- Home »
- Cerita Sex antara Aku , Sinta Dan Temannya
On Kamis, 27 Maret 2014
Suatu
ketika aku mengambil cuti dari kantor selama seminggu atas bujukan
Anna. Saat itu Dicky sedang mengikuti workshop dari perusahaannya selama
dua minggu di Jerman. Rupanya Anna sudah berencana untuk berlibur ke
Bali dengan mengajakku dan Sinta, keponakannya. Sinta yang juga sedang
libur semesteran, tidak menolak. Apalagi ia tahu bahwa tantenya Anna
telah menyediakan dana yang cukup bagi kami untuk berlibur. Henny yang
kesepian juga ditelepon Anna dan diajak bersama kami.
Kami
mengambil dua kamar di sebuah hotel berbintang di Denpasar. Pelayan
hotel yang mengira aku dan Anna sebagai suami-isteri menawarkan kamar
mewah bagi kami. Kami tidak keberatan dan mengambil president-suite, sedangkan Henny dan Sinta tidak menolak diberikan kamar standar.
Hari
pertama di sana kami habiskan dengan bermain ke pantai Sanur sambil
bercengkerama. Ketiga perempuan itu memakai bikini mandi di pantai
bersama-sama denganku. Kami saling menyiramkan air laut dengan canda dan
tawa. Sesekali kucubit pantat atau pinggul mereka satu persatu. Mereka
yang tak bisa mengejarku, hanya dapat memaki dan berteriak-teriak. Malam
harinya kami bertiga menikmati jamuan dinner yang romantis,
sebab dengan hanya diterangi oleh cahaya beberapa lilin pada meja-meja
dan obor di sekitar kami, para tamu hotel tersebut makan dan minum.
Kulihat beberapa turis asing dan turis domestik makan di dekat kami.
Kami berempat tidak menghiraukan mereka dan memesan makanan yang kami
sukai. Pukul 20 kami memasuki ballroom hotel tersebut dan
berdansa diiringi lagu-lagu klasik. Pertama-tama Anna menjadi teman
dansaku, kemudian berganti dengan Henny. Sedangkan Sinta sempat berdansa
dengan seorang turis asing. Saat berdansa dengan Henny sambil memeluk
tubuhnya erat-erat, Anna mendekati kami dan berbisik, “Hen, Gus, yuk
kita ke kamar aja …”
“Koq cepet-cepet sayang, udah nggak tahan ya?” goda Henny sambil melirik dengan seulas senyum manis.
Anna
mencubit pinggul Henny sambil berkata, “Ah, paling-paling kamu juga
ntar yang duluan minta kalau sudah di kamar.” Kulepaskan pelukan pada
pinggul Henny dan mengikuti Anna yang sudah berjalan keluar ballroom tersebut.
Henny memanggil Sinta dan tak berapa lama kulihat mereka menyusul kami
menuju lift hotel tersebut. Di dalam lift, Anna memeluk leherku sambil
menciumi bibirku. Kupeluk pinggangnya sambil memagut erat-erat bibirnya.
Sinta dan Henny hanya tersenyum sambil berpegangan tangan melihat ulah
kami berdua. Kami berjalan di koridor menuju kamarku dan Anna. Setelah
menaruh tulisan “Don’t disturb” pada pegangan pintu kamar, kami masuk.
Anna langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size.
Henny memegang remote TV dan memilih acara TV yang menarik sementara
Sinta masuk ke kamar mandi. Kubuka bajuku dan celana panjang, lalu
mengenakan celana pendek dan kaus oblong. Henny duduk di ranjang
sementara Anna mulai bangkit dan memegang kedua belah pundak Henny.
Dielus-elusnya pundak dan lengan Henny yang agak terbuka lalu
mendekatkan bibirnya pada pundak Henny. Ciuman Anna pada pundak Henny
membuat Henny kegelian, “Ahhh, geli Ann. Udah dehh.” Anna tidak
menghentikan aksinya, tangannya terus beraksi bahkan kini sebelah
tangannya merambah ke depan meremas-remas payudara Henny dari balik
bajunya sedangkan sebelah tangannya yang lain mengelus-elus pinggul
Henny. Henny yang semakin terangsang merebahkan dirinya ke belakang
hingga kini ia terlentang sementara Anna berada di atas tubuhnya. Maka
bebaslah Anna melanjutkan perbuatannya merangsang Henny. Kini bibirnya
dilabuhkan pada bibir Henny. Keduanya berciuman dengan mesra. Jari-jari
Anna bergerak mengelus pipi, leher dan dada Henny kemudian berhenti pada
payudara Henny yang ia coba keluarkan dari balik bajunya. Henny
mendesah sambil menggerakkan pundaknya menurunkan bajunya hingga
terbukalah kini pundak dan dadanya. Gaunnya semakin tersingkap dan
tangannya sendiri menurunkan gaun itu hingga turun dari pahanya jatuh ke
lantai. Tampaklah BH dan celana dalam Henny yang berwarna hitam
menerawang. Aku berdiri menonton tingkah laku mereka. Sinta yang sudah
keluar dari kamar mandi berseru sambil mengambil tempat duduk di dekat
ranjang, “Wah, atraksi sudah dimulai rupanya?”
Jari-jari
Henny membalas belaian Anna sambil melakukan upaya melepaskan gaun yang
dikenakan oleh Anna. Perlahan-lahan gaun Anna pun berhasil dibuka
hingga sebatas pinggulnya. Terlihat kini BH Anna yang berwarna cream.
Keduanya sambil berciuman bibir melakukan remasan pada payudara yang
lain. Setelah berhasil melepaskan BH satu sama lain, mereka saling
menciumi dagu, leher, pundak dan payudara yang lain. Anna kini menciumi
payudara Henny dan sesekali menjilat dan mengisap putingnya. Dari bawah,
Henny juga melakukan aksi yang tak kalah menarik dengan mengisap
payudara Anna. Desahan keduanya semakin meninggi bersamaan dengan
semakin terkuaknya gaun Anna. Sinta yang melihat tantenya masih
mengenakan gaun mendekati bagian belakang tubuhnya dan membuka risleting
gaun tersebut hingga terbuka seluruhnya dan menurunkannya hingga
terlihat celana dalam berwarna sama dengan BH-nya. Celana dalam tersebut
tidak luput dari aksi Sinta, dengan cepat dan tangkas ia buka. Aksi
Sinta kubantu dengan membuka celana dalam Henny sambil mengelus-elus
pahanya yang putih. Sinta kemudian menciumi pantat tantenya. Kulihat
lidahnya mulai terjulur mencari-cari vagina dan klitoris tantenya yang
semakin merintih. Henny yang terlentang dengan kaki masih menapak pada
lantai kamar dan tubuh berada di atas ranjang mendapat giliran untuk
kurabai paha dan kakinya. Kuarahkan lidah dan bibirku mulai tumitnya.
Kuciumi tumitnya dan sela-sela jari-jari kakinya kugelitiki dengan
lidahku. Ia semakin menggeliat mendapat perlakuan demikian, apalagi di
bagian atas, payudaranya semakin kuat diisap dan diremas oleh Anna.
Ciumanku semakin naik ke betisnya, lututnya dan pahanya. Lama berkutat
pada pahanya dan kukuakkan lebar-lebar kedua belah pahanya hingga
terlihatlah vaginanya yang merah jambu sangat merangsang. Sela-sela
pahanya kujilati dengan lidahku dan beberapa saat kemudian barulah
kuarahkan lidahku pada klitorisnya yang semakin membengkak. Rintihan
Henny semakin kuat saat kujilati klitoris dan labianya. Apalagi saat
kukuakkan kedua labianya lebar-lebar ke kiri dan kanan hingga
terpentanglah liang vaginanya dan lidahku dengan cepat menerobos masuk
ke dalamnya. “Guusss, kau apain memekku, sayang?” jeritnya.
Sinta
telah menjilati vagina tantenya dari belakang. Anna mengerang dan
mendesah diperlakukan demikian oleh keponakannya sendiri. “Ahhh, kau
nakal Sin, kau jahati tantemu sendiri …..”
“Tante nggak suka, biar kuhentikan?” tanya Sinta sambil menghentikan aksinya.
“Nggak, nggak sayang … Tante cuma guyon, ayooo sayang terusin dong …” pintanya.
Sinta kembali menundukkan wajah dan menjilati anal dan vagina sambil meremas-remas pantat Tantenya.
Ujung
hidungku menyentuh klitoris Henny saat kujilati vaginanya. Klitoris dan
vagina Henny semakin kuat kujilati dan kuisap-isap, sehingga tak lama
kemudian Henny menjerit nikmat karena orgasme. Ia mengangkat pinggulnya
hingga seluruh permukaan vaginanya memenuhi mulut dan hidungku. Kedua
payudaranya habis ditelan bergantian oleh Anna yang juga menyusul
dirinya mencapai orgasme. “Ahh, akkkkuuuu ….. aaaakkhhhhh …. nikmattt …
Sintaaaa …..” jeritnya sambil menggoyangkan pinggulnya kuat-kuat. Lidah
Sinta kulihat ia julurkan dalam-dalam pada vagina Anna.
Baik
Anna dan Henny tidak langsung tergolek lemas usai mendaki puncak
kenikmatan, melihat Sinta masih berpakaian lengkap, keduanya bangun dan
dengan sigap menyerang Sinta. Anna langsung menciumi bibirnya dan
meremas-remas payudara Sinta dari luar bajunya sambil membukai gaunnya,
sedangkan Henny meraba pinggul dan paha Sinta sambil membantu Anna
membuka gaun Sinta. Dengan cepat keduanya berhasil menelanjangi Sinta
dan merebahkan tubuh Sinta ke atas ranjang. Henny menciumi paha dan
vagina Sinta sementara Anna menciumi bibir Sinta lalu mengangkangi wajah
Sinta. Kini vaginanya tepat berada di atas mulut Sinta. Sinta yang baru
saja menciumi vagina Tantenya tidak menolak kembali ia menjilati
klitoris Anna dan mengisap labia vaginanya. Aku tak tahan melihat
pemandangan tersebut apalagi sebelumnya sudah disuguhi aksi hebat dari
permainan sebelumnya, segera membuka celana dan kaos, hingga menjadi
orang keempat yang bertelanjang bulat di kamar itu. Karena sudah
terangsang hebat melihat mereka, aku segera mencari posisi strategis.
Kudekati Henny yang masih menciumi dan menjilati vagina dan klitoris
Sinta. Kuraba dan kuremas payudaranya sambil menggeser tubuhnya agar
beranjak ke samping. Kuciumi vagina Sinta yang sudah basah dan sambil
memeluk pundak Henny dengan sebelah tangan, kuarahkan penisku pada
vagina Sinta. Tangan Sinta ikut membantu mengarahkan penisku hingga
tepat berada di permukaan vaginanya. Dengan suatu tekanan kumasukkan
penisku dalam-dalam ke vagina Sinta hingga ia merintih, “Guuussss …..
aaaaakkkhhhhh …..”
Penisku
kumaju-mundurkan ke dalam liang vaginanya yang sudah basah. Tanpa
kesulitan kugerakkan penisku membuatnya semakin menggeliat. Henny meraba
dan meremas-remas payudara Sinta sambil mencium bibir Anna yang juga
merintih akibat dikerjai vaginanya oleh Sinta.
“Sinnnnn …. Tante mau dapet lagi nihhhhhh ….” rintih Anna.
“Sama
Tante, gila nih si Agus, biasanya aku bisa bertahan lama, ini koq belum
sepuluh menit sudah hampir sampai ….. aaakkkkhhhh …. oookkhhh …
uuugggh..” desahan Sinta membalas rintihan Tantenya. Remasan jari-jari
Henny kini disertai isapan bibirnya pada payudara Sinta, hingga tak lama
kemudian kedua perempuan itu mencapai orgasme berbarengan.
Aku
melihat geliat tubuh Sinta dan Anna semakin mempercepat gerakanku,
terlebih saat penisku diguyur oleh cairan vagina Sinta saat ia mencapai
orgasme. Kutarik penisku hingga sebatas lehernya lalu kutancapkan
sedalam-dalamnya hingga pangkalnya, membuat Sinta terlonjak kaget tetapi
merasa nikmat, “Akkkhhh Gusss …… gila kamu ….” Kuulangi gerakan itu
secara beraturan, hingga geliat tubuh Sinta yang sempat mereda setelah
mencapai orgasme, kembali meninggi akibat seranganku. Lagi-lagi ia
menggoyangkan pinggulnya ke kanan kiri dan sesekali ke atas bawah.
Kuingat salah satu gerakan pada Kamasutra, dengan menarik napas
dalam-dalam kutarik penisku hingga lehernya lalu kubenamkan hingga
pangkalnya. Mulut Sinta semakin kuat meracau, agaknya tak lama lagi ia
bakal orgasme kembali, “Guuuus, gila kamu …. Mau kerjai aku lagi ya,
padahal …. sssshhhh …. aakkhhhuuu .. sss.. sudah dapet tadi
sayangggg…..” desahnya.
Kupegang
kedua pinggulnya sambil menghentakkan tubuhku berulang-ulang hingga
penisku menusuk dalam ke vaginanya, “Kita bareng ya sayang ???” bisikku
sambil meneruskan perbuatanku. “Akkkhhh, Sinnn …. aku dapet sayang!”
erangku sambil menghunjamkan penisku sedalam-dalamnya dan menikmati
denyutan dinding vaginanya melumat penisku. “Yaaahhh, aku … aaakkkuu ..
juga Gusssss…..” rintihnya sembari memelukku dan menancapkan kukunya
pada punggungku. Kami berdua berpelukan sangat erat dengan tubuh
bersimbah peluh.
Kami
berdua lalu berbaring di ranjang tersebut sambil meredakan gejolak
napas kami. Henny dan Anna sibuk berdua menjilati cairan kami kemudian
mengikuti kami berbaring. Tengah malam Anna minta aku melayaninya dalam
posisi berdiri. Henny dan Sinta tertidur lelap ketika kami berdua
berpacu dalam nafsu. Karena tadi sudah ejakulasi, aku belum orgasme lagi
ketika Anna mencapai orgasme untuk kedua kalinya. Ia kembali
membaringkan tubuhnya di ranjang.
Henny
yang terbangun sewaktu Anna membaringkan tubuh di sampingnya, melihatku
masih berdiri di samping ranjang. Ia bangkit dan menuju kamar mandi.
Kudengar suara air kencingnya. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dan
mengelus-elus pundakku sambil memintaku memberikannya kepuasan. Dengan
kedua tangan bertumpu pada ranjang, Henny agak membungkuk menanti
seranganku dari belakang. Aku menempatkan tubuh di belakang Henny.
Kucari liang vaginanya dan kutusukkan penisku ke dalamnya. Kedua
tanganku semula meremas-remas pantatnya, tetapi lama kelamaan kuarahkan
ke depan meraih kedua payudaranya. Sesekali kedua pundaknya kupegang
agar hentakan penisku dapat maksimal memasuki vaginanya.
“Gus, analku juga dong sayang …” pintanya berbisik.
Kucabut
penisku dan kuambil cairan vaginanya ditambah air ludahku lalu kuoles
pada penis, sehingga basah dan kini penisku menuju liang analnya.
Kugoyangkan perlahan-lahan kepala penis memasuki liang analnya.
