- Home »
- Ayah Tiri ku Yang Bejat !
On Kamis, 27 Maret 2014
Ayahku sudah sekitar 3 tahun meninggal
dunia, meninggalkan ibu dan anak-anak, aku dan adikku Charles yang masih
kecil. Kini Charles sudah duduk di kelas 8 SD sedang aku sudah tamat
SMU, mulai kuliah di Akademi Pariwisata dan Perhotelan. Meski mendapat
dana pensiun tetapi amat kecil jumlahnya. Maklum, ayahku hanya pegawai
kecil di Pemda KMS. Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolahku dan
Charles, ibuku terpaksa membuka toko jamu di samping rumah. Lumayan,
sebab selain jualan jamu ibu juga menjual rokok, permen, alat-alat
tulis, pakaian anak-anak dan sebagainya. Tentu saja, aku membantu ibu
dengan sekuat tenaga. Siapa lagi yang bisa membantu beliau selain aku?
Charles
masih terlalu kecil untuk bisa membantu dan mengerti tentang kesulitan
hidup. Meski usia ibu sudah berkepala empat tetapi masih cantik dan
bentuk tubuhnya masih bahenol dan menarik. Maklum ibu memang suka
memelihara tubuhnya dengan jamu Jawa. Selain itu, sejak muda ibu memang
cantik. Ibuku blasteran, ayahnya belanda dan Ibu Sunda. Ayahku sendiri
dari suku Ambon tetapi kelahiran Banyumas. Ia lebih Jawa ketimbang
Ambon, meski namanya Ambon. Selama hidup sampai meninggal ayah bahkan
belum pernah melihat Ambon.
Ayah
meninggal karena kecelakaan bus ketika bertugas di Jakarta. Bus yang
ditumpanginya ngebut dan nabrak truk tangki yang memuat bahan bakar
bensin. Truk dan bus sama-sama terbakar dan tak ada seorang penumpangpun
yang selamat termasuk ayahku.
Sejak
itu, ibuku menjanda sampai tiga tahun lamanya. Baru setahun yang lalu
diam-diam ibu pacaran dengan duda tanpa anak, teman sekantor ayahku
dulu. Namanya Sutoyo, usianya sama dengan ibuku, 42 tahun. Sebenarnya
aku sudah curiga, sebab Pak Toyo (aku memanggil-nya “Pak” karena teman
ayahku) yang rumahnya jauh sering datang minum jamu dan ngobrol dengan
ibuku. Lama-lama mereka jadi akrab dan lebih banyak ngobrolnya daripada
minum jamu. Kecurigaanku terbukti ketika pada suatu hari. ibu
memanggilku dan diajaknya bicara secara khusus.
“Begini Cyn”, kata ibu waktu itu.
“Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.”
“Begini Cyn”, kata ibu waktu itu.
“Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.”
Aku
langsung bisa menebak apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. Aku
sudah cukup dewasa untuk mengetahui betapa sepinya ibu ditinggal ayah.
Ibu masih muda dan cantik, tentunya ia butuh seseorang untuk
mendampinginya, melanjutkan kehidupan. Aku sadar sebab aku juga wanita
meski belum pernah menikah.
“Ibu tak
bisa terus menerus hidup sendiri. Ibu butuh seseorang untuk mendampingi
ibu dan merawat kalian berdua, kamu dan adikmu masih butuh perlindungan,
masih butuh kasih sayang dan tentu saja butuh biaya untuk melanjutkan
studi, kalian demi ibu sudi menikah kembali dengan Pak Toyo dengan
harapan masa depan kalian lebih terjamin.
Kamu mengerti?” begitu kata ibu.
“Ibu mau menikah dengan Pak Toyo?” aku langsung saja memotongnya.
“Tidak apa-apa kok Bu, Pak Toyo kan orang baik, duda lagi. Apalagi dia kan bekas teman ayah dulu!”.
“Rupanya kamu sudah cukup dewasa untuk bisa membaca segala sesuatu yang terjadi sekelilingmu, Cyn”, ibu tersenyum. “Kamu benar-benar mirip ayahmu.”
Kamu mengerti?” begitu kata ibu.
“Ibu mau menikah dengan Pak Toyo?” aku langsung saja memotongnya.
“Tidak apa-apa kok Bu, Pak Toyo kan orang baik, duda lagi. Apalagi dia kan bekas teman ayah dulu!”.
