaset West Life, khan lumayan lembut tuh musiknya. Dia suka banget sama itu Boys Band. Pertama-tama kami ngobrol biasa tentang sekolahnya, guru-gurunya, temen-temennya, biasalah anak SD. Eh, kami akhirnya ngobrol tentang pacaran, aku tanya saja.
"Pacar kamu siapa sih..?" sambil senyum.
"Bukannya kamu.." jawabnya.
Waduh, nih anak SD polos amat.. tapi aku seneng sih, dia ngakuin aku.
"Iya nih Ma, aku sayang banget ama kamu," rayuku.
Dianya diam sambil menatapku malu. Waduh wajahnya itu lho, masih Fresh dan dia manis sekali. Tiba-tiba, gara-gara meliat parasnya yang cute itu, aku jadi ingin mencium bibirnya, tapi dia mau tidak ya?
"Sayang, kamu pernah ciuman belum?" tanyaku.
"Belum, tapi suka deh ngeliat orang ciuman di film-film," katanya.
"Mau nyobain tidak?" tanyaku, to the point saja.
Dia diam saja.
"Sama kamu? nggak ah, takut.. malu.." kata Ima.
"Nggak apa-apa lagi.." jawabku.
"Coba ya.. enak kok," kataku lagi.
"Coba deh merem!" kataku.
Dia mencoba merem, tapi melek lagi, takut katanya. Jantungnya terasa deg-degan, katanya.
"Santai saja, tidak usah tegang," kataku.
Dia mulai merem, perlahan aku dekati wajahnya, mulai terasa hembusan nafasnya. Lalu perlahan kusentuh bibirku dengan bibirnya. Ketika bibir kami mulai bersentuhan, bibirku mulai bermain di bibirnya, dia belum merespon. Dia hanya membiarkan bibirku memainkan bibirnya, terasa sekali hembusan nafasnya, bibirnya yang begitu lembut tapi akhirnya dia juga mulai memainkan bibirnya. Sekitar lima menit kami berciuman. Nafas dia terengah-engah ketika selesai berciuman. "Gimana enak tidak?" tanyaku. Dia cuma tersenyum malu-malu, "Mau lagi tidak? tapi sekarang lebih seru lagi, kumasukkan lidah ke mulut kamu, terus kamu nanti isep lidahku di dalem mulut kamu ya.. dan nanti gantian kamu yang masukin lidah ke mulutku, nanti kuisep," kata aku.
Dia merem lagi, aku dekati bibirku. Begitu kena bibirnya, langsung aku masukkan lidahku, dia langsung menghisap, ah enak, geli dan nikmat, terasa di mulut. Setelah itu dia masukkan lidahnya ke mulutku, kuhisap lidahnya lengkap beserta ludah yang ada di mulutnya. Ketika sedang asyik berciuman itu, timbul ide nakal, aku mencoba meraba dadanya yang masih baru tumbuh. Ternyata dia tidak menolak, dia masih terus menikmati berciuman dengan aku. Aku masih terus meraba-meraba dadanya yang kalau dibilang sih masih kecil untuk ukuran buah dada, tapi aku suka sekali sama buah dada yang semacam itu, runcing dengan puting yang baru tumbuh. Aku mulai nekat, kucoba masukkan ke dalam balik bajunya, di balik kaus singletnya (dia belum pakai BH, tapi karena tidak pakai BH, putingnya yang baru tumbuh itu jadi menonjol keluar, jadi kelihatan agak runcing dadanya) terdapat gundukan kecil imut nan segar. Eh, ternyata dia mulai sadar dan menghentikan ciumannya.
"Jangan dimasukkin dong tangannya," kata dia.
Wah, tampaknya dia belum berani.
"Maaf deh.. aku terlalu nafsu," kataku.
"Eh, udah sore nih, kamu aku anter pulang dulu ya," kataku.
Anak SD, kalau belum pulang sampai sore nanti dicariin, kan gawat kalau ibunya sampai tahu dia di kamarku. Akhirnya hari pertama dia di rumahku diakhiri dengan belajar ciuman.
