- Home »
- Cerita Sex antara Tante Rahayu Dan Temannya
On Kamis, 27 Maret 2014
Kepada para pembaca yang belum kenal
denganku, kuperkenalkan diriku dulu yach. Aku adalah penulis Gairah
Sesama Jenis dan Tante Rahayu. Berikut adalah kisahku yang lain yang
juga berhubungan dengan Tante Ayu. Setelah hubungan seksku dengan Tante
Ayu, aku pernah juga memulai dengan teman pria, namun entah, menurutku
kok rasanya biasa-biasa saja.
Saat
itu hari Sabtu siang, ketika Tante Ayu sedang ada di Jakarta dan ia
meneleponku (mungkin no.HP-ku, ibuku yang memberikan), untuk datang ke
sebuah motel kecil di daerah Tebet, karena ada suatu hal yang penting
katanya. Aku saat itu tidak yakin Tante Ayu ingin mengajakku 'bermain',
karena biasanya Tante Ayu bilang terus terang (jika ia memang ada di
Jakarta) hasratnya memang butuh pelampiasan. Namun dari tempat
pertemuannya aku yakin ia ingin 'bermain' karena motel tersebut adalah
salah satu tempat orang sering bercinta.
Setelah
sampai di Motel R**** (edited), yakni di samping Universitas Sahid
Tebet, aku bertemu Tante Ayu di lobby (yang sangat kecil). Ketika aku
sampai di kamar tante Ayu, barulah aku tahu kenapa ia tidak berterus
terang karena di kamarnya ada tamu, seorang wanita, dan Tante Ayu pun
memperkenalkannya kepadaku, namanya Tante Santi.
Orangnya
sangat cantik, tipe wanita karier. Dengan hidungnya yang mancung,
bibirnya yang sensual, rambutnya yang sebahu, wajah Tante Santi boleh
dibilang benar-benar mirip sekali dengan salah seorang penyiar yang
pernah kulihat di TVRI, kalau tidak salah yang namanya Gina Sonia (mohon
maaf.. ini hanya sekedar perbandingan saja). Selain itu Tante Santi
juga memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, benar-benar menambah
kecantikannya, dan pada saat itulah fantasiku mulai merana, untuk
bermain bertiga yakni aku, Tante Ayu dan Tante Santi.
Singkat
cerita, kami bertiga ngobrol-ngobrol cukup lama, sampai akhirnya Tante
Ayu memperingatkan Tante Santi, "Oh iya San, katanya kamu bawa oleh-oleh
buat Sari.." katanya. "Oh iya, aku sampai lupa.." Rupanya Tante Santi
memberikan sebuah hadiah, yang katanya sich sebagai hadiah perkenalan.
Setelah kubuka, rupanya Tante Santi membelikan sebuah gaun pesta yang
indah sekali dengan model bagian atas bahu terbuka, yang hanya digantung
dengan tali kecil. Menurutnya ia membelikan ini atas saran dari Tante
Ayu.
Setelah
aku berterima kasih, akhirnya aku pun disuruh mencobanya di depan
mereka. Aku sih menurut saja. Aku mulai membuka pakaianku, tapi Tante
Ayu memaksaku untuk melepaskan bra-ku juga karena nanti jadi tidak bagus
jika memakai gaun itu karena akan kelihatan, katanya. Sebenarnya aku
agak risih juga karena di kamar ada Tante Santi, namun karena Tante Ayu
memaksa (dan memang keinginanku untuk ML dengan Tante Santi), yah
kuturuti saja. Aku membuka bra-ku sambil membelakangi mereka, namun
kurasa Tante Santi juga bisa melihat buah dadaku lewat cermin besar di
depanku. Setelah mencoba gaun itu beberapa saat, aku pun melepaskannya.
Namun
alangkah kagetnya aku begitu gaunku terbuka, Tante Ayu menarik tanganku
dan memelukku dari belakang sambil menciumi leherku, dan tangannya
meremas-remas buah dadaku. Edan!, masa Tante Ayu melakukan ini di depan
temannya sich, aku benar-benar heran. Sebenarnya aku malusekali dikerjai
di depan Tante Santi (walau aku mau), mau protes, tapi nggak bisa, tapi
tampaknya Tante Santi tidak terkejut sedikitpun.
Tak
berapa lama Tante Ayu berkata, "Sar.. boleh kan kalau Tante Santi ikut
bergabung..?" Aku yang ketika itu, birahiku sudah naik karena
diperlakukan begitu, hanya mengangguk saja sambil malu-malu. Sambil
tersenyum, Tante Santi pun langsung mendekatiku sambil bilang, "Sar..
boleh kan Tante ikutan..?" Sekali lagi aku hanya mengangguk malu-malu.
Tante
Santi mulai mengecup bibirku, lalu memainkan lidahnya, setelah itu
dijilatinya leherku terus ke bawah ke dadaku, dijilat dan diisap-isapnya
puting susuku, aku menggelinjang-gelinjang kegelian. Jilatan Tante
Santi turun lagi, ke perutku. CD-ku diloloskannya ke bawah, sementara
Tante Ayu tetap memelukku sambil meremas buah dadaku dari belakang.