“Rupanya kamu sudah cukup dewasa untuk bisa membaca segala sesuatu yang terjadi sekelilingmu, Cyn”, ibu tersenyum. “Kamu benar-benar mirip ayahmu.”
Tak
berapa lama kemudian ibu menikah dengan Pak Toyo dengan sangat
sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Sesudah itu ibu
diboyong ke rumah Pak Toyo, dan rumah kami, kios dan segala isinya
menjadi tanggung jawabku. Ibu datang pagi hari setelah kios aku buka dan
pulang sore hari dijemput Pak Toyo sepulangnya dari kantor.
Kehidupan
kami bahagia dan biasa-biasa saja sampai pada suatu hari, sekitar empat
bulan setelah ibu menikah, suatu tragedi di rumah tangga terjadi tanpa
setahu ibuku. Aku memang sengaja diam dan tidak membicarakan peristiwa
itu kepada ibuku, aku tidak ingin melukai perasaannya. Aku terlalu
sayang pada ibu dan biarlah kutanggung sendiri.
Kejadian
itu bermula ketika aku sedang berada di rumah ibuku (rumah Pak Toyo)
mengambil beberapa barang dagangan atas suruhan ibu. Hal tersebut biasa
kulakukan apabila aku sedang tidak kuliah. Bahkan aku juga sering tidur
di rumah ibuku bersama adik. Tak jarang sehari penuh aku berada di rumah
ibu saat ibu berada di rumah kami menjaga kios jamu.
Kadangkala
aku memang butuh ketenangan belajar ketika sedang menghadapi ujian
semester. Rumah ibu Sepi di siang hari sebab Pak Toyo bekerja dan ibu
menjaga kios, sementara di rumah itu tidak ada pembantu. Siang itu ibu
menyuruhku mengambil beberapa barang di rumah Pak Toyo karena persediaan
di kios habis. Ibu memberiku kunci agar aku bisa masuk rumah dengan
leluasa. Tetapi ketika aku datang ternyata rumah tidak dikunci sebab Pak
Toyo ada di rumah. Aku sedikit heran, kenapa Pak Toyo pulang kantor
begitu awal, apakah sakit?
“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyaku dengan sedikit heran. “Sakit ya Pak?”.
“Ah tidak”, jawab Pak Toyo.” Ada beberapa surat ketinggalan. kamu sendiri kenapa kemari? Disuruh ibumu ya?”.
“Iya Pak, ambil beberapa barang dagangan”, jawabku biasa-biasa saja. Seperti biasa aku terus saja nyelonong masuk ke ruang dalam untuk mengambil barang yang kuperlukan.
“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyaku dengan sedikit heran. “Sakit ya Pak?”.
“Ah tidak”, jawab Pak Toyo.” Ada beberapa surat ketinggalan. kamu sendiri kenapa kemari? Disuruh ibumu ya?”.
“Iya Pak, ambil beberapa barang dagangan”, jawabku biasa-biasa saja. Seperti biasa aku terus saja nyelonong masuk ke ruang dalam untuk mengambil barang yang kuperlukan.
Tak kusangka,
Pak Toyo mengikutiku dari belakang. Ketika aku sudah mengambil barang
dan hendak berbalik, Pak Toyo berdiri begitu dekat dengan diriku
sehingga hampir saja kami bertubrukan. Aku kaget dan lebih kaget lagi
ketika tiba-tiba Pak Toyo memeluk pinggangku. Belum sempat aku protes,
Pak Toyo sudah mencium bibirku, dengan lekatnya.
Barang
dagangan terjatuh dari tanganku ketika aku berusaha mendorong tubuh Pak
Toyo agar melepaskan tubuhku yang dipeluknya erat sekali. Tetapi
ternyata Pak Toyo sudah kerasukan setan jahanam. Ia sama sekali tak
menghiraukan doronganku dan bahkan semakin mempererat pelukannya. Aku
tak berhasil melepaskan diri. Pak Toyo menekan tubuhku dengan tubuhnya
yang besar dan berat. Aku mau berteriak tetapi tiba-tiba tangan kanan
Pak Toyo menutup mulutku.
“Kalau kamu berteriak, semua tetangga akan berdatangan dan ibumu akan sangat malu”, katanya dengan suara serak.
Nafasnya terengah-engah menahan nafsu. “Berteriaklah agar kita semua malu!”