Gesekanku disambut oleh pantatnya dengan gerakan mundur hingga penisku
semakin dalam memasuki analnya. Kini kumaju-mundurkan tubuhku hingga
penisku dengan bebas masuk keluar analnya. Jari-jari tangan kiriku
kuarahkan melewati bagian depan tubuhnya dan mencari klitorisnya.
Kutemukan tonjolan daging lembab yang kuraba-raba lembut dan sesekali
kupilin dengan jari-jariku hingga menambah geliat pantat Henny.
Sedangkan tangan kananku kuarahkan pada payudaranya, walaupun agak susah
sebab sebelah tanganku bermain di sela-sela pahanya.
Tangan
Henny kemudian menolakkan tangan kananku. Kulihat ia dengan sebelah
tangan bertumpu pada ranjang menggunakan tangannya yang lain
meremas-remas payudaranya sendiri. Agaknya ia ingin agar aku
mengkonsentrasikan kedua tanganku pada vaginanya. Benar saja, setelah
mendapat penolakan tadi, tangan kananku mengikuti tangan kiri menjelajah
pada vaginanya. Klitorisnya dan labia vaginanya kuelus-elus. “Gusss,
klitorisku jepit yang kenceng sayangg….. aaakhhh” pintanya sambil
menggoyang-goyangkan pantatnya dengan gerakan erotis. Kuikuti
permintaannya, kupercepat gesekan jari-jariku pada klitorisnya dan
jari-jariku yang lain masuk keluar vaginanya.
“Gusss,
aku mau orgasme niccchhh. Kamu kuat banget sih?” bisiknya di sela-sela
rintihannya. “Masukin vaginaku lagi dong!!! Ssshhh … aaakkhhh ….
ooouggghh..” pintanya sambil merintih.
Kucabut
lagi penisku dari analnya dan dengan handuk kecil yang ada di dekat
kami, sempat kubersihkan penisku dari noda-noda liang analnya. Aku tak
ingin vaginanya infeksi karena kotoran dari analnya. Untungnya Anna
selalu menyiapkan handuk kering dan basah di ranjang. “Buruan dong Gus,
ntar sempat nggak keuber lagi nichhhh…” rajuknya manja demi melihatku
masih membersihkan penisku.
“Ntar dulu, biar bersih sayang ….” kataku sambil kembali memasukkan penis ke dalam vaginanya.
“Oooohhhhh … yaaaa .…. gitu sayanggggg …. aaakkkhhh ….” jeritnya.
Kutekan
penisku semakin dalam masuk dan keluar vaginanya sambil meremas-remas
pinggulnya. Kucari liang analnya yang melebar akibat tusukan penisku
tadi. Kuelus-elus dan kumasukkan ibu jariku ke dalam analnya. Aksiku
membuatnya semakin terangsang. “Guusss…. aku mau dapet lagi nichhh….
aaaakkhhhh”
“Sabar
sayang, aku juga mau dapet lagi. Biar enak, kita sama-sama ya?” kataku
sambil menghentakkan penisku sekuat-kuatnya ke dalam vaginanya. Henny
menjerit saat kutekan penisku ke dalam vaginanya. Ia berdiam diri
menahan penisku dalam vaginanya, tapi kurasakan otot-otot di dalamnya
bekerja dengan efektif meremas-remas penisku hingga lontaran spermaku
begitu kencang memompakan cairan kenikmatan ke dalam liang vaginanya.
Ibu jariku yang ada di dalam analnya turut mendapatkan remasan nikmat
akibat bekerjanya otot analnya melakukan gerakan menjepit. Kurebahkan
tubuhku di atas punggungnya sambil memeluk erat-erat tubuhnya dan
meremas payudaranya. Henny menelungkup di atas ranjang dengan kaki masih
menapak lantai dan menikmati penisku yang masih menancap dalam
vaginanya.
Kami
berdua berbaring bersisian sambil berpelukan. Di sebelah kami Anna dan
Sinta tertidur nyenyak. Kuambil selimut menyelimuti kami berempat. Kami
pun terlelap sampai pagi.
Pagi
harinya kami bangun pukul 8 dan sarapan di restoran hotel. Kami
menikmati roti dan sup asparagus sambil bercakap-cakap. Aku yang masih
merasa lapar mengambil nasi goreng dengan telur dadar dan mata sapi.
Anna yang melihatku tambah menggoda, “Nambah nich ye? Abis kerja bakti
ya semalam?” Henny dan Sinta tertawa mendengar candanya.
Kami
meminta mobil hotel mengantar kami melihat-lihat ke pasar dan kerajinan
tradisional Bali. Tak terasa waktu sudah sore. Kembali kami bermain di
pantai dan beberapa kedai kopi hingga matahari terbenam.
Malam
harinya kami mencari makanan khas Bali di warung tenda milik penduduk
setempat. Puas menangsal perut, kami kembali ke hotel. Pelayan hotel
menawarkan kami untuk berdansa, tetapi Anna menggelengkan kepala. Tarian
tradisional yang disuguhkan untuk tamu yang berkunjung lebih menarik
minat Anna dan keponakannya walaupun Henny tak begitu tertarik, sehingga
kami berempat memasuki ruang tari tradisional yang menampilkan
penari-penari cantik Bali.
Kira-kira
satu setengah jam menikmati suguhan tersebut, kami kembali keluar ke
lobby hotel. “Gus, tanyain dong, ada nggak bioskop untuk orang dewasa di
sini?” bisik Anna. “Tanyain petugas hotelnya dong?” Aku melangkah tapi
Anna menarik bajuku dan berbisik, “Gus, kalau si petugas itu mau,
sekalian ajak nonton ya?”
Aku
tersenyum, mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran Anna. “Hmm,
mungkin melihat manisnya resepsionis itu, ia mau coba-coba memberikan
pengalaman baru padanya,” pikirku. Kudekati resepsionis manis yang
langsung menyapaku, “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Begini
nona cantik, istri saya ingin nonton film, tapi tidak mau jauh-jauh.
Apakah ada film dewasa yang cukup bagus untuk kami tonton di sini?”
kuajukan permintaan sambil melirik papan nama yang tertera di dada
sebelah kanannya. “Ayu,” nama yang indah seindah pemiliknya, batinku
sambil menatap wajahnya yang menampilkan keaslian gadis Bali dengan
rambut dikepang dua.
“Oh,
ada Pak. Tapi biasanya ada biaya khusus untuk itu dan ruangannya agak
terbatas. Bapak tidak keberatan untuk membayar lebih?” katanya agak
berbisik.
“No problem, Non. Saya ingin istri saya dan kedua teman kami puas selama kami di sini.”
“Baik
Pak. Silakan ikut saya,” katanya sambil memberi tanda agar temannya
menggantikan dirinya karena mengantarkan kami ke ruangan yang ia
katakan.
Kulambaikan
tanganku ke arah Anna, Sinta dan Henny agar mengikutiku dan sang nona
resepsionis tadi. Aku melangkah cepat menjejeri si nona, “Ayu yang
manis. Apakah hanya kami yang nonton atau ada orang lain juga?” bisikku.
“Yah,
itu tergantung permintaan Bapak. Kalau Bapak mau, bisa saja mengajak
orang lain, tetapi jika tidak, cukup berempat, sebab ruangannya hanya
disediakan enam kursi.”
“Apakah tugas Ayu bisa digantikan temanmu supaya bisa nonton bersama kami berempat?” tanyaku agak hati-hati.
“Wah,
gimana ya Pak?” katanya sambil memperlambat jalannya. “Tapi nggak
apa-apa deh, demi kepuasan tamu, saya akan minta teman saya untuk
gantikan tugas saya. Asal tidak lama-lama ya Pak?”
“Nggak usah lama-lama, kan cukup satu film saja,” kataku.
“Oh ya,” Ayu bertanya padaku, “Pak, kategori apa yang mau ditonton?”
“Maksudnya kategori gimana?” tanyaku berlagak bodoh.
“Ah,
Bapak nggak usah pura-pura deh. Maunya film yang satu X, dua X atau
triple X? Gitu lho, Pak” katanya agak manja sambil menggerakkan lidah
membasahi bibirnya.
“Yang triple aja deh non Ayu, biar ntar malam syur waktu kami di kamar,” kataku sambil mencubit pantatnya.
“Ihhh,
Bapak genit, ntar ketahuan Ibu lho,” katanya sambil menoleh ke
belakang, tetapi ia merasa aman sebab kami sudah berbelok dan tidak
tampak oleh Anna, Henny dan Sinta.
Kami
pun berjalan dan setelah memasuki beberapa lorong berliku-liku, kami
sampai di suatu ruangan kecil ber-AC, hanya ada enam kursi di dalamnya,
di bagian depan terdapat TV layar lebar. Keenam kursi itu sangat empuk,
masing-masing memiliki lengan kursi, mirip kursi bioskop, tetapi lebih
mewah. Setelah kami berempat mengambil tempat di kursi yang tersedia,
Ayu mencari-cari film di rak di sebelah TV tersebut lalu memencet tombol
play pada remote control yang ia pegang. Aku duduk di samping Anna,
sedangkan Henny bersebelahan dengan Sinta. Keenam kursi tersebut
terletak berjejer. Kini tinggal dua kursi kosong, di sebelah Sinta dan
satu lagi di sebelah kiriku. Ayu beringsut ingin duduk di samping Sinta,
tetapi tangannya ditarik oleh Anna, “Non, duduk di sini aja,” sambil
menolak tubuhku menduduki kursi kosong di sebelah kiriku, sedangkan Ayu
kini diapit olehku dan Anna di sebelah kanannya. Kulihat Ayu mengambil
handphone-nya.
“Lho, mau sms siapa, Non?” tanya Anna.
“Anu
Bu, tadinya kan saya hanya mengantar Bapak Ibu kemari. Teman saya tidak
tahu kalau saya jadi ikut menemani di sini. Saya kabari dulu agar ia
tidak mencari saya dan dapat menggantikan sementara tugas saya.”
“Ooohh gitu tokh, silakan saja,” kata Anna.
Tak
berapa lama kudengar suara khas dan kulirik Ayu mengambil handphonenya,
dan menggumam, “Ok, teman saya sudah membalas sms saya, tidak masalah,
katanya.”
Film
yang kami tonton mengisahkan tentang seorang raja yang mempunyai
permaisuri cantik. Agaknya berbau India, tetapi pemainnya ada yang bule,
ada juga orang India dan Asia lainnya. Romantisme sang raja dan ratu
digambarkan lewat adegan seks yang lembut. Mula-mula kupikir Ayu
memperdaya kami dengan film X satu, tetapi rupanya hanya adegan awalnya
yang kelihatan agak tertutup. Ketika sang raja dibagian berikut
digambarkan bermain dengan tiga orang selirnya tampak bagaimana penisnya
dikulum ketiga selir tersebut. Kulihat di kegelapan ruangan Sinta dan
Henny sudah semakin mendekatkan kursi mereka dan tangan keduanya saling
menggenggam. Anna sesekali melirik Ayu yang duduk semakin gelisah di
antara aku dan Anna. Sewaktu sang raja menyetubuhi salah seorang
selirnya sementara kedua selir yang lain merabai dan menciumi payudara
selir yang disetubuhi itu, kulihat tatapan mata Ayu semakin sayu dan
tangannya yang tadinya memegang remote kini mengarahkan remote tersebut
ke pangkal pahanya dan terkadang menjepit remote tersebut.
Anna
yang melihat gelagat Ayu, memegang tangan kanan Ayu dan mengelus-elus
jari-jarinya dengan lembut. Ayu agak tersentak diperlakukan demikian,
“Bu, ahhh, jangan …” bisiknya perlahan mencoba menarik tangannya. Anna
menahan tangan Ayu dengan kedua tangannya, “Nggak apa-apa manis, apakah
kamu kujahati?” Ayu tidak berani membantah dan membiarkan tangannya
dielus-elus Anna. Perlahan-lahan Anna mengangkat jari-jari Ayu ke dekat
wajahnya dan menciumi jari-jari tersebut. “Ssshhhh … aaaahhh …” kudengar
nafas Ayu. Di sebelah sana Henny dan Sinta sesekali berpagutan,
keduanya tidak lagi sepenuhnya melihat ke layar film. Aku masih
mengarahkan mata melihat ke layar film, tetapi sesekali melirik ulah
Anna dan kedua perempuan di sebelah sana. Kulihat kini Anna mulai
memasukkan jari telunjuk kanan Ayu ke dalam mulutnya dan melakukan
gerakan mengisap. “Ohhhh ….” desahan Ayu kembali terdengar lirih.
Di
layar kulihat bagaimana sang raja menyetubuhi ketiga selirnya secara
bergantian. Sang ratu mengintip dari celah-celah pintu melihat bagaimana
suaminya memuaskan ketiga selir itu. Terlihat wajahnya memendam nafsu
dan rasa penasaran. Rintihan dan jeritan ketiganya semakin kuat di dalam
ruangan kecil tersebut, hingga menambah rangsangan pada kami berlima
yang ada di situ.
Bergantian
jari-jari tangan kanan Ayu dimasukkan oleh Anna ke dalam rongga
mulutnya. Tangan kiri Anna bergerak meraba-raba paha Ayu. Tanganku ikut
merambah mendekati paha kiri Ayu, “Paaakkk, jangannn ….” desisnya sambil
merapatkan kedua pahanya. Remote yang tadi ada di celah-celah pahanya
kini sudah terjatuh ke lantai. Anna yang melihat penolakan Ayu bangkit
dan mendekatkan wajahnya kepada Ayu. Dengan agak membungkuk, Anna
mencium bibir Ayu yang sempat melakukan gerakan penolakan. “Mmmpppfff ….
oooohhh …. Buu …. ssshhh.” Penolakannya tak menghasilkan sesuatu yang
berarti, sebab kedua tangan Anna sudah memegang kedua pipinya hingga tak
bergeming menerima lumatan bibir Anna. Lidah Anna terjulur masuk ke
dalam rongga mulut Ayu dan beberapa pagutan liar Anna membuat Ayu
semakin terlena. “Jaaanngaaan Bu, Ahhhh ….. ooohhh … ja…… …. ssshhhh ….
uuukkkhh …” kini rintihan penolakannya sudah berganti dengan sambutan
dan kuluman membalas ciuman Anna. Apalagi sewaktu jari-jari Anna bermain
pada payudaranya, hingga Ayu mengerang lebih kuat lagi. Jari-jariku
yang sempat kutarik dari atas paha Ayu, kembali mengelus-elus pahanya
dan kuarahkan ke bawah mencari jalan masuk dari balik roknya ke pangkal
pahanya. “Sssshhhh …. Pakkk …. aaakkhhh… Buuu” desisannya semakin tak
beraturan.
Adegan berikut di layar sempat kulihat mengisahkan bagaimana sang ratu disetubuhi sang raja dengan doggy style dengan
disaksikan oleh dua orang selirnya. Kedua selir itu mula-mula hanya
menonton, tetapi kemudian saling berpelukan dan main 69, hingga menambah
rangsangan bagi sang raja dan ratu. Setelah itu sang raja meminta
mereka berdua meremas-remas payudara ratu dan menciumi bibirnya sambil
menelentangkan sang ratu dan kembali menyetubuhinya. Kedua selir
tersebut masih mengikuti perintah sang raja, tetapi ketika melihat
permainan raja dan ratu, keduanya semakin liar. Yang satu mengangkangkan
paha dan menaruh vaginanya tepat di atas wajah ratu sehingga sang ratu
mencium dan menjilati vaginanya. Yang lain mengambil posisi nungging
membelakangi sang raja dan memintanya menjilati vaginanya dari belakang.