Besok-besoknya dia tidak pernah bisa main ke rumahku. Soalnya ibunya menjemput terus. Nah, seminggu setelah dia main ke rumahku, akhirnya dia mau lagi diajak ke rumahku. Pas pulang sekolah aku ajak masuk lagi ke kamarku.
"Gimana sayang? masih mau terusin pelajaran ciuman kita minggu kemaren?" tanyaku.
Dia tersenyum.
"Mau dong.. yang pakai masukin lidah ya.." kata Ima.
"OK deh.." jawabku.
Dan mulailah kami ber-French kissing. Kami berciuman sampai beberapa menit. Tapi aku kepikiran lagi sama dada dia. Karena saking nafsunya aku ingin sekali merasakan dada cewekku ini. Aku mencoba minta ke Ima. "Ma.. aku pengen liat.. liat dada kamu boleh nggak..? Entar enak deh, bisa lebih enak dari pada ciuman," kataku. Dia diam saja sambil menatap ke arahku. Akhirnya dia mau juga setelah kubujuk. Dia aku suruh duduk di tempat tidurku. "Kamu tenang aja ya.." dia mengangguk. Aku perlahan-lahan membuka baju kemeja sekolahnya, satu per satu kancingnya kubuka. Dia menatapku dengan perasaan yang tegang. "Rilex aja lagi.. jangan tegang gitu.. tidak sakit kok," kataku. Akhirnya dia agak tenang.
Begitu kebuka semua, wah, ternyata masih ada kaus singletnya yang menghalangi buah dada mininya itu. "Aku buka semua ya.." kataku. Dia mengangkat tangannya ke atas, lalu kubuka singletnya.Wow.. ternyata indah sekali man..! Kulitnya yang putih mulus, masih halus sekali, buah dadanya yang baru muncul itu menampakkan suatu kesan yang amat indah, putingnya berwarna pink itu, membuat lidahku ingin mengulumnya. Dengan perlahan kusentuhkan lidahku ke putingnya yang berwarna pink itu. (PS: Kalau mau mencoba sama anak yang baru tumbuh buah dadanya, hati-hati, soalnya daerah itu masih sensitif sekali. Kalau kesentuh keras sedikit saja, terasa sakit sekali sama dia. Bener tidak?).
Lalu mulai kujilati dan tanganku mencoba menyentuh puting yang satu laginya. Dia merem ketika aku menjilati putingnya, dia tinggal memakai rok merah, seragamnya. Dia merem ketika aku menjilat, menghisap, menyentuh, meraba buah dada imutnya itu, dan dia mulai mendesah kenikmatan, "Ssshhssh.. mm.." desahnya, aku makin horny saja mendengarnya dan aku makin lancar mengerjai dadanya itu. Aku jilati bergantian kanan dan kiri, dan aku juga menjilati perutnya dan pusarnya. Sedang menjilati tubuhnya itu, eh, timbul lagi benak nakal. Bentuk vaginanya gimana ya? aku jadi penasaran gitu. Aku masukkan tanganku ke dalam roknya. Kuusap-usap CD-nya yang melapisi vagina imut-imut milik seorang anak kelas 6 SD yang manis itu.
"Ima.. kamu mau tidak membuka rok kamu..?" tanyaku.
"Mau kan sayang..?" tanyaku lagi.
"Tapi tidak apa-apa kan?" tanya Ima.
"Nggak kok.." kataku.
Dia kusuruh tiduran. Aku membuka roknya, aku peloroti roknya, dia tinggal memakai celana dalamnya yang berwarna pink (lucu deh, ada gambar Hello Kitty-nya), dan akhirnya aku peloroti CD-nya. Terlihatlah sekujur tubuh telanjang seorang anak SD yang membuatku ingin menidurinya. Terlihat vagina yang masih mulus, belum ada bulunya dan bibir vaginanya yang mulus juga, dan aku nafsu sekali. Aku jilati vaginanya, dianya kegelian, sehingga badannya bergoyang ketika aku jilati bagian dalam vaginanya.