“Kalau kamu berteriak, semua tetangga akan berdatangan dan ibumu akan sangat malu”, katanya dengan suara serak.
Nafasnya terengah-engah menahan nafsu. “Berteriaklah agar kita semua malu!”
Aku
jadi ketakutan dan tak berani berteriak. Rasa takut dan kasihan kepada
ibu membuat aku luluh. Pikirku, bagaimana kalau sampai orang lain tahu
apa yang sedang terjadi dan apa yang diperbuat suami ibuku terhadapku.
Belum
lagi aku jernih berpikir Pak Toyo menyeretku masuk ke kamar tidur dan
mendorongku sampai jatuh telentang di tempat tidur. Dengan garangnya Pak
Toyo menindih tubuhku dan menciumi wajahku. Sementara tangannya yang
kanan tetap mendekap mulutku, tangan kirinya mengambil sesuatu dari
dalam saku celananya. Benda kecil licin segera dipaksakan masuk ke dalam
mulutku. Benda kecil yang ternyata kapsul lunak itu pecah di dalam
mulut dan terpaksa tertelan. Setelah menelan kapsul itu mataku jadi
berkunang-kunang, kepalaku jadi berat sekali dan anehnya, gairah seksku
timbul secara tiba-tiba. Jantungku berdebar keras sekali dan aliran
darahku terasa amat cepat. Entah bagaimana, aku pasrah saja dan bahkan
begitu mendambakan sentuhan seorang lelaki. Gairah itu begitu memuncak
dan menggebu-gebu itu datang secara tiba-tiba menyerang seluruh tubuhku.
Samar-samar
kulihat wajah Pak Toyo menyeringai di atasku. Perlahan-lahan ia bangkit
dan melepaskan seluruh pakaianku. Kemudian ia membuka pakaiannya
sendiri. Aku tak bisa menolak. Diriku seperti terbang di awang-awang dan
meski tahu apa yang sedang terjadi, tetapi sama sekali tak ada niat
untuk melawan.
Begitu juga ketika Pak
Toyo yang sudah tak berpakaian menindih tubuhku dan menggerayangi
seluruh badanku, aku pasrah saja. Bahkan ketika aku merasakan suatu
benda asing memasuki tubuhku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa
untuk menolak, karena aku merasakan kenikmatan luar biasa dari benda
asing yang mulai menembus dan bergerak-gerak di dalam liang
kewanitaanku. Kesadaranku entah berada di mana. Hanya saja aku tahu, apa
yang sedang terjadi pada diriku, Aku telah diperkosa Pak Toyo!
Ketika
siuman, kudapati diriku telentang di ranjang Pak Toyo (yang juga
ranjang ibuku) tanpa busana. Pakaianku berserakan di bawah ranjang.
Sprei morat-marit dan kulihat bercak darah di sprel itu. Aku menangis…,
aku sudah tidak perawan lagi! Aku sudah kehi1angan apa yang paling
bernilai dalam hidup seorang wanita. Aku merasa jijik dan kotor. Aku
bangkit dan bagian bawah tubuhku terasa sakit sekali…, nyeri! Tetapi aku
tetap berusaha bangkit dan dengan tertatih-tatih berjalan ke kamar
mandi. Kulihat jam dinding, Wah…, Sudah tiga jam aku berada di rumah
itu. Aku harus segera pulang agar ibu tidak menunggu-nunggu. Aku segera
mandi dan membersihkan diri serta berdandan dengan cepat.
Kuambil
barang dagangan yang tercecer di lantai dan segera pulang. Pak Toyo
sudah tidak kelihatan lagi, mungkin sudah kembali ke kantor. Kubiarkan
ranjang morat-marit dan sprei berdarah itu tetap berada di sana. Aku tak
peduli. Hatiku sungguh hancur lebur. Kebencianku kepada Pak Toyo begitu
dalam. Pada suatu saat, aku akan membalasnya.
“Kok lama sekali?” tanya ibu ketika aku datang.
“Bannya kempes Bu, nambal dulu!” jawabku sambil mencoba menutupi perubahan wajahku yang tentu saja pucat dan malu. Kuletakkan barang dagangan di meja dan rasanya ingin sekali aku memeluk ibu dan memohon maaf serta menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku.
“Kok lama sekali?” tanya ibu ketika aku datang.