Lalu kedua selir itu saling berciuman dan meremas-remas payudara satu
sama lain, sambil sesekali yang vaginanya ada di atas wajah ratu
meremas-remas payudara dan puting ratu.
Adegan
di layar itu menambah giat jari-jariku mencari celah-celah masuk ke
dalam vagina Ayu. Kusingkapkan roknya hingga terlihatlah pahanya yang
mulus di keremangan ruangan itu. Anna membantuku, mencari-cari risleting
rok Ayu sambil terus menciumi bibir Ayu. Beberapa kancing baju Ayu
sudah mulai terbuka dan sambil terus memagut bibir dan lehernya, Anna
perlahan-lahan membuka baju Ayu. Aku mencoba menurunkan roknya setelah
risleting rok tersebut dibuka Anna. Anna menarik lengan Ayu agar berdiri
sejenak, lalu roknya kuturunkan tanpa kesulitan berarti. Kini Ayu hanya
mengenakan BH dan celana dalam. Di sebelah sana kulihat Henny dan Sinta
masih terus berciuman, tetapi baju keduanya sudah terbuka di bagian
atas. Ayu sempat kulihat melirik ke arah Henny dan Sinta, tetapi
kemudian menutup kelopak matanya sambil menikmati perlakuan Anna dan aku
terhadap dirinya. Kuelus-elus celah-celah paha Ayu dan kurasakan
rambut-rambut halus vaginanya. Kucari klitorisnya dengan jari
telunjukku. “Ahhhh …. Pakkkkk … Shhhhh …. ooooohhhhhh …..” desisnya
merasakan klitorisnya kuraba. Vaginanya mulai basah oleh rangsangan
hebat yang kami hadiahkan padanya.
Adegan di layar kini memperlihatkan bagaimana sang ratu dihantam oleh sang raja dengan berbagai pose. Doggy style, monyet menggendong anak, teratai, scissors style,
dan beberapa pose lain. Sang ratu menjerit-jerit karena nikmat dan
kelelahan. Apalagi kedua selir tadi turut membantu raja mengerjai sang
ratu. Setelah itu barulah sang raja menggilir kedua selir tadi.
Ayu
semakin tak menentu duduknya merasakan kenikmatan mulai menguasai
dirinya, terlebih lagi sewaktu aku membungkuk dan membuka kedua belah
pahanya dan menciumi vagina dan klitorisnya. Rintihannya semakin tinggi
akibat ulahku ditambah aksi Anna pada payudaranya. Aku memusatkan
perhatian pada vagina dan klitoris Ayu. Rambut vaginanya tidak terlalu
banyak, tetapi tampak rapi dicukur, dan baunya harum. Melihat bentuknya
sekilas kuduga ia masih perawan, tetapi aku tak berani berspekulasi,
“Kita buktikan nanti,” pikirku. Klitorisnya kuelus-elus dan kuciumi
lembut. Sesekali kuisap, kusedot dengan berbagai gaya yang memabukkan
dirinya. Geliatnya semakin menghebat. Kulirik sejenak, ada dua pasang
kaki kini berdiri di samping kami. Rupanya Henny dan Sinta sudah
mendekati kami bertiga. Dalam keadaan baju yang juga tak sepenuhnya lagi
rapi, keduanya turut merangsang Ayu. Kedua payudara Ayu diserang oleh
mulut, bibir dan lidah Henny dan Sinta, sedangkan bibir Ayu tetap berada
di bawah kekuasaan Anna.
Lidahku
terus bermain pada klitoris Ayu, kemudian kedua tanganku menguakkan
labia vaginanya lebar-lebar hingga aroma khas menerpa hidungku.
Kumasukkan lidahku sedalam-dalamnya, “Ooooohhhhhhh …….” jerit Ayu
membahana di ruangan tersebut. Rintihannya semakin kuat ketika kumainkan
lidahku dengan berbagai jurus maut, menusuk, mengisap, menyedot,
membelai, mengait-ngait, dan menggetar-getarkan. Cairan vaginanya
semakin banyak membasahi mulut dan lidahku. Beberapa kali pinggulnya
bergerak maju mundur seolah-olah meminta lidahku masuk lebih dalam. Aku
tak mau memasukkan jari-jariku ke dalam liang vaginanya, khawatir ia
masih perawan, sayang rasanya jika keperawanannya hilang oleh
jari-jariku dan bukan penisku.
Sinta
berjongkok di dekatku dan membukai celana panjang sekaligus celana
dalamku. Kemudian ia menarik tanganku agar berdiri sementara ia
berjongkok di depan pahaku. Dielus-elusnya rambut kemaluanku, juga
testisku. Kemudian lidahnya mulai menjilati sela-sela pahaku, testisku
hingga ke arah anusku, lalu mengarah ke pangkal penisku. Tangannya
menuntut penisku ke arah bibirnya. Ia ulas-ulas kepala penisku dengan
lidahnya. Payudara Ayu terus diremas oleh Henny dan kini Anna turut
meremas-remas sambil membuka BH-nya. Ciuman Henny dan Anna bergantian
membuat bibir Ayu tak sempat beristirahat. Di sela-sela pagutan Henny
dan Anna, kulihat Ayu sempat menatap penisku dikulum dan dijilati oleh
Sinta. Jari-jari Anna di sela-sela paha Ayu turut menambah birahinya. Ia
tidak hanya melihat film yang ada di hadapan kami, tetapi juga melihat live show yang
dipertontonkan oleh Sinta dan aku, sambil menikmati remasan, kuluman
dan ciuman Henny dan Anna. Desahan Ayu semakin kuat, tak menentu.
Kulihat
Anna menarik kedua belah paha Ayu dan meletakkannya ke lengan kursi dan
menggantung ke bawah. Kini Ayu dalam posisi duduk tetapi mengangkang
dengan kedua kaki berjuntai ke bawah. Anna masih terus meremas-remas
payudara Ayu sambil terus menciumi bibirnya, sedangkan Henny
mengelus-elus paha Ayu. Kulihat tangan dan jari Anna disela-sela
kesibukannya memberi kode padaku agar mendekati mereka. Kulepaskan
penisku dari kuluman Sinta dan kudekati kursi tempat Ayu duduk. Aku
menempatkan tubuhku persis di depan Ayu. Kedua kaki Ayu kemudian ditarik
oleh Sinta dan Henny hingga mengangkang, tetapi posisi vaginanya yang
merangsang semakin dekat pada penisku. Kuelus-elus vaginanya hingga ia
kembali merintih, “Oooohhh ….. Pakkkk …..”
“Tenang
sayang, kami akan memberikanmu pelajaran indah yang takkan kau lupakan
seumur hidupmu …” kataku sambil mendekatkan penisku pada vaginanya.
Kepala
penisku kugesek-gesekkan pada permukaan vaginanya hingga kurasakan
cairan vaginanya mulai membasahi penisku. Kucoba mencari klitorisnya
dengan menekan-nekan kepala penisku agak ke atas belahan vaginanya.
Kelopak mata Ayu agak membuka mengintip perbuatanku terhadap vagina dan
klitorisnya sambil terus merintih. Kuelus-elus klitorisnya dengan
memakai kepala penisku, hingga kulihat geliat pinggulnya semakin tak
beraturan. Anna masih terus meremas-remas payudara dan menciumi
bibirnya, sedangkan Henny dan Sinta sambil memegangi kedua belah paha
Ayu, melakukan belaian dan usapan yang semakin menambah kuat desahan dan
rintihannya. Setelah puas mengerjai klitorisnya, kuarahkan penisku ke
celah-celah vaginanya. Kuoles-oleskan kepala penis hingga sebatas
lehernya membelai labia kiri dan kanannya bergantian, lalu kumasukkan
pelan-pelan ke dalam liang vaginanya. “Oooouuuggghhhh …. aaaaahhhh …
Pak,” desisnya sambil meliuk-liukkan tubuhnya, apalagi puting
payudaranya kini diisap lagi oleh Anna. “Sssshhhh ….. aaaaahhhhh …
Buuuuu …… aaauuuhhhkkkk …”
Penis
kumasukkan semakin dalam, tetapi agak mengalami sedikit kesulitan. Aku
berpikir, tentu selaput daranya belum koyak, artinya Ayu masih perawan.
“Wah, benar-benar beruntung, bisa mendapat keperawanan seorang gadis
Bali dibantu oleh teman-temanku,” pikirku.
“Paaakkkk,
sakkkkittt …. ooookkhhhh … pelan-pelan Paaakkkk …. ssshhhh ….”
rintihnya. Kulihat sedikit air mata menetes turun dari kedua kelopak
matanya yang agak tertutup. Anna terus mencium bibir Ayu. Kuperhatikan
wajah Ayu, ada setetes air mata turun dari kelopak matanya yang agak
menutup. Kudekati wajahnya dan kucium kedua kelopak mata tersebut
bergantian. Setelah itu, kucium lembut bibirnya. Apakah karena aku
lelaki, sedangkan tadi yang menciumi dia perempuan, aku tak mengerti,
tetapi kurasakan ciuman Ayu ini begitu mesra menyambut ciumanku. Bahkan
lidahnya memasuki rongga mulutku dan mengait-ngait lembut lidahku dan
menggelitik langit-langit mulutku. Sesekali kuisap lidahnya, sehingga ia
memeluk rapat-rapat punggungku. Payudaranya masih diremas-remas oleh
jari-jari Anna yang kini terjepit di antara dadaku dan payudara Ayu.
“Masih sakit, Non?” bisikku sambil memaju-mundurkan penisku ke dalam vaginanya.
“Nggak
Pak, lagi Pak … aaaahhhh, yaaahhhh gitu Pak ….. Udah enak Pak … sshhhh
…. ooohhhhh ….,” rintihnya sambil memeluk erat-erat leherku. Kurasakan
denyutan vaginanya semakin kencang menyedot penisku. Tentu tak lama lagi
ia bakal mencapai puncak kenikmatan.
“Aaaaaahhhhh
….. oooooouugggghhhh ….. sssssshhhhh ……. ” jeritan Ayu terdengar kuat
menyaingi suara rintihan film yang masih terus berjalan. Sempat kulirik
tayangan film memperlihatkan bagaimana sang raja kembali merangsek sang
ratu, dibantu oleh dua selirnya mementangkan lebar-lebar paha isterinya
dan menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Kedua kaki sang ratu terbuka
begitu lebar sedemikian rupa dan kedua selir tadi membengkokkan lututnya
sambil berlutut di dekat sang ratu. Secara bergantian keduanya menaruh
vaginanya di atas wajah sang ratu sambil meremas-remas payudaranya.
Kemudian sang raja berdiri sambil menarik kedua kaki sang ratu, dengan
penisnya tetap menancap pada vagina ratu. Kini tubuh sang ratu agak
melengkung dengan kepala terletak di lantai berkarpet, di mana ia dapat
melihat bagaimana penis suaminya masuk keluar vaginanya yang ada di
atasnya. Kedua belah pahanya dikuakkan lebar oleh suaminya yang kini
tidak hanya menghunjamkan penis ke vaginanya, tetapi berganti-ganti
memasuki anal dan vaginanya, membuat sang ratu memekik-mekik kenikmatan.
Setelah itu sang raja menusuk anal sang ratu dengan posisi menungging
lalu membalikkan tubuh sang ratu hingga rebah terlentang di atasnya lalu
bergantian kedua selirnya memasukkan dildo ke dalam vagina sang ratu
yang menjerit-jerit hingga mengalami orgasme berkepanjangan. Saking
hebatnya orgasme sang ratu, air seninya turut muncrat bersamaan dengan
cairan vaginanya. Ayu sempat melirik ke layar melihat adegan itu.
Penisku
semakin cepat menggempur vagina Ayu yang makin basah. Kesulitan yang
kualami tadi tak lagi terjadi, setelah selaput daranya berhasil
kutembus. Dengan suatu hentakan dahsyat kutekan penisku sedalam-dalamnya
menerobos liang vaginanya, membuat Ayu menjerit, “Aaaaaaaahhhhhhh……”
Dipeluknya aku erat-erat sambil mencium bibirku tanpa dapat kulepaskan.
Denyutan dinding vaginanya berlangsung beberapa saat, seperti mpot ayam
meremas-remas penisku hingga aku mengerang mengikutinya mendaki puncak
kenikmatan, “Ooohhh, Ayuuuuuu …. nikmat …. ssshhh …. sayanggggg….” Kami
berdua masih berpelukan lalu kulepaskan penisku dari vaginanya sambil
menoleh melihat pada Anna, Henny dan Sinta yang berdiri di dekat kami
berdua. Anna mengambil sapu tangan dan membersihkan bercak-bercak yang
ada di paha Ayu. Sempat kulihat sekilas ada noda merah. Ketiganya
tersenyum melihatku sedangkan Ayu tersipu-sipu sambil mengambil
pakaiannya dan mengenakannya kembali. Anna, Henny dan Sinta memperbaiki
pakaian mereka dan duduk kembali menatap film yang diputar. Tampaknya
film itu hampir usai, sebab sang raja sedang duduk melihat sang ratu
meredakan napas sambil pahanya dibersihkan oleh para selirnya. Anna
berbisik pada Ayu, “Bagaimana Ayu, enak kan?”
“Ya Bu. Tapi koq Ibu tidak marah, suami Ibu main dengan saya di depan Ibu?”
“Nggak
apa-apa sayang, aku malah senang melihatmu bisa memuaskan suamiku,”
bisik Anna sambil membelai-belai wajah Ayu dan meraba bibir Ayu serta
mencium bibir Ayu lagi. “Aku minta no. HP-mu ya, karena mau menghubungi
kamu besok untuk memberikan hadiah atas pelayanan yang kau berikan.” Ayu
menyebutkan no. HP-nya dan disimpan oleh Anna pada HP-nya.
“Besok kamu bisa minta ijin tidak bekerja, sayang?” tanya Anna lagi pada Ayu.
“Saya off besok, Bu.”
“Ok,
kalau begitu, kamu bisa temani kami belanja besok siang ya?” pinta Anna
sambil mencium kedua pipi Ayu. Ayu mematikan film yang kami tonton di
sela-sela permainan panas kami yang berakhir pada terenggutnya
keperawanan Ayu olehku dan menuju lobby hotel. Sambil melambaikan tangan
pada Ayu yang menuju lobby untuk melanjutkan tugasnya, kami berempat
masuk ke dalam lift menuju kamar. Hanya kami berempat di dalam lift itu
menuju lantai di mana kamar kami berada.
“Gila lu Gus, bisa dapet keperawanan gadis Bali,” tukas Henny.
“Tauk
nih cowok, beruntung banget ngikut kita liburan. Dapet tiga veggy
gratis ditambah bonus satu selaput dara,” ujar Anna menimpali.