Tapi lama-lama kupikir, aku jahat sekali, nih anak kan cewekku, masa aku tega sih. Ya sudah, aku selesai saja. Kalau aku sampai ML, berarti aku menghancurkan masa depan seorang anak. Aku terus menjilati vaginanya, dan aku terus menjilati bagian klitorisnya sampai dia bergoyang-goyang. Akhirnya dia mengalami orgasme, "Aahh.. aku lemes.." Akhirnya aku sudahi jilati vaginanya dan kucium pipinya.
"Gimana enak kan..?" tanyaku.
"Iya.."
"Tidak apa-apa khan?" kataku.
"Udah sore tuh kamu mau pulang..?" tanya aku.
"Iya deh, tapi kapan-kapan lagi ya.." katanya.
"Iya deh sayangku," kataku sambil kucium keningnya.
Yah begitulah ceritanya, aku tidak tega untuk merenggut keperawanan cewekku sendiri. Aku sama Ima jalan sampai dua bulan saja, karena bosan. Aku tidak pernah nge-ML sama dia dan aku sudah berjanji tidak mau ML sama dia.
TAMAT !
Aku ajak kenalan saja dia, siapa tahu bisa dapat. Tidak usah aku kasih tahu proses kenalannya ya, soalnya.. ya gitu deh.. pokoknya akhirnya aku tahu itu anak kelas 6 SD dan aku tahu nomor teleponnya. Oh iya, namanya adalah Ima, aku jadi lumayan sering menelepon dia. Habis ternyata anaknya asyik juga. Kami sering ngobrol tentang Boys Band yang dia suka, (bukan berarti aku suka Boys Band, kebetulan adikku banyak tahu, jadi aku ikut-ikutan tahu).Aku sudah beberapa kali ajak dia jalan-jalan ke Mall, tapi jarang mau. Sepertinya tidak dibolehi sama ibunya. Tapi akhirnya bisa juga. Sepertinya aku memang sedang falling in love sama si Ima. Setiap pulang sekolah, dia sering aku jemput, lucu deh, jadi seperti jemput adik sendiri, nanti aku dikira pembantu pribadinya sama temennya. Biarin deh, yang penting aku sayang sama Ima.
Nah, pada suatu hari waktu dia pulang sekolah, aku ajak saja ke rumahku. Ternyata dianya mau. Asyik, pikirku. Habis dia tidak pernah mau aku ajak ke rumahku. Dan pas ketika kuajak ke kamarku, dianya mau saja dan untung tidak ada yang melihatku bawa-bawa anak SD, kan malu juga kalau ketahuan punya cewek anak SD. Setelah beberapa kali aku ajak ke rumah, baru kali ini dia mau dan mau lagi ke kamar. Kan kalau di kamar suasananya jadi lebih romance dan tenang karena berdua saja. Di kamar kustel kaset West Life, khan lumayan lembut tuh musiknya. Dia suka banget sama itu Boys Band. Pertama-tama kami ngobrol biasa tentang sekolahnya, guru-gurunya, temen-temennya, biasalah anak SD. Eh, kami akhirnya ngobrol tentang pacaran, aku tanya saja.
"Pacar kamu siapa sih..?" sambil senyum.
"Bukannya kamu.." jawabnya.
Waduh, nih anak SD polos amat.. tapi aku seneng sih, dia ngakuin aku.
"Iya nih Ma, aku sayang banget ama kamu," rayuku.
Dianya diam sambil menatapku malu. Waduh wajahnya itu lho, masih Fresh dan dia manis sekali. Tiba-tiba, gara-gara meliat parasnya yang cute itu, aku jadi ingin mencium bibirnya, tapi dia mau tidak ya?
"Sayang, kamu pernah ciuman belum?" tanyaku.
"Belum, tapi suka deh ngeliat orang ciuman di film-film," katanya.
"Mau nyobain tidak?" tanyaku, to the point saja.
Dia diam saja.
"Sama kamu? nggak ah, takut.. malu.." kata Ima.