“Bannya kempes Bu, nambal dulu!” jawabku sambil mencoba menutupi perubahan wajahku yang tentu saja pucat dan malu. Kuletakkan barang dagangan di meja dan rasanya ingin sekali aku memeluk ibu dan memohon maaf serta menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku.
Tetapi
hati kecilku melarang. Aku tak ingin membuat ibu sedih dan kecewa. Aku
tak ingin ibuku kehilangan kebahagiaan yang baru saja didapatnya. Aku
tak kuasa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ibu bila mengetahui apa
yang telah dilakukan suaminya kepadaku. Biarlah Untuk sementara kusimpan
sendiri kepedihan hati ini.
Dengan
alasan hendak ke rumah teman, aku mandi dan membersihkan diriku (lagi).
Di kamar mandi aku menangis sendiri, menggosok seluruh tubuhku dengan
sabun berkali-kali. Jijik rasanya aku terhadap tubuhku sendiri. Begitu
keluar dan kamar mandi aku langsung dandan dan pamit untuk ke rumah
teman. Padahal aku tidak ke rumah siapa-siapa. Aku larikan motorku
keluar kota dan memarkirnya di tambak yang sepi. Aku duduk menyepi
sendiri di sana sambil menguras air mataku.
“Ya Tuhan, ampunilah segala dosa-dosaku” ratapku seorang diri.
“Ya Tuhan, ampunilah segala dosa-dosaku” ratapku seorang diri.
Baru
sore menjelang magrib aku pulang. Ibu sudah dijemput Pak Toyo pulang ke
rumahnya sehingga aku tak perlu bertemu dengan lelaki bejat itu. Kios
masih buka dan adik yang menjaganya. Ketika aku pulang, aku yang
menggantikan menjaga kios dan adik masuk untuk belajar.
Untuk
beberapa hari lamanya aku sengaja tidak ingin bertemu Pak Toyo. Malu,
benci dan takut bercampur aduk dalam hatiku. Aku sengaja menyibukkan
diri di belakang apabila pagi-pagi Pak Toyo datang mengantar ibu ke
kios. Sorenya aku sengaja pergi dengan berbagai alasan saat Pak Toyo
menjemput ibu pulang.
Namun meski aku
sudah berusaha untuk terus menghindar, peristiwa itu toh terulang lagi.
Peristiwa kedua itu sengaja diciptakan Pak Toyo dengan akal liciknya.
Ketika sore hari menjemput ibu, Pak Toyo mengatakan bahwa ia baru saja
membeli sebuah sepeda kecil untuk adikku, Charles. Sepeda itu ada di
rumah Pak Toyo dan adik harus diambil nya sendiri.
Tentu
saja adikku amat gembira dan ketika Pak Toyo menyarankan agar adik
tidur di rumahnya, adik setuju dan bahkan ibu dengan senang hati
mendorongnya. Bertiga mereka naik mobil dinas Pak Toyo pulang ke rumah
mereka. Karena tidak ada orang lain di rumah, sebelum Pukul sembilan
kios sudah kututup.
Rupanya, setelah
sampai di rumah dan menyerahkan sepeda kecil kepada adik, Pak Toyo
beralasan harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus
diselesaikannya malam itu juga. Ibu tidak curiga dan sama sekali tidak
mengira kelau kepergian suaminya sebenarnya tidak ke kantor, melainkan
kembali ke kios untuk nemperkosaku.
Waktu
itu sudah pukul sepuluh malam dan kios sudah lama aku tutup. Tiba-tiba
saja Pak Toyo sudah ada di dalam rumah. Rupanya Ia punya kunci milik ibu
sehinga ia bisa bebas keluar masuk rumah kami. Aku amat kaget dan ingin
mendampratnya, tetapi kembali dengan tenang dan wajah menyeringai, Pak
Toyo mengancamku “Ayo, berteriaklah agar semua tetangga datang dan tahu
apa yang sudah aku lakukan terhadapmu!” ancamnya serius. “Ayo
berteriaklah agar ibumu malu dan seluruh keluargamu tercoreng!”
tambahnya dengan suara serak.
Sekali
lagi aku terperangah. Mulutku sudah mau berteriak tetapi kata-kata Pak
Toyo sekali mengusik hatiku. Perasaan takut akan terdengar tetangga,
ketakutan nama ibuku akan menjadi tercoreng, kecemasan bahwa tetangga
akan mengetahui peristiwa perkosaanku, aku hanya berdiri terpaku
memandang wajah penuh nafsu yang siap menerkamku. Aku tak bisa berpikir
jernih tagi. Hanya perasaan takut dan takut yang terus mendesak
naluriku.