“Walaupun
gitu, ntar malam kamu harus bisa memuaskan aku, ya Gus,” celetuk Sinta
sambil memeluk pinggangku dan mencium bibirku. Kami keluar lift dan
berjalan di koridor. Sinta dan Henny berbelok menuju kamar mereka
sedangkan Anna memeluk pinggangku sambil menuju kamar kami. Sesampainya
di kamar, telepon berdering, Anna mengangkat telepon tersebut, dan
kudengar menjawab, “Gimana honey, kamu baik-baik aja?” Kupikir tentulah
Dicky yang menelepon. “Ya, kami tadi nonton tarian tradisional di hotel,
ini baru masuk kamar. Kami puas. Banyak cerita dech, pokoknya kalau
balik ke Jakarta, kami bawain oleh-oleh yang banyak,” sambungnya. “Oh
ya, dia ada nich, mau bicara?” tanya Anna sambil memberikan gagang
telepon kepadaku.
“Ada apa, Bung?” tanyaku sambil mendekatkan telinga ke telepon.
“Gimana Gus, bini gue udah ada tanda-tanda hamil belum?” tanya Dicky.
“Waduh
mana kutahu Dick, aku kan bukan dokter kandungan? Tapi yang jelas,
nafsunya makin hebat belakangan ini, sampai kewalahan aku dibuatnya,”
jawabku.
“Emang
tuh, aku juga heran. Sebelum berangkat ke luar negeri, ia minta
kulayani tiap malam, sampai kering rasanya lututku, ha … ha … ha …
Apalagi kamu ya, bukan cuma dia, tapi masih ada dua wanita lain jadi
dayang-dayangmu?” katanya lagi.
“Ngeri
Dick, rasanya habis tubuhku diperas mereka bertiga, apalagi Anna,
seakan tak ada puasnya. Aku minta pensiun nich….” kataku. Mendengar
kata-kataku, Anna mendekat sambil mencubit pinggangku kuat-kuat.
“Addduuhhh …” jeritku.
“Ada apa, Gus?” tanya Dicky.
“Ini
lho, istrimu yang luar biasa, tidak terima ucapanku. Sampe biru
pingganggku dicubitnya,” kuadukan Anna pada suaminya. Anna mendekatkan
telinganya ke gagang telepon dan berbisik, “Say, udah malam nich, jangan
lupa istirahat yang cukup ya biar fresh kalo pulang ke Jakarta, kita
main rame-rame sayang …”
“Ya,
ya, ya … Aku siap menerima tantanganmu sayang, tapi bilang pada Agus,
jangan lupa menjemputku di bandara ya? Ok, salam buat Sinta dan Henny
yang sexy ya! Mmmmuahhh,” kata Dicky menutup percakapan. “Selamat malam,
sayang,” timpal Anna.
Baru
saja gagang telepon diletakkan, sudah berbunyi lagi, “Koq lama banget
bicara apa siapa sih, teleponnya sibuk terus?” tanya Sinta dari seberang
sana. Kujawab, “Barusan Om kamu telepon nanyain kamu.”
“Idihhh
bisa aja, paling kangen ama Tante dan Tante Henny,” kudengar suara
Sinta bernada kesal. “Kami mau ke kamar kalian. Gimana, masih terima
tamu, nggak? Kalau nggak, biar kami keluar aja jalan-jalan sampai pagi?”
“Gila, kalian mau ditawar ama turis-turis asing?” tanyaku, “Ya udah, datang aja kemari, pake nanya segala.”
“Ya deh,” jawab Sinta sambil menutup pembicaraan.
Tak
berapa lama pintu kamar diketuk, kubuka pintu dan kulihat Henny dan
Sinta berdiri di depan pintu dengan pakaian tidur yang agak tipis.
Kutarik tangan keduanya, “Kalian apa-apaan sih, koq pakai baju gitu,
ntar dilihat orang, bakal curiga tuh?”
“Biarin aja, sekali-sekali bikin heboh,” kata Henny sambil melangkah masuk dan menaruh pantatnya di sofa.
Anna yang berbaring dengan pakaian tipis hanya tersenyum simpul melihat keduanya.
Sinta
yang masih berdiri di dekatku memeluk pinggangku dari belakang sambil
menutup pintu kamar. Aku berjalan ke arah ranjang dan mengambil remote
TV. Kucari siaran tengah malam. Seperti biasa, hotel itu menyediakan
tayangan khusus dewasa baik film dari channel tertentu maupun video yang
disalurkan spesial bagi tamu di kamar yang meminta. Video yang diputar
masuk kategori X satu, hingga kucoba mencari film di saluran tertentu.
Saluran dari beberapa stasiun TV di Eropa dan Vietnam menayangkan blue
film. Kupilih yang ada ceritanya agar tidak membosankan jika hanya
melihat orang yang begitu ketemu langsung saling cium dan bersetubuh.
Henny
mengambil bantal dan meletakkan tubuhnya menelungkup di samping Anna,
sedangkan aku di sisi lain tubuh Anna berbaring menelungkup dengan Sinta
menindih punggungku dalam posisi sama-sama menelungkup. Kami berempat
nonton film yang memperlihatkan seorang perempuan yang bertemu dengan
mantan suaminya ketika berjalan-jalan di suatu taman rekreasi. Suaminya
mengajak pria yang menjadi mantan suaminya ke villa tempat mereka
menginap. Mereka makan malam bersama dan main kartu. Sesekali suaminya
mencium si istri di depan mantan suaminya. Melihat mereka berciuman dan
kadang si suami meremas-remas payudara istrinya, si mantan suami hanya
dapat menelan ludah. Apalagi saat mantan istrinya itu mengajak suaminya
ke kamar dan membiarkan dia sendirian di ruang tamu. Keduanya masuk
kamar saling berpagutan bibir dan berpelukan lalu berbaring di ranjang
dalam keadaan telanjang tanpa peduli si mantan suami perempuan itu
mengintip dari balik daun pintu yang sengaja agak terbuka. Keduanya
bercinta dengan ganasnya. Saking tidak tahannya, sang mantan suami yang
melihat kemolekan mantan istrinya, beranjak memasuki kamar dan melihat
mereka bercinta dengan berbagai gaya. Pada klimaksnya, si suami mencabut
penis dari vagina istrinya dan meminta si istri melumat penisnya hingga
ejakulasi di mulutnya. Setelah itu sang suami meminta mantan suami
istrinya melayani istrinya. Tanpa dikomando dua kali, ia segera membuka
seluruh pakaiannya dan naik ke ranjang bercinta dengan mantan istrinya
itu, sementara pria yang satu lagi memberi penisnya dilumat mulut
istrinya. Jadilah kedua “mulut” si perempuan dimuati oleh penis suami
dan mantan suaminya. Orgasme demi orgasme dilampaui ketiga orang itu.
Sinta
sudah mulai bereaksi saat melihat film itu. Jari-jarinya tak berhenti
mengelus-elus seluruh tubuhku. Ia berupaya meraba penisku yang tertekan
di bawah tubuhku. Aku berbalik terlentang hingga ia bebas melakukan aksi
terhadapku. Henny dan Anna hanya melihat kami berdua sambil terus
menonton film di TV.
Sinta
tak sabaran lagi membuka celana pendekku dan melumat penisku sambil
merebahkan wajahnya pada perutku. Kuelus-elus rambutnya sambil
perlahan-lahan meraba payudaranya. Ia mengerang saat kutemukan dan
kupelintir putingnya bergantian kiri dan kanan. Dijilatinya kepala
penisku, batangnya hingga ke pangkalnya, dan kedua testisku bergantian
ia masukkan ke mulutnya dan dikulum beberapa saat sambil meraba-raba
pahaku dan mengelus-elus lubang analku. Kemudian ia masukkan penisku ke
dalam mulutnya hingga pangkalnya. Tidak puas dengan rebah sambil
melakukan hal itu, ia beringsut dan setengah membungkuk mulai
memasuk-keluarkan penisku dalam mulutnya hingga kurasa penisku semakin
membengkak dan rasa hangat mulai menjalari ubun-ubunku. Agaknya tak lama
lagi Sinta akan melanjutkan ulahnya. Dugaanku tak salah, sebab dengan
gerakan cepat, Sinta membuka gaun tidurnya bahkan celana dalam dan
BH-nya, lalu dengan menghadap ke arahku, ia berjongkok di atas perutku,
memegangi penisku dan memasukkannya ke vaginanya. Terasa olehku penisku
mulai memasuki relung vaginanya yang basah. Beberapa tetes cairannya
bahkan kurasakan pada pahaku. Barangkali ia sudah sangat horny.
Dengan bertumpu pada kedua tangannya yang ia letakkan di atas perutku,
Sinta menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku hingga penisku leluasa
masuk-keluar vaginanya. Sedotan vaginanya pada penisku terasa amat
kencang, pertanda ia sudah benar-benar dilanda birahi. Desahannya
semakin kuat ketika kedua tangan kugunakan untuk meremas-remas payudara
dan putingnya. “Lho, lho, live show-nya sudah mulai ya?” tukas
Henny melihat kami berdua. Anna hanya tersenyum melihat keponakannya
menguasai diriku, sambil jari-jemarinya ia gunakan mengelus-elus
payudara Henny dari luar baju tidurnya. Henny membalas dengan elusan
jari-jari pada lengan dan pinggul Anna.
Gerakan
Sinta semakin cepat dan rintihannya berpadu dengan suara perempuan yang
bermain melawan dua pria film di TV. Sesekali kuangkat pinggulku agar
penisku masuk lebih dalam ke vaginanya. Hal itu membuat Sinta semakin
tak kuasa lagi menahan diri, berulang kali ia gesek-gesekkan vaginanya
menelan penisku. Bukan hanya naik turun, ia pun menggoyang-goyangkan
pinggulnya ke kanan dan kiri, bahkan sesekali memutar hingga penisku
benar-benar tidak bisa melakukan perlawanan berarti selain pasrah
terhadap aksi vaginanya. Penisku terasa semakin basah dan pangkal pahaku
semakin becek oleh cairan yang menetes dari vaginanya.
Henny
dan Anna lalu mendekati Sinta, yang satu menciumi bibir Sinta, sedang
yang lain menciumi payudaranya. Lalu Anna berpindah ke belakang tubuh
Sinta. Kuperhatikan ia mengelus-elus pantat Sinta. Mungkin jari-jarinya
ia gunakan untuk merambah ke dalam anal Sinta. “Ahhhh, Tanteeee ….. enak
tuchhh … terusin dongggg …..” desah Sinta sambil terus
menggeliat-geliat. Payudaranya terus dicium dan diisap oleh Henny,
sehingga serangan pada tiga arah membuatnya tak mampu lagi bertahan.
Rintihan Sinta semakin kuat ketika ia semakin tinggi mendaki. Lalu kedua
tanganku menarik pinggulnya hingga tubuhnya rebah menimpa diriku. Kedua
bongkah pantatnya kuremas kuat-kuat ke arahku hingga penisku terbenam
dalam-dalam pada vaginanya. “Guuussss, aku dapet sayang!” jeritnya.
Guyuran cairan vaginanya pada penisku begitu banyak, sehingga semakin
basah rasanya pangkal paha dan perutku. Henny menyedot kuat-kuat puting
payudara Sinta, entah Anna, apa yang ia lakukan terhadap anal Sinta aku
tak tahu.
Anna
menarik tubuh keponakannya turun dari atas tubuhku dan menempatkan diri
menggantikan Sinta menunggangi aku. Aku yang belum mencapai orgasme
merasa senang menyambut gerakan Anna. Begitu ia naik ke atas perutku dan
mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku, langsung kutarik rebah
tubuhnya menimpa dada dan perutku, lalu kubalikkan dengan posisi
terbalik. Kini ia berada di bawah, dengan posisi klasik, missionary style.
Kedua pahanya kujepit dengan kedua pahaku, dan kubelitkan kakiku pada
betisnya hingga penisku tertancap dalam tanpa dapat ditahan. Kugerakkan
pantatku naik-turun hingga penisku masuk keluar vaginanya sambil
payudaranya kuisap kuat-kuat. “Ahhhh, Gus, pelan-pelan, bisa putus ntar
putingku ….” rintihnya.
Sinta
terbaring sambil meredakan napasnya menatap Tantenya kukerjai. Henny
yang belum apa-apa membantu aksiku memuaskan temannya. Diciuminya bibir
Anna sambil meremas-remas sebelah payudara Anna yang tidak kulumat.
Henny kemudian beranjak ke bawah dan tubuhnya menimpa punggungku, sebab
kurasa kedua payudaranya menekan punggungku sedang pahanya menjepit
kedua pahaku yang sudah mengunci paha Anna. Kini aku dijepit oleh dua
perempuan. “Gila lu Hen, bisa mati kegencet aku …. Sssshhh ….. aaaahhhh
….” kata Anna di sela-sela desahannya. Tapi kekhawatirannya tak
beralasan, sebab Henny tidak benar-benar menjatuhkan tubuhnya membebani
aku, ia masih menahan tubuhnya agar tidak memberatkan temannya. Sambil
tangan kirinya menahan tubuhnya agar tidak terlalu berat menimpaku,
tangan kanannya merabai payudara Anna. Namun tak lama kemudian ia
kembali mendekati kepala Anna dan menaruh vaginanya tepat di atas wajah
Anna sambil menarik tubuhku agar berciuman dengannya. Aku mencium bibir
Henny sambil terus merangsak vagina Anna yang semakin licin oleh cairan
pelumas. Payudara Henny kuremas-remas sementara Henny meremas-remas dan
memelintir puting payudara Anna sambil terus menggeliat-geliatkan
pinggulnya di atas wajah Anna. Desahan Henny bercampur dengan rintihan
Anna. Tak lama kemudian kurasakan aliran darahku semakin deras,
kupercepat gerakan penisku sambil mengerang, “Annn… aku hampir sampai
sayang ….” Anna membelai-belai pinggulku dan mendesakkan pinggulnya
semakin ketat ke arahku hingga penisku ditelan habis oleh vaginanya.
“Ahhhh, aku juga Gus, tahan ya? Kita sama-sama ….. oooouggghhh …
aaakkkhhh …. ssshhhhh …. uuukkkhhhhhh ….” rintihannya semakin kuat
berubah menjadi jeritan. Semprotan spermaku di dalam vaginanya terasa
begitu kuat, lebih-lebih saat dinding vaginanya meremas-remas penisku.
Aku menjatuhkan tubuh menimpa Anna, sedangkan Henny sudah menarik
tubuhnya dari atas wajah Anna. Beberapa saat kemudian aku membalikkan
tubuh berbaring terlentang di sisi Anna dan Sinta. Henny meraba-raba
penisku dan menciuminya, “Ihhh pada curang, aku belum kebagian nich …”
katanya. Anna dan Sinta hanya tersenyum menatap ke arahnya.
“Sabar
Yang, ntar dulu, aku masih capek nich …” kataku. Henny masih terus
menciumi dan menjilati penisku yang basah akibat sperma dan cairan
vagina Anna. Penisku tidak setegang tadi lagi, tetapi dengan lihaynya,
Henny mengocok-ngocok penisku, sehingga ketegangannya tetap bertahan.
Aku merasa agak ngilu, tetapi kasihan juga melihat Henny menderita.
“Ok,
sayang. Kamu nungging ya?” pintaku sambil merabai tubuhnya. Henny
menuruti permintaanku, lalu menungging di depanku. Kuarahkan penisku ke
vaginanya yang basah. Kujilati sebentar membaui aromanya yang spesifik.