Tante Santi mengangkat kaki kananku, sehingga pahaku menumpang di
pundaknya, lalu ia mulai menjilat kemaluanku, "Aduh gelinya.." Dengan
semangat Tante Ayu menjilati klitorisku, dan kadang-kadang dimasukkan
lidahnya ke dalam liang senggamaku, menjilati semua yang ada di
dalamnya. "Aaahh.." aku menggelinjang-gelinjang kegelian dan keenakan,
lututku lemas sekali, aku sampai tak kuatberdiri, tubuhku serasa
melayang, namun Tante Ayu memelukku dari belakang hingga aku tidak
merosot ke bawah. Aku bahkan sampai tidak dapat merasakan kaki kiriku
menyentuh tanah.
Beberapa
menit aku diperlakukan nikmat, namun agaknya Tante Ayu kasihan melihat
keadaanku, lalu digendongnya tubuhku, sambil ketawa-ketiwi mereka berdua
membaringkan tubuhku terlentang di atas ranjang. Aku tidak dapat
mengungkapkan perasaanku, tapi yang jelas karena permainan dihentikan
sementara, aku jadi seperti kebingungan karena birahiku sudah sangat
tinggi, ingin segera dilanjutkan rasanya. Namun mereka tampaknya malah
menurunkan tempo permainan, menggantinya dengan yang lain. Tante Ayu
menjilatiku dari atas, dari wajahku terus sampai buah dadaku. Dan Tante
Santi menjilatiku dari ujung kaki, terus.. ke betisku.. ke pahaku.. dan
akhirnya sampai ke selangkanganku.
Aku
rasanya jadi semakin gila diperlakukan begini. Untunglah mereka tahu
akan hal ini, Tante Ayu kembali meremas-remas, sambil menjilati dan
mengisap-isap puting buah dadaku. Dan Tante Santi kembali menyerang
liang senggamaku dengan buasnya. Dengan buasnya mereka berdua menikmati
tubuh mungilku ini. "Aaahh.." rasanya seperti melayang di awan. Entah
aku tak bisa berpikir apa saja yang dilakukan mereka kepadaku. Aku hanya
bisa merasakan kenikmatan yang amat sangat, kegelian yang luar biasa
enak dari buah dadaku yang dikerjain Tante Ayu, dan yang terutama dari
klitorisku dan dari dalam kemaluanku, yang dikerjain Tante Santi
habis-habisan. Seluruh tubuhku rasanya bergelinjang semua.
Akhirnya
aku tak kuat lagi menahannya, rasa seperti ingin pipis tiba-tiba
menyerangku, aku ingin menahannya, tapi tak kuat rasanya dan,
"Aaahhgghh.." aku menjerit kuat. Keluarlah semua, nikmatnya selangit,
perasaanku seperti melayang-layang.. "Nikmaat sekali.." Tante Santi
dengan rakus tampaknya menyedot apa saja yang ada dalam kemaluanku,
sampai tubuhku lemas.
Kemudian
aku diberinya istirahat beberapa menit, tapi kemudian mereka kembali
menjalankan aksinya. Tante Santi mengatakan kepadaku bahwa ia bisa
membangkitkan semangatku kembali. Lagi-lagi aku harus pasrah saja.
Sementara Tante Ayu mengusap-usap buah dadaku, Tante Santi mulai memijat
telapak kakiku, aku merasa enak dan nikmat, lalu tanpa segan-segan,
Tante Santi dengan nafsu menciumi dan menjilati telapak kakiku yang
mulus, "Iiihh.. geli rasanya.."
Setelah
ia puas, aku disuruhnya telungkup. Tante Ayu memijat punggungku, dan
Tante Santi kembali memijat telapak kakiku, terus ke atas.. ke betis..
dan ke buah pantatku. Tiba-tiba dengan nakalnya jari Tante Santi masuk
melalui celah pantatku mengoles bibir kemaluanku, "Aaahh..!" aku
menjerit kaget, dan mereka kembali ketawa-ketiwi lagi. Lalu melalui
celah pantatku itu tangan Tante Santi mulai membelai-belai kemaluanku
dari belakang, "Aaah.. nikmatnya.."
Mungkin
mereka tahu jika nafsuku sudah bangkit kembali, mereka mulai melakukan
permainannya kembali. Tante Santi bangkit dari tempat tidur, dan
mengambil sesuatu dari tasnya, Wah rupanya peralatan-peralatan perang,
rupanya itu adalah penis karet, lalu ada penis yang ada talinya, dan
semacam penis yang bisa bergetar yang kemudian baru kuketahui namanya
vibrator.
"Sar, apa kamu sudah pernah coba pakai yang seperti ini..?" tanya Tante Santi.
"Ng.. belum Tante," sahutku.
"Ng.. belum Tante," sahutku.