Sebelum aku mampu mengambil
keputusan apa yang akan kulakukan, Pak Toyo sudah maju dan mendekap
tubuhku. Sekali lagi aku ingin berteriak tetapi suaraku tersendat di
tenggorokan. Entah bagaimana awalnya namun yang aku tahu lelaki itu
sudah menindih tubuhku dengan tanpa busana. Yang jelas, malam itu aku
terpaksa melayani nafsu suami ibuku yang menggebu-gebu.
Dengan
ganas ayah tiriku itu memperlakukan aku seperti pelacur. Ia
memperkosaku berkali-kali tanpa belas kasihan. Dengus nafasnya yang
berat dan tubuhnya yang menindih tubuhku apalagi ketika ada sesuatu
benda keras mulai masuk menyeruak membelah bagian sensitif dan paling
terhormat bagi kewanitaanku membuat aku merintih kesakitan. Aku
benar-benar dijadikannya pemuas nafsu yang benar-benar tak berdaya.
Pak-Toyo
kuat sekali. Ia memaksaku berbalik kesana kemari berganti posisi
berkali-kali dan aku terpaksa menurut saja. Hampir dua jam Pak Toyo
menjadikan tubuhku sebagai bulan-bulanan nafsu seksnya. Bukan main!
Begitu ia akan selesai kulihat Pak Toyo mencabut batangannya dari
kemaluanku dengan gerakan cepat ia mengocok-ngocokkan batangannya yang
keras itu dengan sebelah tangannya dan dalam hitungan beberapa detik
kulihat cairan putih kental menyemprot dengan banyak dan derasnya keluar
dari batang kejantanannya, cairan putih kental itu dengan hangatnya
menyemprot membasahi wajah dan tubuhku, ada rasa jijik di hatiku selain
kurasakan amis dan asin yang kurasakan saat cairan itu meleleh menuju
bibirku, setelah itu ia lunglai dan terkapar di samping tubuhku, tubuhku
sendiri bagai hancur dan tak bertenaga.
Seluruh
tubuhku terasa amat sakit, dan air mata bercucunan di pipiku. Namun
terus terang saja, aku juga mencapai orgasme. Sesuatu yang belum pernah
kualami sebelumnya. Entah apa yang membuat ada sedikit perasaan senang
di dalam hatiku. Rasa puas dan kenikmatan yang sama sekali tak bisa aku
pahami. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tetapi kadangkala
aku justru rindu dengan perlakuan Pak Toyo terhadapku itu. Aku sudah
berusaha berkali-kali menepis perasaan itu, tetapi selalu saja muncul di
benakku. Bahkan kadangkala aku menginginkan lagi dan lagi! Gila bukan?
Dan
memang, ketika pada suatu sore ibu sedang pergi ke luar kota dan Pak
Toyo mandatangiku lagi, aku tak menolaknya. Ketika ia sudah berada di
atas tubuhku yang telanjang, aku justru menikmati dan mengimbanginya
dengan penuh semangat. Rupanya apa yang dilakukan Pak Toyo terhadapku
telah menjadi semacam candu yang membuatku menjadi kecanduan dan
ketagihan. Aku kini mulai menikmati seluruh permainan dan gairah yang
luar biasa yang tak bisa kuceritakan saat ini dengan kata-kata.
Pak
Toyo begitu bergairah dan menikmati seluruh lekuk-lekuk tubuhku dengan
liarnya, akupun mulai berani mencoba untuk merasakan bagian-bagian tubuh
seorang lelaki, akupun kini mulai berani untuk balas mencumbui,
membelai seluruh bagian tubuhnya dan mulai berani untuk menjamah batang
kejantanan ayah tiriku ini, begitu keras, panjang dan hangat. Aku
menikmati dengan sungguh-sungguh, Luar Biasa!
Pada
akhir permainan Pak Toyo terlihat amat puas dan begitu juga aku. Namun
karena malu, aku tak berkata apa-apa ketika Pak Toyo meninggalkan
kamarku. Aku sengaja diam saja, agar tak menunjukkan bahwa aku juga puas
dengan permainan itu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang wanita yeng
masih punya rasa malu. Akan tetapi, ketika Pak Toyo sudah pergi ada rasa
sesal di dalam hati. Ada perasaan malu dan takut. Bagaimanapun Pak Toyo
adalah suami ibuku. Pak Toyo telah menikahi ibuku secara sah sehingga
ia menjadi ayah tiriku, pengganti ayah kandungku.