"Nggak apa-apa lagi.." jawabku.
"Coba ya.. enak kok," kataku lagi.
"Coba deh merem!" kataku.
Dia mencoba merem, tapi melek lagi, takut katanya. Jantungnya terasa deg-degan, katanya.
"Santai saja, tidak usah tegang," kataku.
Dia mulai merem, perlahan aku dekati wajahnya, mulai terasa hembusan nafasnya. Lalu perlahan kusentuh bibirku dengan bibirnya. Ketika bibir kami mulai bersentuhan, bibirku mulai bermain di bibirnya, dia belum merespon. Dia hanya membiarkan bibirku memainkan bibirnya, terasa sekali hembusan nafasnya, bibirnya yang begitu lembut tapi akhirnya dia juga mulai memainkan bibirnya. Sekitar lima menit kami berciuman. Nafas dia terengah-engah ketika selesai berciuman. "Gimana enak tidak?" tanyaku. Dia cuma tersenyum malu-malu, "Mau lagi tidak? tapi sekarang lebih seru lagi, kumasukkan lidah ke mulut kamu, terus kamu nanti isep lidahku di dalem mulut kamu ya.. dan nanti gantian kamu yang masukin lidah ke mulutku, nanti kuisep," kata aku.
Dia merem lagi, aku dekati bibirku. Begitu kena bibirnya, langsung aku masukkan lidahku, dia langsung menghisap, ah enak, geli dan nikmat, terasa di mulut. Setelah itu dia masukkan lidahnya ke mulutku, kuhisap lidahnya lengkap beserta ludah yang ada di mulutnya. Ketika sedang asyik berciuman itu, timbul ide nakal, aku mencoba meraba dadanya yang masih baru tumbuh. Ternyata dia tidak menolak, dia masih terus menikmati berciuman dengan aku. Aku masih terus meraba-meraba dadanya yang kalau dibilang sih masih kecil untuk ukuran buah dada, tapi aku suka sekali sama buah dada yang semacam itu, runcing dengan puting yang baru tumbuh. Aku mulai nekat, kucoba masukkan ke dalam balik bajunya, di balik kaus singletnya (dia belum pakai BH, tapi karena tidak pakai BH, putingnya yang baru tumbuh itu jadi menonjol keluar, jadi kelihatan agak runcing dadanya) terdapat gundukan kecil imut nan segar. Eh, ternyata dia mulai sadar dan menghentikan ciumannya.
"Jangan dimasukkin dong tangannya," kata dia.
Wah, tampaknya dia belum berani.
"Maaf deh.. aku terlalu nafsu," kataku.
"Eh, udah sore nih, kamu aku anter pulang dulu ya," kataku.
Anak SD, kalau belum pulang sampai sore nanti dicariin, kan gawat kalau ibunya sampai tahu dia di kamarku. Akhirnya hari pertama dia di rumahku diakhiri dengan belajar ciuman.
Besok-besoknya dia tidak pernah bisa main ke rumahku. Soalnya ibunya menjemput terus. Nah, seminggu setelah dia main ke rumahku, akhirnya dia mau lagi diajak ke rumahku. Pas pulang sekolah aku ajak masuk lagi ke kamarku.
"Gimana sayang? masih mau terusin pelajaran ciuman kita minggu kemaren?" tanyaku.
Dia tersenyum.
"Mau dong.. yang pakai masukin lidah ya.." kata Ima.
"OK deh.." jawabku.
Dan mulailah kami ber-French kissing. Kami berciuman sampai beberapa menit. Tapi aku kepikiran lagi sama dada dia. Karena saking nafsunya aku ingin sekali merasakan dada cewekku ini. Aku mencoba minta ke Ima. "Ma.. aku pengen liat.. liat dada kamu boleh nggak..? Entar enak deh, bisa lebih enak dari pada ciuman," kataku. Dia diam saja sambil menatap ke arahku. Akhirnya dia mau juga setelah kubujuk. Dia aku suruh duduk di tempat tidurku. "Kamu tenang aja ya.." dia mengangguk. Aku perlahan-lahan membuka baju kemeja sekolahnya, satu per satu kancingnya kubuka. Dia menatapku dengan perasaan yang tegang. "Rilex aja lagi.. jangan tegang gitu.. tidak sakit kok," kataku. Akhirnya dia agak tenang.