Tanpa
basa-basi lagi mereka segera memulai permainan. Mereka berdua
melepaskan seluruh pakaiannya sehingga aku bisa melihat tubuh Tante
Santi yang seksi dan mulus sekali. Kali ini Tante Ayu berbaring di atas
ranjang, namun aku juga disuruhnya berbaring terlentang di atas
tubuhnya, sehingga Tante Ayu bisa dengan leluasa meremas-remas buah
dadaku. Tante Santi mencium lalu melumat bibirku, mengulumnya, dan
memainkan lidahnya. Kemudian ia mulai melanjutkan ke bagian bawah, ke
kemaluanku. Dijilatinya klitoris dan kemaluanku sampai basah. Lalu
diambilnya penis karetnya, digosok-gosokannya dulu ke kemaluanku,
setelah itu baru perlahan-lahan ia mulai memasukannya. "Aaakhh.." susah
juga masuknya, karena walaupun telah basah, tapi memang masih sempit.
Setelah
berhasil masuk setengahnya, Tante Santi mulai mengocoknya perlahan,
makin lama makin cepat, sambil jarinya mengesek-gesek klitorisku, "Aaahh
gila enaknya.." Membuatku kembali orgasme. Namun itu tak menghentikan
permainannya, kembali aku dirangsangnya oleh mereka dengan
jilatan-jilatan. Kali ini Tante Santi rupanya ingin mencoba penis yang
ada talinya, sehingga bisa diikat ke pinggang dan selangkangannya. Aneh
dan lucu memang, sepertinya Tante Santi memiliki penis betulan. Kali ini
dikangkangkannya kakiku dan Tante Santi mulai memasukan penis karetnya
ke kemaluanku, dan mulai memompanya. Kelihatan sepertinya Tante Santi
sedangmenyetubuhiku. Ia terus mengocok kemaluanku sambil
menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan erotis, sampai akhirnya aku tidak
tahan lagi dan kembali orgasme.
Sebenarnya
aku sudah lemas, namun mereka merayuku agar aku mau mencoba alatnya
yang terakhir. (Ah, aku jadi seperti kelinci percobaan, tapi memang
nikmat sich). Dengan rayuannya akhirnya aku mau saja mencoba yang
terakhir, katanya penis yang memakai vibrator. Kembali mereka
membangkitkan birahiku, memang luar biasa sekali pengalaman mereka
tampaknya. Setelah menjilatikemaluanku, Tante Santi mulai memasukkan
penis itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi, kukira seperti tadi saja
rasanya. Tapi begitu penis karet itu sudah masuk semua ke dalam
kemaluanku, Tante Santi mulai menyalakan vibratornya (penggetarnya).
"Aakkhh..!" Aku benar-benar tersentak kaget, rasanya geli sekali,
benar-benar dahsyat, apalagi ditambah dengan gesekan jari Tante Santi
pada klitorisku. "Ampuunn.." Aku menggelinjang-gelinjang, kelojotan
kesana-sini karena saking tidak tahannya aku, dan rupanya Tante Ayu yang
mendekapku dari bawah sudahmengaturnya, sambil memelukku erat, kedua
kakinya, mengangkangkan kedua kakiku, dan masing-masing kakinya mengapit
masing-masing kakiku, sehingga kakiku tetap terbuka mengangkang, dan
aku tidak bisa mengapitkan kedua pahaku walaupun sangking gelinya.
Penis
itu bergetar di dalam kemaluanku, dan bahkan bisa berlenggak-lenggok,
meliuk-liuk di dalam. "Gilaa.. ini benar-benar kenikmatan yang paling
hebat yang pernah kualami. Aku menjerit-jerit bagai kesurupan,
"Aaakkhh.. Tantee.." Namun semakin lama Tante Santi malahan semakin
cepat mengocokkan penis vibrator tsb di dalam kemaluanku, dan juga
mempercepat gesekan jarinya di klitorisku. "Aaakkhh..! Gilaa..
Ampuunn.." aku benar-benar tidak tahan, perasaan mau pipis yang kali ini
muncul sangat dahsyat, hingga akhirnya tubuhku yang kelojotan tiba-tiba
mengejang dengan amat kuat, dan, "Aaaggkkhh.." meledaklah kenikmatan
yang amat dahsyat, amat luar biasa, puncak kenikmatan yang tak dapat
terlukiskan, dunia serasa berputar-putar, aku serasa melayang-layang,
tulang-tulangku terasa lolos hingga akhirnya lemas lunglai seperti
selembar kertas.
Masih
sempat kulihat mereka berdua bercanda sambil berebutan menjilati cairan
kemaluanku baik yang masih tertinggal di dalam kemaluanku yang dijilat
sambil disedot-sedot, yang berlelehan keluar, bahkan yang berlelehan di
batang penis vibrator itu.
Akhirnya
aku tidur dalam pelukan Tante Ayu dan Tante Santi. Tante Ayu memelukku
erat dari belakang, dan Tante Santi memelukku erat dari depan, sesekali
mereka dengan mesra dan gemas menciumiku. Dengan tubuh yang sangat letih
dan lemas, tidur dalam pelukan mereka rasanya lembut, hangat dan luar
biasa. Sungguh pengalaman yang tak akan pernah kulupakan.