Adalah
dosa besar melakukan hubungan tak senonoh antara anak dan ayah tiri.
Haruskah kulanjutkan pertemuan dan hubungan penuh nafsu dan maksiat ini?
Di
saat-saat sepi sediri aku termenung dan memutuskan untuk menjauh dan
Pak Toyo, serta tidak melakukan hubungan gelap itu lagi. Namun di
saat-saat ada kesempatan dan Pak Toyo mendatangiku serta mengajak
“bermain” aku tak pernah kuasa menolaknya. Bahkan kadangkala bila dua
atau tiga hari saja Pak Toyo tidak datang menjengukku, aku merasa kangen
dan ingin sekali merasakan jamahan-jamahan hangat darinya.
Perasaan
itulah yang kemudian membuat aku semakin tersesat dan semakin
tergila-gila oleh “permainan” Pak Toyo yang luar biasa hebat. Dengan
penuh kesadaran akhirnya aku menjadi wanita simpanan Pak Toyo di luar
pengetahuan ibuku.
Sampai sekarang
rahasia kami masih tertutup rapat dan pertemuan kami sudah tidak terjadi
di rumah lagi, tetapi lebih banyak di losmen, hotel-hotel kecil dan di
tempat-tempat peristirahatan. Yah, disana aku dan Pak Toyo bisa bermain
cinta dengan penuh rasa sensasi yang tinggi dan tidak kuatir akan
kepergok oleh ibuku, kini aku dan ayah tiriku sudah seperti menjadi
suami istri.
Untuk mencegah hal-hal
yang sangat mungkin terjadi, dalam melakukan hubungan seks Pak Toyo
selalu memakai kondom dan aku pun rajin minum jamu terlambat bulan.
Semua itu tentu saja di luar sepengetahuan ibu. Aku memang puas dan
bahagia dalam soal pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi sebenarnya jauh
di dalam lubuk hati-aku sungguh terguncang. Bagaimana tidak? Aku telah
merebut suami ibuku sendiri dan ‘memakannya’ secara bergantian.
Kadangkala
aku juga merasa kasihan kepada ibu yang sangat mencintaiku. Kalau saja
sampai ibu tahu hubungan gelapku dengan Pak Toyo, Ibu pasti akan sedih
sekali. Hatinya bakal hancur dan jiwanya tercabik-cabik. Bagaimana
mungkin anak yang amat disayanginya bisa tidur dengan suaminya? Sampai
kapan aku akan menjalani hidup yang tak senonoh dan penuh dengan maksiat
ini?
Entahlah, sekarang ini aku
masih kuliah. Mungkin bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana aku bisa
keluar dan lingkugan rumah dan bekerja di kota lain. Saat ini mungkin
aku belum punya kekuatan untuk pergi, tetapi suatu saat nanti aku pasti
akan pergi jauh dan mencari lelaki yang benar-benar sesuai dan dapat
kuandalkan sebagai suami yang baik, dan tentunya kuharapkan lebih
perkasa dari yang kudapatkan dan kurasakan sekarang.Mungkin dengan cara itu aku bisa melupakan Pak Toyo dan melupakan peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

KISAH NYATA..............
Ass.Saya IBU SERI HASTUTI.Dari Kota Surabaya Ingin Berbagi Cerita
dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
internet dan menemukan nomor Ki Dimas,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi solusi,
awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Dimas alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
Dimas Taat Pribadi di nmr 081340887779 Kiyai Dimas Taat Peribadi,ini nyata demi Allah kalau saya bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.
KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!
((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))
Pesugihan Instant 10 MILYAR
Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :
Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
dll
Syarat :
Usia Minimal 21 Tahun
Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda
Proses :
Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
Harus siap mental lahir dan batin
Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
Pada malam hari tidak boleh tidur
Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :
Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
Ayam cemani : 2jt
Minyak Songolangit : 2jt
bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt
Prosedur Daftar Ritual ini :
Kirim Foto anda
Kirim Data sesuai KTP
Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR
Kirim ke nomor ini : 081340887779
SMS Anda akan Kami balas secepatnya
Maaf Program ini TERBATAS .