Begitu kebuka semua, wah, ternyata masih ada kaus singletnya yang menghalangi buah dada mininya itu. "Aku buka semua ya.." kataku. Dia mengangkat tangannya ke atas, lalu kubuka singletnya.Wow.. ternyata indah sekali man..! Kulitnya yang putih mulus, masih halus sekali, buah dadanya yang baru muncul itu menampakkan suatu kesan yang amat indah, putingnya berwarna pink itu, membuat lidahku ingin mengulumnya. Dengan perlahan kusentuhkan lidahku ke putingnya yang berwarna pink itu. (PS: Kalau mau mencoba sama anak yang baru tumbuh buah dadanya, hati-hati, soalnya daerah itu masih sensitif sekali. Kalau kesentuh keras sedikit saja, terasa sakit sekali sama dia. Bener tidak?).
Lalu mulai kujilati dan tanganku mencoba menyentuh puting yang satu laginya. Dia merem ketika aku menjilati putingnya, dia tinggal memakai rok merah, seragamnya. Dia merem ketika aku menjilat, menghisap, menyentuh, meraba buah dada imutnya itu, dan dia mulai mendesah kenikmatan, "Ssshhssh.. mm.." desahnya, aku makin horny saja mendengarnya dan aku makin lancar mengerjai dadanya itu. Aku jilati bergantian kanan dan kiri, dan aku juga menjilati perutnya dan pusarnya. Sedang menjilati tubuhnya itu, eh, timbul lagi benak nakal. Bentuk vaginanya gimana ya? aku jadi penasaran gitu. Aku masukkan tanganku ke dalam roknya. Kuusap-usap CD-nya yang melapisi vagina imut-imut milik seorang anak kelas 6 SD yang manis itu.
"Ima.. kamu mau tidak membuka rok kamu..?" tanyaku.
"Mau kan sayang..?" tanyaku lagi.
"Tapi tidak apa-apa kan?" tanya Ima.
"Nggak kok.." kataku.
Dia kusuruh tiduran. Aku membuka roknya, aku peloroti roknya, dia tinggal memakai celana dalamnya yang berwarna pink (lucu deh, ada gambar Hello Kitty-nya), dan akhirnya aku peloroti CD-nya. Terlihatlah sekujur tubuh telanjang seorang anak SD yang membuatku ingin menidurinya. Terlihat vagina yang masih mulus, belum ada bulunya dan bibir vaginanya yang mulus juga, dan aku nafsu sekali. Aku jilati vaginanya, dianya kegelian, sehingga badannya bergoyang ketika aku jilati bagian dalam vaginanya.
Tapi lama-lama kupikir, aku jahat sekali, nih anak kan cewekku, masa aku tega sih. Ya sudah, aku selesai saja. Kalau aku sampai ML, berarti aku menghancurkan masa depan seorang anak. Aku terus menjilati vaginanya, dan aku terus menjilati bagian klitorisnya sampai dia bergoyang-goyang. Akhirnya dia mengalami orgasme, "Aahh.. aku lemes.." Akhirnya aku sudahi jilati vaginanya dan kucium pipinya.
"Gimana enak kan..?" tanyaku.
"Iya.."
"Tidak apa-apa khan?" kataku.
"Udah sore tuh kamu mau pulang..?" tanya aku.
"Iya deh, tapi kapan-kapan lagi ya.." katanya.
"Iya deh sayangku," kataku sambil kucium keningnya.
Yah begitulah ceritanya, aku tidak tega untuk merenggut keperawanan cewekku sendiri. Aku sama Ima jalan sampai dua bulan saja, karena bosan. Aku tidak pernah nge-ML sama dia dan aku sudah berjanji tidak mau ML sama dia.
TAMAT !