Kumainkan telunjukku mengait-ngait klitorisnya. “Udah dech, buruan Gus,
nggak usah pake foreplay lagi, aku nggak kuat lagi nih…” desahnya.
Aku
tertawa dan memenuhi perkataannya dengan menempatkan penisku tepat di
vaginanya. Kumajukan tubuhku mendesak pantatnya hingga penisku masuk ke
dalam vaginanya dengan telak. “Guuuussss….. ooooohhh …
nikmatttttnnyaaaa…” desahnya sambil memaju-mundurkan tubuhnya agar
penisku dapat leluasa bergerak maju-mundur ke dalam vaginanya. Kupegang
kedua pinggulnya dan melanjutkan gerakanku. Kedua payudara Henny
bergantung bak buah pepaya. Melihat itu, Sinta menempatkan diri
terlentang di bawah tubuh Henny hingga mulutnya bebas mencium dan
mengisap payudara Henny. Lama melakukan itu, Sinta meneruskan aksinya
dengan turun terus ke arah perut dan vagina Henny dan memberikan
vaginanya untuk diciumi Henny. Henny bak anak kecil mendapat mainan,
segera melumat vagina Sinta sambil menikmati penisku pada vaginanya dan
jilatan Sinta pada klitorisnya. Terlebih ketika jari telunjukku
kumasukkan pelan-pelan ke analnya, membuat Henny semakin mengerang.
Mungkin akibat pengaruh menyaksikan persetubuhanku dengan Sinta dan Anna
sebelumnya, membuat Henny tak mampu lama-lama bertahan, dengan suatu
sentakan kubuat ia menggapai titik kenikmatan dengan rintihan panjang,
“Aaaaauuukkhhhh ……” Setelah itu, kami berempat berbaring kelelahan. Aku
merasa tenagaku terkuras habis melayani nafsu ketiga perempuan itu. Tak
sadar lagi aku tertidur dengan kepala Anna pada pahaku dan ketiakku
disusupi wajah Henny sedangkan Sinta memeluk tubuh Henny dari belakang.
Aku tertidur lelap hingga bangun pukul 8 dan melihat Anna baru selesai
mandi dan sambil berhanduk, mematut diri di depan meja cermin. “Mana
Henny dan Sinta?” tanyaku sambil membuka mata.
“Mereka
sudah hengkang pukul 4 tadi,” katanya sambil menarik selimutku, “Sana,
mandi! Bau tau!” Tubuhku yang telanjang terbuka ketika selimutku
disingkapkan oleh Anna. Aku melangkah menuju kamar mandi sambil
melabuhkan ciuman kecil pada kuduknya. Aku pun mandi dan berkemas-kemas.
Kami
sarapan di restoran hotel. Usai makan, Anna mengambil HP-nya, “Ayu …
Ayu ya?” Lalu ia lanjutkan, “Kamu bisa temui kami di hotel sejam lagi
biar temani kami belanja?” Setelah mendapatkan jawaban dari seberang, ia
katakan, “Baiklah, kami tunggu ya! Trims.”
Kami
duduk-duduk di taman hotel sambil menikmati suasana pagi yang cerah.
Tak lama kemudian Ayu datang dengan celana panjang coklat tua dan
t-shirt berwarna kuning gading. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai
hingga menampakkan kecantikan alamiahnya. “Ke mana kita Bu?”
“Ah
kamu … Dari semalam manggilnya Bu melulu sih, apa aku sudah begitu
tua?” kata Anna, “Panggil Mbak keq …” sambung Anna sambil berdiri
mengajak kami bertiga untuk berjalan.
“Ya deh, ke mana kita Mbak?” ulang Ayu sambil tersenyum melirik ke arahku.
Aku
membalas senyumnya sambil mengikuti langkah mereka. “Kita cari
oleh-oleh dan souvenir khas sini ya?” kata Anna seraya memegang tangan
Ayu.
Kami
berlima kemudian berbelanja. Cukup banyak juga makanan dan minuman khas
Bali yang kami bawa. Selain itu, kami juga membeli beberapa ukiran
patung buatan sana. Lalu Anna mengajak kami masuk ke suatu toko seluler.
Setelah melihat-lihat, ia berkata pada Ayu, “Nah, semalam kan Mbak
janjikan mau memberikan hadiah pada Ayu. Mbak liat HP kamu sudah kuno,
perlu diganti tuh. Sekarang pilihlah mana yang kamu suka!”
Ayu tersipu-sipu, “Wah, ulang tahun saya masih lama, Mbak. Koq dikasih hadiah sekarang sih?”
“Sudahlah, nggak usah menolak. Ayo, kamu pilih deh!”
Ayu
agak segan, tetapi karena didesak oleh Anna, juga dibantu oleh Henny,
ia tak berani menolak lagi. Mula-mula ia memilih HP Nokia di bawah harga
Rp 1 juta. Namun Anna tidak setuju dan meminta pelayan toko mengambil
sebuah HP Nokia high-end seharga Rp 4 juta. Ayu terkejut melihat hal itu. “Ah, kemahalan tuh Mbak, saya cukup yang murah saja.”
“Sudahlah,
tak baik menampik permintaan orang, apalagi kamu sudah saya anggap adik
sendiri,” kata Anna sambil meminta pelayan toko mencoba HP tersebut.
Setelah mendapat penjelasan seperlunya dan memasukkan no. HP lama Ayu ke
dalam HP baru tersebut dan membelikan voucher pulsa buat Ayu, kami
meninggalkan toko tersebut dan diajak Anna masuk ke toko busana. Di sana
mereka membeli beberapa pakaian, termasuk untuk Ayu yang semakin jengah
karena dibelikan beberapa macam barang. Dengan bungkusan yang cukup
banyak, kami mencari rumah makan yang menyajikan suguhan nikmat atas
saran Ayu.
Puas
mengisi perut, kami pun kembali ke hotel. Ayu yang memang sedang tidak
bertugas, diminta oleh Anna menemani kami hingga malam, sebab besok
siang kami sudah kembali ke Jakarta. Ayu tidak keberatan dan mengikuti
kami ke kamar Anna dan aku. Setelah meletakkan barang-barang, kami
duduk-duduk di ruang tamu kamar itu. Tak berapa lama, Anna masuk ke
kamar mandi. Terdengar suara air pada bathtub, agaknya ia kegerahan sehingga mau mandi, pikirku. Agak lama di dalam kamar mandi, kemudian kami dengar suaranya berseru.
“Ayu, tolong ambilin bajuku dong, ketinggalan di atas kasur …” pintanya pada Ayu.
Ayu
menatap kami satu persatu, seakan-akan memintakan persetujuan kami. Ia
agak risih mungkin, sebab orang baru, tetapi justru ia yang dimintai
tolong oleh Anna. Tampak keragu-raguan di matanya. “Udah Ay, kan kamu
yang dimintai tolong ama Tante, buruan …” desak Sinta sambil
mengunyah-ngunyah kacang Bali yang kami beli.
Ayu menoleh ke arah ranjang dan beranjak mengambil gaun Anna dan menuju pintu kamar mandi. “Ini Mbak,” katanya.
“Masuk aja, pintunya nggak dikunci koq,” kudengar suara Anna.
Ayu
masuk untuk memberikan gaun tersebut, tetapi tak lama kemudian
terdengar suaranya bernada kaget, “Ahhh … Mbak, jangann ….” Aku
penasaran, entah apa lagi yang dilakukan Anna terhadapnya. Henny cuma
melempar senyum padaku, sedangkan Sinta pura-pura tak tahu dan menikmati
makanan kecil di atas meja. Aku berjingkat-jingkat ke arah kamar mandi,
kulihat pintunya agak terbuka. Kuintip ke dalam dan kulihat
membelakangi pintu, tubuh Ayu sedang dipeluk oleh tubuh telanjang Anna
sambil diciumi bibirnya. “Mmmppfff … aaahhhh …” desah Ayu berusaha
menolak tubuh Anna. Namun Anna tidak melepaskan jepitannya pada pinggang
Ayu, justru ia tarik tubuh Ayu semakin kuat hingga keduanya seperti dua
orang yang sedang bergulat. Dengan suatu paksaan, Ayu berhasil
didudukkan oleh Anna di atas closet sambil terus diciumi bibirnya dan
t-shirtnya dijelajahi oleh tangan Anna. Mendapat serangan mendadak, Ayu
tak bisa bertahan lagi, ia hanya terduduk sambil menerima kuluman bibir
Anna pada bibirnya dan remasan jari-jari Anna pada dadanya. Ia mulai
mendesah. Kuintip terus mereka. Kulihat bagaimana tangan Anna dengan
lincahnya membuka t-shirt yang dikenakan Ayu hingga terlihat sebagian
payudaranya yang masih terbungkus BH berwarna putih. Celana panjangnya
tak luput dari sasaran tangan Anna yang dengan cepat mengarah pada
risleting belakang dan setelah membuka celana tersebut, segera
melemparkannya ke dekat wastafel bersama-sama t-shirt Ayu. Ayu masih
terus mendesah menikmati jilatan lidah dan kuluman bibir Anna yang gesit
pada bibir, dagu, leher dan dadanya. Sambil mencium dan menjilat, Anna
membuka kaitan BH Ayu hingga terpampanglah payudaranya yang indah. Tubuh
Ayu yang sawo matang kini hanya dibalut oleh celana dalam. Payudaranya
menggantung indah, tampak sangat alami, belum kendor. Anna melumat
putingnya sehingga membuat Ayu semakin mendesah. “Mbaaaakkk … ssshhh ….
aaaakkhhhh … Udah Mbak, aku …. aaaaahhh …. “
“Kenapa sayang? Kamu kesakitan ya?” bisik Anna sambil menghentikan kuluman bibirnya tetapi terus mengelus-elus tubuh Ayu.
Ayu
menggelengkan kepala, tetapi matanya terlihat sayu karena mulai dilanda
oleh birahi. “Mbak terusin ya, biar kamu puas sayang ….” kata Anna
sambil meneruskan elusan dan remasan jari-jarinya di sekujur tubuh Ayu.
“Susu
kamu indah sekali, sayang!” kata Anna sambil membelai-belai payudara
Ayu dan putingnya. Memang dibandingkan ketiga perempuan itu, payudara
Ayu kulihat paling bagus. Bentuknya tidak terlalu besar, tetapi
putingnya tidak seperti payudara pada umumnya menonjol dengan besar yang
sama dari pangkal hingga ujungnya, tetapi bak kerucut, mulai dari
pangkal hingga ujungnya. Payudara Ayu juga terasa kenyal, tidak terlalu
kendor seperti Anna yang sudah menikah cukup lama, apalagi dengan Henny
yang menurutnya suami gelapnya sangat suka meremas-remas dan mengulum
putingnya hingga memerah. Milik Ayu sama sekal dengan payudara Sinta
yang belum menikah, tetapi walaupun lebih kecil daripada punya Sinta,
tampak masih asli, pertanda tidak banyak jari dan mulut yang sudah
mengulumnya. Belakangan baru kutahu, bahwa Ayu masih lugu, ia punya
pacar anak seorang pejabat di Denpasar yang kini sedang studi lanjut di
Prancis.
Kini
jari-jari Anna turun ke perut dan sela-sela paha Ayu sehingga spontan
Ayu menutup rapat-rapat kedua belah pahanya. Namun hal itu hanya
berlangsung sekejap, sebab ketika kedua putingnya dilumat bergantian
sambil diremas-remas payudaranya oleh Anna, kembali Anna meraba pahanya
dan membukanya perlahan-lahan. Kini ia tidak menolak dan semakin
melebarkan kedua pahanya. Jari-jari Anna bergerak mengelus-elus pangkal
paha Ayu yang semakin kuat mendesah. Celana dalam Ayu tak lama kemudian
dibuka oleh Anna hingga ia pun telanjang bulat. Keduanya dalam keadaan
berdiri berpelukan dan berpagutan mesra. Desahan Ayu kembali terdengar
saat Anna menurunkan ciuman bibir dan jilatan lidahnya ke leher,
payudara, perut dan berhenti di pangkal paha Ayu. Rambut kemaluan Ayu ia
geraikan dan lidahnya terjulur ke dalam vaginanya. Ayu merintih sambil
meremas-remas rambut Anna. Kubuka celana dan bajuku dan dengan
bertelanjang, aku masuk ke dalam kamar mandi dan mendekati keduanya. Ayu
agak terkejut demi melihatku masuk, tetapi ia tak mampu melakukan
apa-apa ketika sambil kucium bibirnya, kuangkat tubuhnya dan kupondong
keluar dari kamar mandi diikuti oleh Anna dari belakang. Sambil
menggendongnya dengan kedua tanganku, kuciumi bibirnya dan kumainkan
lidahku dalam rongga mulutnya.
Kubaringkan
tubuh Ayu terlentang di kasur dan terus kuciumi bibir dan seluruh
wajahnya sementara Anna kembali menciumi vagina Ayu. Sinta dan Henny
hanya menatap kami bertiga. Ayu merintih ketika lidah Anna membelai dan
bibirnya mengisap klitorisnya. Sambil melakukan hal itu, jari telunjuk
Anna masuk ke dalam liang vagina Ayu, “Aaaahhhhh, sakiiitt … Mbakkkk ….”
jerit Ayu.
“Tenang sayang, kan semalam sudah enak waktu ditembus Agus?”
Ayu
hanya menatapnya sayu sambil mengatur napasnya yang semakin tak menentu
akibat deraan nafsu yang semakin tinggi saat putingnya kumainkan dengan
jari-jariku.
“Mbak
pelan-pelan aja ya sayang?” kata Anna sambil mengorek-ngorek liang
vagina Ayu dengan telunjuknya. Bisa dipastikan, vagina Ayu semakin basah
akibat tusukan jari Anna. “Nah, sudah enakan sekarang?” tanya Anna
sambil menatap wajah Ayu. Ayu menjawab dengan suara berbisik, “Yahh,
sssh … yah .. enak Mbak …. aaahh ….”
Anna
mempercepat jarinya masuk-keluar vagina Ayu, hingga Ayu semakin kuat
merintihan. “Ahh …. ssshhh … mmmppfff…. aaauuhhh …. oooggghhh …” Anna
tidak menghentikan ciuman dan permainan lidahnya, bahkan semakin
mengganas dengan jari-jari yang semakin intens masuk dan keluar liang
vagina Ayu.
“Anna,
jangan kencang-kencang dong sayang, kasihan Ayu ….. lihat nich wajahnya
menahan sakit ….” kataku berlagak kasihan pada Ayu sambil mengisap
puting payudaranya bergantian.
“Kalau gitu, kustop aja, Ayu?” Anna pura-pura bertanya sembari menghentikan jari dan mulutnya serta memandang wajah Ayu.
Ayu
dengan mata terpejam menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nggak Mbak,
jangan distop, nggak … ja …. jangaaannn Mbak, oohh …. terus … terusin …
aahh … ssshh …”
Anna
tersenyum sambil kembali mengisap klitoris dan labia vagina Ayu serta
memasuk-keluarkan jarinya ke liang vagina Ayu. Lidahnya bahkan turun
sesekali ke sela-sela antara vagina dan anal Ayu, serta mulai beroperasi
di seputar lubang anal Ayu, hingga membuat gadis Bali itu menggeliat
kegelian dan mengangkat pinggulnya. Aku mengajari dan meminta Ayu untuk
menciumi dadaku. Mula-mula ia agak menolak, tetapi karena payudaranya
terus kucium dan kujilati, lama-lama ia terangsang untuk menjilati
dadaku. Awalnya, lidahnya terjulur menyentuh puting susuku. Lidahnya
yang basah membuatku merasa nikmat, juga ketika kedua bibirnya mulai
mencoba memasukkan putingku ke dalam mulutnya. Apalagi waktu lidahnya
menjilati putingku sambil bibirnya mengisap putingku yang tak sebesar
putingnya.
Tiba-tiba
Ayu menjerit, “Auwwww … aaahhh …. dingin …. ” Kutoleh ke arah bawah.
Tanpa kuperhatikan, Sinta dan Henny sudah mendekati kami. Rupanya Sinta
menaruh buah anggur dingin yang kami beli di supermarket ke sela-sela
vagina Ayu hingga ia terkejut. Namun setelah beberapa kali Sinta
menggesek-gesekkan buah anggur di celah-celah labia vagina Ayu, ia tidak
lagi kaget, malah semakin menikmati sensasi aneh yang ditimbulkan
perbuatan Sinta. Setelah membasahi sebuah anggur dengan cairan vagina
Ayu, Sinta mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri
tanpa rasa jijik sedikit pun. Henny melakukan hal serupa terhadap Ayu.
Kini tiga perempuan itu mengerumuni vagina Ayu. Sinta dan Henny
bergantian memasukkan buah anggur ke vagina Ayu lalu memakan anggur
tersebut setelah dilumuri cairan vagina Ayu. Mereka melakukan hal itu
sambil sesekali berciuman. Anna turut dalam aksi mereka dalam berciuman
sambil terus menjilati klitoris dan seputar pangkal paha Ayu. “Aaahh ….
uuhhh… eeehhhsshhh ….. ooooohhhh ….” rintihan Ayu terdengar. Aku masih
meneruskan kulumanku pada puting dan payudara Ayu. Memang amat
mengasyikkan melumat dan menciuminya. Aku tak tahu apakah karena masih
jarang dilumat dan diremas, tetapi bentuk payudaranya benar-benar
cantik.
Rabaan
dan ciumanku semakin turun ke perut Ayu hingga dari bawah tubuhku,
iapun terangsang untuk menciumi perutku. Pusarnya kucium dan kujulurkan
lidah menggelitik. Pinggang dan pinggulnya kuciumi dan kujilati membuat
geliat tubuhnya semakin hebat, terlebih dengan aksi Anna yang semakin
mempercepat jari-jarinya masuk keluar vagina Ayu dan bibir serta lidah
Henny dan Sinta yang turut menciumi dan menjilati sekujur paha, lutut
dan turun ke tumit serta jari-jari kakinya.
Sambil
melakukan isapan dan jilatan, kuarahkan penisku ke mulut Ayu. Ia sempat
memegangi penisku dan hanya mengocok-ngocoknya di samping pipinya.
Tetapi kupaksakan dengan sebelah tangan memegang pangkal penis dan
memasukkan kepala penis perlahan-lahan memasuki mulutnya. “Mmmmppppfff
…. aaakkhh …” desahnya agak menolak, tetapi setelah penisku masuk dan
kuangkat pantatku ke atas seakan-akan ingin mencabut, justru mulutnya
melakukan gerakan mengisap, hingga penisku urung keluar dari mulutnya.
Aku tersenyum karena bujukanku agar ia mengoral penisku berhasil.
Kunaikturunkan pantatku agar penisku dapat masuk keluar mulutnya yang
mungil. Terasa bahwa bibir dan lidahnya belum pandai mengoral, tetapi
aku tak peduli. “Biarlah ia belajar,” pikirku.
Sensasi
luar biasa memenuhi tubuh Ayu, hingga ketika lidah dan bibirku bertemu
dengan lidah dan bibir Anna di klitoris dan vaginanya, ia mengerang dan
merintih sambil menggeliat-geliatkan pinggulnya dengan gerakan tak
beraturan. Kuraba klitorisnya. Indah sekali, saat begini tegang,
kira-kira sebesar biji kacang tanah. Kuingat-ingat klitoris Anna yang
saat tegang cuma sebesar biji kacang hijau, sedangkan Henny, karena
disunat waktu kecil, malah lebih kecil lagi, walaupun setelah diraba dan
diciumi, reaksinya tak kalah hebat dengan klitoris milik Anna.
Sedangkan klitoris Sinta, lebih besar daripada milik Henny, tetapi tak
sebesar milik Anna.
“Tahu
nggak kamu …. klitorismu indah sekali, Ayu sayang!” bisikku sambil
terus menciumi klitoris Ayu. “Betul nggak An?” tanyaku pada Anna. Anna
tidak menjawab, hanya meneruskan tingkahnya menciumi vagina dan
sela-sela paha Ayu.
Sekonyong-konyong Ayu melengkungkan tubuhnya sambil menjerit lirih dengan nada panjang, “Ooooooohhhh ….” Kami
berempat yang tahu ia bakal orgasme, memperhebat serangan kami dengan
lidah, bibir dan jari-jari kami. Vaginanya yang berbau harum kujilati
dan kutusukkan lidahku sekuat-kuatnya ke klitorisnya yang sudah amat
tegang lalu kuisap kuat-kuat. Dari arah berlawanan, lidah Anna masuk
sedalam-dalamnya ke liang vagina Ayu. Penisku yang ada dalam mulut Ayu
terasa amat kuat diisap, bahkan giginya dengan gemas melakukan gigitan
lembut pada batang penisku. Untungnya aku masih bisa menguasai diri
untuk tidak memuntahkan spermaku dalam mulutnya. Cairan vagina Ayu
dengan derasnya mengalir dari dalam vaginanya, bahkan terasa ada yang
muncrat mengenai wajahku dan wajah Anna. Aku agak kaget. Wah, semalam
tidak gini, koq sekarang bisa gini, pikirku. Anna tertawa melihat
wajahku yang bak orang dungu dan masih mengangkang di atas wajah Ayu.
Kugeser tubuhku ke samping tubuh Ayu sambil mengelus-elus payudara dan
putingnya. Ayu mendesah. Di bagian bawah, Henny dan Sinta tidak lagi
menciumi jari-jari kaki, lutut dan paha Ayu, tetapi sudah berpelukan dan
berpagutan mesra sambil meremas-remas. Baju keduanya sudah acak-acakan.
Bahkan Henny sudah hampir telanjang, dengan baju yang sudah tersingkap
dan BH serta celana dalam yang sudah mulai terbuka di sana-sini. Sinta
sendiri sudah tidak mengenakan baju lagi, kecuali BH yang hanya
bertengger di atas payudaranya sebab tali pengaitnya sudah terbuka,
tetapi celana dalamnya masih utuh di balik celana panjangnya yang masih
ia pakai.
Sambil
mengusap-usap wajahku yang terkena semprotan cairan Ayu, ia bilang,
“Gus, Gus, ada juga sainganku sekarang nich, yang bisa nyemprot pipis
sekalian air mani …..”
Usai
berkata demikian, ia gunakan jari-jarinya masuk-keluar dengan cepat ke
liang vagina Ayu. “Mbaaakkk,” rintih Ayu sambil mencoba menahan jari
Anna dengan tangannya, tapi upayanya tak berhasil, sebab Anna terus
memainkan jari-jarinya, “Aaaahhhh ….. sssshh… oooohhhh ….. uuuhhh …..
eeehhhh …. mmmppppffff …. aakhh ….”
Usaha
Anna untuk mengerjai vagina Ayu mendatangkan hasil lanjutan, sebab tak
lama kemudian Ayu mengangkat pinggangnya sambil vaginanya kembali
memuntahkan amunisi yang berikut. Kini wajah Anna yang menutupi vagina
Ayu dan mengisap dan menjilati cairan yang keluar dari dalamnya. Geliat
pinggul dan pantat Ayu terlihat amat erotis. Aku tak habis pikir, wanita
yang tampak begitu lugu dan sopan ini ternyata memiliki potensi seksual
yang hebat. Aku terpana melihat Anna begitu buasnya menghantar Ayu
menggapai puncak kenikmatan. Ayu terengah-engah, keringatnya bercucuran.
Kuambil handuk kecil dan kulap tubuhnya yang telanjang. Ia berusaha
menggapai selimut di kakinya untuk menutupi ketelanjangannya karena rasa
malu. Namun Anna menahan selimut tersebut dan berkata, “Nggak usah,
sayang. Masak tubuhmu yang begini indah tidak boleh kami pandangi?”
Kulihat
wajah Ayu yang agak sawo matang memerah akibat malu. Ia rapatkan
pahanya erat-erat sambil menggunakan kedua telapak tangannya menutupi
kedua payudaranya. Aku hanya tersenyum melihat tubuhnya yang telanjang
bak patung Yunani kuno terbuat dari batu pualam.
Anna
yang melihat barangku masih tegang, dengan cepat meletakkan tubuh di
depanku dengan posisi menungging. Kuarahkan penisku dan kumasuki
vaginanya yang memang sudah basah kuyup. Sambil bertelekan pada kedua
tangannya, mulut Anna mencari-cari payudara Ayu yang masih ia tutupi
dengan kedua telapak tangannya. Anna kembali menciumi dan mengisap
payudara Ayu dan putingnya yang unik. Ayu mencoba menolak, “Mbaakk,
jangan …. aku udah capek … aaahh….” Namun usahanya gagal karena kedua
tangannya dipentang ke kanan kini oleh Henny dan Sinta sambil keduanya
kini ganti menciumi bibir Ayu. Tubuh Ayu kembali menggeliat-geliat
akibat perlakuan ketiga perempuan itu pada bibir dan payudaranya.
Rintihan Ayu berpadu dengan desahan Anna yang kusetubuhi dengan doggy style.
Kupegang kedua belah pantat Anna sambil menghentakkan pantatku
kuat-kuat menghunjamkan penisku ke dalam vaginanya. Melihat geliat
pinggul Anna yang semakin meliuk-liuk, kurapatkan dadaku pada
punggungnya sambil meraih kedua payudaranya yang menggantung.
Kuremas-remas payudara dan putingnya sambil penisku terus masuk keluar
vaginanya. “Gus, Gus ….. aahhh … Gussss ….” rintih Anna.
“Kenapa sayang? Masih kurang kencang?” tanyaku berbisik di telinganya.
“Yah
… yahh … ssshh ….. aaahhhkkk ….. oooggghhh …. lebih kuat sayang, lebih
kencangggg …. oooohhh …. auuuuhhh …. awwwww…..” rintihannya berkembang
menjadi pekikan ketika kutancapkan penisku sedalam-dalamnya hingga
ujungnya terasa menembus hingga rahimnya. “Aaaaawwwww …… aaaahhhh …..”
jerit Anna, dan kurasakan cairan vaginanya membasahi penisku.
“Akkkuuu
juga Mbaaakkk …. Aaahhhhh ….” Erangku sambil berusaha semakin
merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Melihatku hampir orgasme, Henny dan
Sinta buru-buru melepaskan pegangan mereka atas kedua tangan Ayu dan
menolakkan tubuhku serta berebutan mendekatkan wajah mereka ke penisku.
Tangan Sinta berhasil lebih dulu menjangkau penisku. Ia
masuk-keluarkan penisku ke dalam mulutnya sedangkan Sinta menciumi paha
dan testisku. Beberapa saat kemudian spermaku keluar dengan sangat
lincah menyemprot wajah mereka. Keduanya menjilati spermaku sambil
bergantian mengisap dan menjilati sekujur penisku. Ayu yang terbaring di
bawah Anna agak melotot menatap tindakan Sinta dan Henny. Tangannya
berhasil meraih selimut dan menutupkannya ke payudaranya, tetapi pangkal
pahanya luput sehingga masih memperlihatkan belahan vaginanya yang
indah. Ia berusaha untuk bangkit dari posisinya, tetapi tangan Anna
mencegahnya dan membaringkannya kembali. Ayu tak bisa menolak, apalagi
Anna menjepit tubuhnya dengan menggunakan kedua pahanya mengunci pinggul
Ayu. Jari-jari Anna bermain di kening dan wajah Ayu, “Kamu manis
sekali, sayang. Terima kasih sudah menemani kami ya?” Ayu hanya terdiam,
seulas senyum tersungging, tetapi lebih mirip seringai.
“Kamu menyesal karena tidak gadis lagi, sayang?” tanya Anna mendesak sambil mengelus-elus rambut Ayu.
“Nggak
Mbak. Aku cuma belum siap menerima. Semuanya begitu cepat dan aku ….
aku … begitu bodoh ….” bisiknya sambil menggigit bibir dan air matanya
menetes perlahan-lahan dari kelopak matanya yang terpejam.
“Jangan
menyesali semua ini. Cepat atau lambat semua orang akan mengalaminya.
Kamu takut kalau calon suamimu takkan menerima keadaanmu nanti?”
Ayu
tidak menjawab, ia hanya terisak-isak. “Tenang, tenanglah. Cowok
sekarang pun banyak yang nakal. Apa sebanding, kalau kamu masih perawan
dapet suami yang ternyata sudah tidak perjaka lagi?” kata Anna lagi
sambil mengusap-usap wajah Ayu dan mengeringkan air matanya. Lalu
sambungnya lagi, “Kamu sudah punya cowok? Atau malah calon suami?”
Ayu
berbisik sambil menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, “Calonku
sedang studi lanjut ke luar negeri, Mbak. Mmmm …… aku takut, sebab ia
anak pejabat di Denpasar. Aku sebenarnya tidak begitu suka padanya. Aku
dijodohkan oleh kakek dan dorongan orang tua. Sebetulnya tidak suka,
sebab orangnya agak mata keranjang. Tapi gimana lagi ….. kata orang tua,
kasta kami sama derajat dan sudah dijodohkan sebelum kami lahir,”
tuturnya dengan tatapan mengambang.
“Nah,
apa kubilang, kan? Udah deh, aku juga dulu menikah tidak perawan lagi,
tapi suamiku maklum. Yang penting gimana nantinya setelah nikah,”
sambutnya berceramah. “Lalu, kapan kamu menikah dengannya?”
“Kata
orang tuaku tahun depan ia kembali dari luar negeri dan karena akan
menduduki jabatan penting di perusahaan ayahnya, ia harus menikahi
diriku sebelumnya.”
“Jadi, buat apa dong kamu kerja di hotel?” kini Henny ikut nimbrung ingin tahu.
“Yah
itung-itung cari pengalaman, Mbak. Kalau sudah kawin, mana bisa lagi
kenal sama orang banyak, kan? Lagi pula, rasanya rugi, sudah pernah
kuliah di akademi pariwisata. Ini pun karena aku ngotot aja, tadinya
orang tua mau pingit aku sampai calon suamiku kembali dan mengawiniku,”
jawabnya. “Aku pernah dengar dari seorang teman yang pernah kursus
keluar negeri yang kebetulan satu kota dengan calonku, lalu kuminta ia
menyelidiki. Menurutnya, calonku itu suka main perempuan di sana. Aku
sedih juga kalau harus menikah dengan orang seperti itu,” lanjut Ayu.
“Sudahlah
sayang. Kamu jangan murung. Sekarang kamu punya kakak yang bisa jadi
tempatmu mengadu. Kalau kamu mau jalan-jalan ke Jakarta, telepon atau
sms aja, nanti kukirim uang ongkosmu ya?” Anna menghiburnya sambil
mengelus-elus anak rambut di kening Ayu.
Kulihat
wajah Ayu tidak semuram tadi lagi setelah mendengar perkataan Anna. Aku
mendengar dialog mereka sambil mengambil tempat duduk di sebelah Anna
di atas ranjang. Sinta masuk kamar mandi dan terdengar suara air; lama
ia tidak keluar, mungkin berendam di bathtub. Henny duduk di sebelah Ayu sambil ikut mengusap-usap rambutnya.
“Aku permisi dulu, ya Mbak,” kata Ayu sambil berusaha bangun dari tidurnya.
“Lho, mau cepat-cepat ke mana? Kan Ayu off hari ini? Bukankah kemarin sudah janji menemani kami hari ini? Iya, nggak, Ann?” kata Henny sambil meminta tanggapan Anna.
“Ya.
Aku jadi sedih lho. Kalau kamu pulang sekarang, berarti kamu marah
padaku. Lalu apa artinya kamu sudah kuanggap kayak adikku sendiri?”
gumam Anna dengan mimik sedih. “Tapi, terserah Ayu dech, yang jelas, aku
akan merasa kehilangan, kalau kamu pamit sekarang…” Anna menambahkan,
wajahnya tampak memelas, air matanya turun menetes dari kedua matanya.
“Mbak,
Mbak, jangan gitu dong …” sekarang ganti Ayu yang merasa tidak enak. Ia
bangun dan memeluk tubuh Anna dengan tubuhnya yang setengah terbuka
akibat selimut yang tersingkap waktu ia berusaha memeluk badan Anna.
“Aku minta maaf. Oke, aku akan di sini menemani Mbak, tapi ntar malam
aku harus pulang, sebab tidak pamit nginap tadi pada kakakku,” tukasnya
sambil menyunggingkan senyum.
“Nah,
gitu baru adikku. Aku senang sebab sebagai anak bungsu, aku tidak
pernah merasakan bagaimana punya adik. Sekarang ada kamu. Kapan-kapan
kamu datang ke Jakarta kalau liburan, ya Ay?” wajah Anna berseri-seri
dan membalas pelukan Ayu. Aku memakai celana dalam dan duduk di kursi
dekat TV.
Kudengar
suara pintu kamar mandi terbuka, Sinta keluar dengan hanya mengenakan
handuk meliliti tubuhnya sebatas payudara hingga pahanya. Ia kelihatan
begitu muda, seksi dan mempesona.
“Ada apa Gus, liat-liat?” tanyanya sambil tersenyum padaku.
“Wah, serasa melihat bidadari turun dari kahyangan,” kataku memuji.
“Dasar
buaya darat …..” katanya mendekatiku sambil memencet hidungku. Henny
dan Anna tersenyum mendengar kata-kata Sinta. Aku berlagak tidak
menghiraukan Sinta, tetapi ketika ia beranjak akan mengambil bajunya di
kamar mandi, seolah-olah tak sengaja, tanganku menarik ujung handuknya,
hingga terlepas dan terbukalah tubuhnya.
“Gila
Gus, kamu memang nakal ya?” rutuknya dengan wajah cemberut sambil
mendekati aku. “Orang kayak gini harus dikasih pelajaran,” katanya lagi
sambil mencubit putingku. Diserang tanpa persiapan, membuatku gelagapan,
walaupun berusaha menghindar, salah satu putingku berhasil ia cubit.
“Aduuuhh, sakit nih Sin! Kamu jahat deh!” aku pura-pura marah.
“Ya,
ya, aku minta maaf sayang, kuobati deh,” tukasnya berlagak menyesal,
lalu ia dekatkan bibirnya ke putingku yang terkena cubitannya, ia ulas
dengan lidahnya. Aku menggeliat, apalagi saat bibirnya mengulum putingku
dan diisap-isapnya dengan berirama dan sesekali digigitnya lembut. Aku
mengerang, “Mmmmhhhh …. Aaahhh….”
“Kenapa sayang? Sakit ya?” tanyanya sambil membelai-belai dada dan perutku.
“Nggak, terusin dong ….” gumamku merasakan nikmat mulai menjalari tubuhku.
Sinta
kembali menjilati dadaku, turun ke perutku dan jari-jarinya
mengelus-elus penisku dari arah bawah celana dalamku. Lidahnya lama
bermain di pusarku sambil jari-jarinya kini berusaha membuka celana
dalamku dan mencuatlah penisku yang sudah kembali tegang. Lidahnya
menjulur, ujungnya menyentuh lubang pipisku hingga penisku berdenyut
menahan nikmat. Bibirnya tak ketinggalan membasahi batang penisku, lalu
tangan kanannya memegang pangkal penisku dan memasukkan penisku ke dalam
mulutnya. Aku mengerang sambil menikmati ciuman, jilatan dan kulumannya
pada penisku. Mataku memejam, namun sempat kulihat bagaimana Ayu
menatap kami dengan tatapan yang sulit dilukiskan. Tentu sejak semalam
ia sudah tanda tanya, koq Anna bolehkan “suaminya” bersetubuh di depan
matanya sendiri, bahkan Anna yang seakan-akan memprovokasi persetubuhan
itu, dan malah membiarkan keponakannya ikut main. Walaupun berbaring di
antara tubuh Henny dan Anna sambil jari-jari keduanya meraba-raba tubuh
Ayu, tetapi tatapan mata Ayu terus tertuju padaku dan Sinta.
“Kamu
pasti penasaran melihat kami, Ayu sayang?” kudengar ucapan Anna. “Agus
itu adalah teman baikku. Suamiku justru memintanya untuk menemaniku
selama ia keluar negeri. Kami benar-benar saling sayang, walaupun takkan
mungkin saling memiliki. Yah, untungnya kami hanya sebatas berbagi
cinta, sebab bagaimanapun statusku dan suami sudah terikat dalam
perkawinan. Masyarakat belum bisa menerima kenyataan semacam ini,
bukan?”
“Lalu, Mbak Henny ini apanya Mbak Anna?” tanya Ayu sambil menatap wajah Anna.
“Ini
teman baikku yang nasibnya tidak beruntung. Ia hanya jadi istri
simpanan. Untungnya Agus ini mau berbagi kenikmatan, hingga ia tidak
jajan di luaran sana. Kalo nggak, hiiiyyy, bisa-bisa ia kena Aids karena
main ama gigolo,” Anna berkisah. “Sedang Sinta itu, adalah keponakanku
yang ntar lagi jadi sarjana.” Ia berhenti sesaat sambil membelai-belai
rambut Ayu yang tergerai di bahunya dan dadanya. Diusap-usapnya lembut
rambut Ayu yang ada di atas payudaranya sambil merabai putingnya.
“Ssshhhh …. aaaahhh …” Ayu kembali mendesah sambil menyimak penuturan
Anna.
“Kami
sebenarnya adalah manusia-manusia kesepian dan haus cinta. Aku sudah
kawin bertahun-tahun, belum punya anak. Henny juga belum dapat anak.
Sinta masih kuliah dan sempat patah hati karena pacarnya main gila
dengan perempuan lain. Agus belum nikah karena belum dapat pasangan yang
cocok. Makanya kami minta ia menemani kami supaya kami tidak kesepian.”
Jilatan
bibir, lidah dan sedotan mulut dan bibir Sinta semakin kerap dan
berirama memasuk-keluarkan penisku ke dalam rongga mulutnya. Bahkan
kadang-kadang ia masukkan sampai pangkalnya hingga terasa kepala penisku
menyentuh ujung tenggorokannya. Beberapa kali ia tersedak. Air ludahnya
cukup banyak meleleh di sela-sela bibirnya.
“Kamu tidak suka berteman dengan kami setelah semua yang kuceritakan?” tanya Anna sambil menatap dalam-dalam mata Ayu.
Ayu
menunduk, tetapi tangan Anna mengangkat dagunya hingga ia tak kuasa
melawan dan melihat ke wajah Anna. “Jawablah Ayu! Kalau memang kamu
tidak suka, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan, kalau kamu melupakan
kami dan kami tidak perlu mengganggu kamu lagi kalau datang kemari. Kamu
tidak usah terikat janji untuk datang ke rumahku di Jakarta,” tegas
Anna.
“Nggak Mbak. Jangan marah dong! Aku cuma sedih …” jawabnya.
“Kenapa kamu sedih? Karena kegadisanmu hilang oleh perbuatan kami semalam?” desak Anna lagi.
“Aku tak tahu, Mbak. Aku bingung mau berbuat apa …..”
Sementara
itu, penisku semakin kuat diisap oleh Sinta. Bunyi yang khas terdengar
di kamar itu, “Sleeeppp …. ssssleeep …. sssleeepppp ….” Sinta kulihat
semakin ganas mengulum penisku dan dengan suatu gerakan tak terduga ia
berdiri dan meletakkan tubuhnya di atas pangkuanku sambil memegangi
penisku tepat di bawah vaginanya. Maka melesaklah penisku masuk ke dalam
liang vaginanya. Kemudian ia mengatur gerakan tubuhnya naik turun di
atas pangkuanku sambil kedua tangannya memeluk leherku dan bibirnya
mencari-cari bibirku untuk ia ciumi dan jilati. Kubalas ciumannya seraya
meremas-remas payudaranya yang semakin rapat ke dadaku. “Sssshhh …..
Gus, addduhhhh …. nikmatnyaaaaa …. oooohhhhh ……” rintih Sinta
mempercepat laju tubuhnya dan sesekali menggeliatkan pantat dan
pinggulnya agar vaginanya dapat memeras penisku.
Kudengar
Anna kembali berkata, “Sudahlah sayang, yang penting kita jalani hidup
ini seperti air mengalir mengikuti ke mana alam membawanya” Anna
berfilsafat sambil mendekatkan bibirnya mengulum bibir Ayu. Ayu sempat
ingin menolak, tetapi kedua tangan Anna telah memegangi kedua pipinya
sedemikian rupa, sehingga bibirnya tak dapat berkelit dan mandah saja
saat bibir Anna menyentuhnya. Semula bibirnya mengatup, tidak membalas
kuluman bibir Anna, tetapi saat bibir Anna mengisap bibir atas dan bibir
bawahnya bergantian, ia terdorong untuk membalas, apalagi sewaktu lidah
Anna menjejahi tiap inch permukaan bibir dan kembali memasuki rongga
mulutnya. Henny mendekatkan pipinya ke pipi Ayu dan bibirnya juga
melakukan kecupan di sana sini. Menyadari kehadiran Henny, Anna
sekali-sekali memberi kesempatan pada Henny untuk turut mencium bibir
Ayu. Kelopak mata Ayu terpejam saat wajahnya dijelajahi bibir dan lidah
dua orang perempuan itu. Bibirnya yang lebih banyak tertutup dan pasif,
kini lebih banyak membuka seperti orang kehausan, menantikan tindakan
apa yang selanjutnya akan dilakukan mereka terhadap bibirnya.
“Ahhh
….. aaaauuuuhhhh …. oooohhhkkkk …. Guusssss …. sedappppp …. aaaahhhh,
nikmat ……. iiiihhhh ….. hhhhmmmm …. oouuuggghhh ….. penismu kuat betul
sayang!” puji Sinta sambil menekan penisku dalam-dalam memasuki
vaginanya.
“Indah sekali bibirmu, sayang?” celetuk Henny sambil terus mengisap bibir Ayu.
“Mmmmppppffff …. Mbak … aaakkkhhh …. ssshhh …. oookkkhhhh …..” desah Ayu.
Lidah
Anna dan lidah Henny berpautan di atas bibir Ayu dan serempak kedua
lidah itu masuk ke mulut Ayu melakukan gelitikan. Tubuh Ayu agak
bergetar kulihat ketika lidah ketiganya bertemu saling menjilat. Lidah
Henny masih terus bergerak-gerak liar di mulut saat lidah dan bibir Anna
semakin turun menjilati leher dan dada serta perut Ayu. Lagi-lagi Ayu
mendesah, terutama dengan semakin liarnya jilatan Anna pada perut,
pinggul dan sela-sela pahanya. Ia merintih, “Aaaauuhhh ….. ooooohhhh ….
uuhhhh …. ssshhh … eesssttt …….”
Setelah
sekitar sepuluh menit Sinta menunggangi tubuhku, kurasakan liang
vaginanya semakin kuat menyedot penisku. Aku tak ingin cepat-cepat
ejakulasi, sebab ingin memberikan cairan kenikmatanku dinikmati Ayu.
Segera kucabut penisku. Kuangkat kedua belah paha Sinta dan kutaruh
tubuhnya di atas kursi tanpa sandaran dengan kaki dan kepala menjuntai.
Agar ia segera mendaki puncak kenikmatan, kumasukkan jari tengah tangan
kananku ke dalam vaginanya dan melakukan tekanan masuk dan keluar dengan
cepat sambil jari-jari tangan kiri merangsang klitorisnya. Meskipun
Sinta agak protes karena vaginanya tidak mendapatkan cairan spermaku,
tetapi dengan permainan jari-jariku perjalanannya menuju gerbang
kenikmatan telah semakin dekat. Ia mengerang, merintih dan akhirnya
menjerit, “Aaaaahhhhhhh ………… Ggguuuusssssssss ……” tubuhnya bergetar kala
merasakan orgasme, kedua pahanya merapat satu sama lain hingga
jari-jariku terjepit dengan ketatnya dalam rongga vaginanya. Wajahku
dengan cepat turun mendekati pahanya dan lidahku menjilati cairan
vaginanya yang segar. Kuisap klitorisnya sambil bibirku mengisap-isap
rambut kemaluannya mengeringkan setiap tetes cairan kenikmatannya.
Kutengok
ke arah ranjang, Henny kini tidak lagi menguasai bagian atas tubuh Ayu,
tetapi berganti posisi dengan Anna yang kini menciumi payudara Ayu,
sedang Henny kini menjilati klitoris dan vagina Ayu sambil meremas-remas
pinggul Ayu. Ayu merintih dan menggelinjang-gelinjang. Ketiganya
kudekati, aku naik ke atas ranjang. Melihatku mendatangi mereka, Henny
memberikan ruang di dekatnya agar aku turut membantunya mengerjai bagian
bawah tubuh Ayu.
Aku
berlutut menghadap sela-sela paha Ayu. Kupegang penisku pada pangkalnya
dan kutekan-tekan kepala penis pada celah-celah vaginanya dan sesekali
membentur klitorisnya yang kembali tegang. Setelah itu, batang penisku
kuletakkan membentang tepat di antara kedua labia vaginanya dan
kupukul-pukulkan dengan lembut. Merasakan hal itu, Ayu semakin naik
birahi. Tangannya tanpa ia sadari berusaha mencapai klitorisnya dan
mengusap-usapnya lembut. “Aaaahhhhh …… aaauuuuhhhhh ….. ssshhh,
mmmmpppfff …… ssssshhhh ….. aaaahhh ….. oooouugggghhhh …. Massss…..
terusin, aahhhh ….. ooogghhhh…..” rintihnya.
“Apakah
aku menyakitimu, sayang?” bisikku sambil menatap wajah Ayu dan penisku
hanya kuletakkan di celah-celah vaginanya tanpa kugerakkan sama sekali.
“Oooohhh
…. tidak …. ssshshhh …. aaahhh … uuuuhhhh ….. aaahhhhkkk … makks …
maksudku …. terussss …. lagiiii …….. oooouggghhhh ….” rintihnya. Aku
paham, ia tak lama lagi bakal klimaks. Maka kembali penisku kugerakkan.
Kini tidak sekadar mengelus permukaan vaginanya, tetapi mulai
menggesek-gesek liangnya, membuat matanya yang terpejam justru
membeliak-beliak menahan nikmat. “Ahhhhhh …. yaaahhh …. ooohhh!”
“Gus,
kamu sadis, kasihan tuch, udah minta … malah kamu permainkan dia?”
tukas Henny sambil mencubit pinggulku. Aku tersenyum dan membalas
meremas payudara Henny. Penisku yang kini tepat ada di depan lubang
vagina Ayu kumasukkan pelan-pelan tetapi Ayu justru malah mengangkat
pinggulnya menyambut penisku agar masuk lebih dalam. Penisku masuk
hingga sebatas kepalanya, lalu kucabut, kumasukkan lagi lebih dalam
hingga leher penis, kucabut lagi, begitu seterusnya. Setiap hunjaman
semakin dalam daripada yang sebelumnya, tetapi gerakannya masih lamban.
Geliat pinggul Ayu semakin tak beraturan apalagi di atas, Anna terus
mencecar payudara dan putingnya. Kuamati payudaranya sudah memerah di
sana sini, terkena gemasnya ciuman bibir dan lidah Anna. Putingnya
kulihat semakin memanjang dan tegang di bawah kuluman bibir Anna. Sinta
menonton kami bertiga sambil duduk mengangkang di kursi memperlihatkan
belahan vaginanya yang merangsang.
Kuingat
salah satu trik dalam Kitab Kamasutra, kumasukkan penisku sekali, dua
kali, tiga kali, empat kali, lima kali dengan gerakan lamban dan hanya
terbenam setengah batangnya ke vagina Ayu, lalu pada hentakan keenam dan
ketujuh kubenamkan dengan gerakan cepat dan dalam hingga pangkal
penisku tepat menjepit labia Ayu pada pangkal pahanya. Ayu semakin
merintih dan mengerang, “Aaaahhh ….. sssshhh …. aoooohhh …. uuuhhhh
…. sssshhhh …. Ooooggghhhh ….. mmmpppfff …… aaauuuuhhh …..” Pada jurus
ketiga trik tadi, kurasakan penisku semakin hangat oleh siraman air mani
Ayu yang mengguyur semakin deras. Penisku semakin kuat dijepit oleh
dinding vagina Ayu. Denyut-denyut otot-otot vaginanya begitu kencang.
Lidah Henny bermain di seputar perut dan pahanya mencium dan menjilati
hingga Ayu benar-benar terangsang hebat. Kedua tangan Ayu meremas kedua
belah pantatku dan merapatkannya lebih dekat pada tubuhnya. Kurasa tak
lama lagi aku akan orgasme seiring dengan orgasmenya. Kuhentakkan
penisku dengan gerakan semakin cepat, kuingat bagaimana bintang film
dalam Kamasutra melakukan hunjaman maut hingga pasangannya
menjerit-jerit kenikmatan. Kupraktekkan gaya tersebut dengan menarik
kedua kaki Ayu dan menaruhnya pada pundakku hingga penisku benar-benar
mendapat ruang sebebas-bebasnya menusuk vaginanya. Ayu menjerit dengan
suara melengking sambil melepaskan cairan kenikmatannya. Penisku
kurasakan diguyur hebat di dalam vaginanya. Saking penuhnya penisku
ditelan vaginanya, tekanan air seninya bersamaan dengan cairan vaginanya
meleleh keluar dan membasahi sprey ranjang itu. Kuangkat kedua kakinya
dan kukangkangkan ke kanan kiri dengan ditekan pahaku, sehingga penisku
kini benar-benar terbenam dalam-dalam ke vaginanya. Kembali Ayu memekik
akibat hunjamanku yang tidak ia duga-duga, lagi-lagi keluar cairannya,
namun kini bersamaan dengan spermaku. Tubuhku bergetar saat memompakan
spermaku ke dalam vaginanya. Henny dengan gesit menjilati vagina Ayu dan
sesekali lidahnya terjulur ke penisku. Sedang Sinta meremas payudara
Ayu serta mengisap putingnya. Anna memagut bibir Ayu dengan liar tanpa
memberinya kesempatan bernapas. Kupeluk pinggang Ayu sambil melakukan
getaran-getaran kecil dan lembut dengan penisku di dalam vaginanya. Ayu
merintih panjang, “Oooooooohhhhhhh ……………” Aku mempertahankan posisi
tersebut beberapa saat lalu merebahkan diri di samping Ayu sambil
mencium bibirnya.
Henny
masih terlihat bagaikan orang kehausan, ditariknya tangan Sinta ke arah
dadanya. Sinta meremas payudara Henny sambil mencium bibirnya. Anna
yang melihat mereka merasa kasihan pada Henny. Ia bangun dari ranjang
dan entah dari mana, ia ambil sebuah dildo bertali yang ia ikat di
pinggangnya, lalu ia tempatkan dirinya di sela-sela paha Henny yang
dipaksa oleh Sinta menelungkup. Dildo itu ia gesek-gesekkan sebentar di
celah-celah vagina Henny dan tak lama kemudian ia masukkan lebih dalam
dan semakin dalam, membuat Henny merintih-rintih sambil meremas-remas
sprey yang sudah acak-acakan.
Aku
dan Ayu menyingkir agak ke tepi ranjang agar memberikan ruang gerak
yang cukup bagi ketiganya. Kupeluk Ayu yang rebah tiduran pada dadaku
sambil menikmati pemandangan menarik tiga perempuan itu.
Setelah
menancapkan dildonya, Anna menggulirkan tubuh berbaring terlentang
tanpa melepaskan dildo dari vagina Henny. Sinta membantu menempatkan
tubuh Henny yang masih ditancap dildo Anna menelentang di atas tubuh
Anna. Setelah itu, Henny disergap oleh Sinta. Dirabai payudaranya dan
diciumi sambil jari-jarinya bermain merangsang vagina dan klitoris
Henny. Henny mengerang dan mendesah, terutama waktu Sinta turun lagi ke
vaginanya dan membasahi anal Henny dan menarik tubuh Henny agar mencabut
dildo Anna dan memegangi dildo tersebut tepat di liang anal Henny.
Henny semakin merintih saat analnya dimasuki dildo Anna. Ia
menaik-turunkan tubuhnya pelan-pelan di atas perut Anna. Tiba-tiba entah
dari balik bantal, Sinta mengambil dildo yang lain, lalu ia ulas-ulas
di labia Henny dan ia masukkan ke liang vagina Henny. Henny merintih dan
merintih. Kedua belah pahanya dibuka lebar-lebar olehnya. Sinta
mempercepat laju dildo di tangannya masuk keluar vagina Henny. Tak
berapa lama, Henny menjerit dan mencapai orgasme. “Aaaauuwwww ….. nikmat
amat sihhhhh …. ooohhhhhh …… sssshhh ……” Kini lega hatiku telah
memberikan kepuasan pada ketiga perempuan itu.
Tak
terasa gelap mulai membayang. Kami bertiga terbaring kelelahan, apalagi
aku yang habis-habisan menyemprotkan sperma. Aku tak sempat lagi mandi,
sebab Anna dan Sinta kembali memintaku melayani mereka. Tante dan
keponakan itu benar-benar buas mengerjaiku, bahkan Anna begitu getol
memintaku menyodominya dengan doggy style dan memberikan punggungnya bagi keponakannya menelentang dan memberikan vaginanya kujilati.
Henny
sudah kelelahan, walaupun tak menolak waktu kusetubuhi lagi dengan
menaruh setengah tubuhnya di atas ranjang sedangkan kakinya berjuntai ke
lantai hingga penisku melesak sedalam-dalamnya ke vaginanya. Usai
melayani mereka, aku mendekati Ayu. Kupangku tubuhnya dan kupeluk serta
kucium bibirnya, kataku “Kamu benar-benar luar biasa, sayang!”
“Ah,
bohong! Kamu yang hebat, bisa bikin empat wanita menjerit-jerit!”
elaknya. Aku tersenyum dan mencium bibirnya lagi. “Kapan-kapan, kalau
aku kemari, kamu harus temani aku ya?” pintaku.
“Nggak janji ya? Liat nanti deh!” jawabnya.
Malam
itu, kami tak keluar untuk makan, kami menelepon pelayan agar mengirim
pesanan makanan kami ke kamar. Agar pelayan yang notabene adalah teman
Ayu tidak curiga melihat Ayu ada di kamar bersama-sama kami, ia kami
sembunyikan di kamar mandi sewaktu kiriman makanan datang. Kami berlima
makan dengan hanya mengenakan pakaian minim. Usai makan, kami tidak lagi
bersetubuh, tapi hanya saling berciuman dan berpelukan. Ayu pamit pada
kami tepat pukul 22, sebab ia tak berani menginap. Sedangkan Sinta dan
Henny kembali ke kamar mereka. Anna dan aku tinggal di kamar dan tidur
hingga matahari naik cukup tinggi. Karena flight kami sore,
kami tak perlu khawatir ketinggalan pesawat. Kami berkemas-kemas setelah
sarapan dan diantar mobil hotel menuju bandara. Tak kulihat Ayu masuk
kerja hari itu. Tetapi saat menunggu boarding, HP-ku berdering,
kulihat ada smsnya masuk, “Mas Agus, aku tidak ngantar ya. Sedih
rasanya berpisah, apalagi dengan kamu, orang yang memberiku kenangan
indah, sebab kamulah suamiku sebenarnya. Selamat jalan kasih. Kenanglah
aku, sayang!” Wah, romantis juga kalimatnya. Kubalas dengan tak kalah
mesra, “Dindaku, maafkan aku yang telah menodai dirimu. Cintamu akan
selalu kukenang. Berikan daku kesempatan untuk mengenangmu lagi suatu
waktu nanti. Cium mesraku untukmu seorang!”
Pernah
aku berdinas ke Kupang, tetapi pulangnya kusempatkan singgah dan
menginap di Bali sambil menelepon ke Jakarta dengan alasan kehabisan
tiket pesawat, hingga terpaksa tak masuk esok harinya. Maklum hari
kejepit, jumat, tanggung pikirku. Kuhabiskan bermalam di suatu hotel
sejak jumat hingga minggu; tak berani menginap di hotel tempat Ayu
bekerja agar tidak kepergok teman-temannya. Tapi kutelepon Ayu agar
menemaniku tidur malam jumat, sedangkan esoknya ia masuk kerja. Dan
untungnya, ia tidak bertugas hari sabtunya, sehingga kami berdua memadu
cinta sepanjang hari tanpa terganggu oleh apapun. Minggu siangnya barulah aku kembali ke Jakarta.
Setelah
itu, Ayu pernah ke Jakarta menemuiku, tetapi pada orang tua dan
kakaknya ia katakan berlibur di rumah Mbak Anna, agar mereka tidak
menaruh curiga. Dua malam ia menginap denganku di suatu hotel di Puncak.
Setelah itu barulah kuajak ia bermalam di rumah Anna. Anna sangat
cemburu sewaktu tahu bahwa Ayu sudah datang dua hari sebelumnya dan
menghabiskan dua malam di Puncak denganku. Namun ia maklum, sebab ia
sadar bahwa diam-diam Ayu sangat mencintai aku, tetapi tak mungkin
bersatu denganku karena sudah dijodohkan dengan anak pejabat di Bali.
Ayu mula-mula risih waktu Anna memohon dirinya bersedia melayani Dicky,
tetapi karena desakanku, akhirnya ia mau, meskipun kemudian ia mengakui
bahwa amat sungkan main dengan Dicky, sebab ia amat menyukai diriku.
Untungnya Dicky tidak marah dan maklum. Malah mereka mendesak kami agar
kawin lari, tetapi Ayu takut akan karma, sehingga memilih untuk
menikah dengan pria yang tak dicintainya demi orangtuanya. Itulah
kebersamaanku yang terakhir dengan Anna dan Dicky, sebab tak lama
sesudahnya Anna hamil oleh benih dariku. Aku pun makin jarang bertemu
mereka, apalagi setelah Anna melahirkan. Ada perasaan rindu melihat
bagaimanakah rupa anakku yang dilahirkan Anna, tetapi waktu mengingat
segala dosa-dosaku, rasanya tak mampu melihat dunia ini.
Henny
kudengar ditinggal mati oleh suami gelapnya yang telah membelikan rumah
dan harta baginya. Suami gelapnya terlibat korupsi dan ketika akan
diadili, meninggal kena serangan jantung sebelum kasusnya sempat
diperiksa. Walhasil, Henny tidak tersentuh. Pernah ia meneleponku agar
bertemu. Ia memohon agar aku menikahinya, tetapi kukatakan kalau di
hatiku tak ada cintaku padanya, sebab saat itu aku sering membayangkan
Ayu. Henny akhirnya tak mendesakku lagi, walaupun agak terpukul, ia mau
menerima kenyataan. Namun ia memintaku memberikan kenangan terindah
baginya tepat tiga minggu sebelum pernikahannya. Kami mengadakan rendezvous di
suatu hotel mewah atas biayanya. Kami menginap dan bercinta selama dua
hari dua malam di hotel itu. Aku sayang pada Henny, tetapi tak mampu
membalas cintanya. Daripada kelak hidupnya merana, hampa tanpa cintaku
dan hanya memiliki tubuhku tanpa cinta, kujelaskan padanya itulah hal
terbaik bagi kami. Menurut penuturannya, setelah menikah dengan seorang
guru teman sekolahnya dulu, ia membantu ekonomi keluarganya dengan
membuat peternakan dan memajukan pertanian di kampungnya. Setelah
menikah, ia pernah meneleponku dari kampungnya memberitahukan tentang
pesta pernikahannya. Anna, suaminya Dicky dan putri mereka (anakku
tentunya), serta Sinta hadir waktu itu. Namun yang membuatku
terperanjat, ia berbisik di telepon mengatakan bahwa sebelum menikah ia
sudah telat menstruasi. “Ini pasti anakmu, Gus, sama seperti Anna. Tapi
aku puas, sebab walaupun tak bisa memiliki dirimu, ada bagian dirimu
yang selalu hadir dalam hidupku,” tuturnya. Dari suaminya, ia
mendapatkan dua orang anak. Anna sendiri, hanya sekali itu hamil, sebab
seperti kata dokter, Dicky tak bisa membuahi rahim Anna. Untungnya tak
ada keluarga mereka yang tahu hal itu, sehingga rahasia itu tetap
tersimpan rapi.
“Ah,
ternyata Tuhan menderaku dengan cara-Nya,” batinku. Entah mensyukuri
atau mengutuki diri sendiri, aku kadang-kadang termenung memikirkan
anak-anakku yang hadir dalam rumah tangga Anna dan Henny. “Maafkan ayah
kalian ini, nak!” Bagaimana kelak tanggung jawabku di hadapan Yang Maha
Kuasa?
